Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 24 Ketakutan


__ADS_3

Entah apa yang harus aku ucapkan kepada laki-laki bermata sipit itu. Lagi-lagi dia menolongku ketika aku berada di situasi yang begitu rumit. Di mana dia datang tiba-tiba dan membuatku sangat terkejut.


Hingga situasi yang begitu panas kembali seperti semula ketika keluarga mas Vandu pergi dengan keputusan awalku. Kalau aku tak akan pernah kembali kepada mas Vandu.


Aku tahu mereka kecewa dengan keputusanku tetapi aku jauh lebih kecewa, marah dan sakit dengan apa yang mereka lakukan ke padaku.


Mungkin ini yang terbaik untukku, walau aku harus menerima kenyataan pahit jalan hidupku ini.


Sungguh miris bukan! mereka memintaku kembali hanya ingin menutupi sebuah kekurangan mas Vandu. Lalu mereka melupakan begitu saja tentang aku. Tentang aku yang berjuang selama lima tahun. Mengabdikan diriku untuk mas Vandu dan menerima segala kekurangannya. Mereka seakan lupa akan hal itu, yang mereka faham hanya cara menyakitiku tetapi mereka lupa bagaimana cara mengobati luka ini.


Kesetiaan dan pengabdianku selama lima tahun harus di bayar dengan sebuah penghianatan. Aku masih bertahan dan terima tetapi nyatanya kesempatan yang aku berikan tidak membuat mas Vandu berubah. Yang ada dia malah membuangku tak berperasaan.


Mengusirku dengan cara kejam, tanpa membiarkan aku membawa sepererpun barang berhargaku. Bahkan aku pergi dengan keadaan lemah. Jika saja Allah tak menolongku, entah apa yang akan terjadi padaku. Mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Aku bersyukur sekarang aku sudah lepas dari bayang-bayang mas Vandu. Walau aku masih tidak tahu dengan hatiku.


Semoga memang ini jalan yang terbaik untuku. Aku tahu Allah selalu ada bersamaku.


Bahkan bibi dan pamanpun bernafas lega dengan keputusan yang aku ambil. Padahal aku tahu dari tadi paman Fahmi sudah mau mengusir mereka tetapi aku mencoba menahannya. Bukan karena kasihan melainkan aku ingin menegaskan kalau aku tidak akan pernah kembali pada mas Vandu sampai kapan pun.


Dengan kedatangan secara tiba-tiba laki-laki bermata sipit itu membuat aku lebih mudah memutuskan supaya mas Vandu tidak mengganguku lagi di kemudian hari.


"Terimakasih, lagi-lagi anda membantu saya. Entah dengan cara apa saya membalas kebaikan anda? "


Ucapku tulus pada laki-laki bermata sipit ini, karena aku yakin laki-laki ini membantuku karena kasihan terhadapku.


Aku menyerngit bingung ketika tidak ada sahutan dari laki-laki ini, dia hanya diam dengan wajah datarnya.


"Iya, Nak. Terimakasih karena sudah membantu kami mengusir keluarga itu dengan cara halus,"


"Ngomong-ngomong saya seperti mengenal anda. Bukankah anda adalah bos putra saya?"


Ucapan paman Fahmi membuat aku sedikit terkejut melirik pada Bagas yang hanya diam dengan wajah cueknya. Aku menyipitkan kedua mataku menatap intimidasi adik sepupuhku.

__ADS_1


Sesudah kepulangan keluarga mas Vandu memang keluargaku masih berkumpul di ruang tamu karena menjamu laki-laki bermata sipit ini yang tiba-tiba datang bersama Bagas di waktu yang tepat. Hingga aku sedikit mempunyai alasan untuk bersandiwara mengiyakan ucapan laki-laki bermata sipit itu agar mas Vandu mengerti kalau aku benar-benar sudah melupakannya.


"Bagas ikut kakak! "


Ucapku tegas melangkah menjauh dari ruang keluarga. Aku merasa ada sesuatu yang Bagas sembunyikan. Melihat diamnya Bagas membuat aku curiga kalau pertemuanku dengan laki-laki bermata sipit itu karena ulah Bagas.


"Siapa laki-laki itu kenapa selalu muncul di waktu yang tepat, apa kamu yang memintanya membantu kakak?"


"Tidak kak, Bagas tidak melakukan apa pun, "


"Jangan bohong Bagas, tidak ada orang lain yang tahu masalah kakak. Hanya keluarga ini dan kenapa dia muncul di saat seperti ini, kalau bukan kamu yang meminta untuk melindungi kakak?"


"Demi Allah kak, Bagas tidak melakukan apa pun. Kedatangan bos Bagas memang sudah di rencanakan akan kesini karena ada sesuatu yang dia ingin sampaikan! "


Entah kenapa mendengar penjelasan Bagas membuat hatiku seakan was-was. Awalnya aku memang ingin berterima kasih kepada laki-laki bermata sipit itu dengan tulus karena dia sudah membantuku. Tetapi mengetahui laki-laki itu bos Bagas, membuat rasa terimakasihku seakan hilang entah kemana. Membuat aku menjadi sedikit takut.


Tidak mungkin seorang bos mau meluangkan waktunya hanya untuk membantu saudara bawahannya. Bukankah itu tidak masuk akal kecuali memang mempunyai maksud tertentu.


Apa laki-laki itu ingin memeras paman tapi tidak mungkin secara dia kaya. Atau orang itu ingin paman menutupi permasalahannya karena paman seorang hakim. Aku terus menerka -nerka dengan mata yang menguliti adik sepupuhku.


Wajahnya begitu tenang sepertinya Bagas memang tidak tahu rencana bosnya itu.


"Bagas apa dia akan memeras paman dengan kasusnya, hingga dia membantu kakak? "


"Hah! "


Aku menyerngit bingung ketika Bagas seakan terkejut mendengar ucapan aku.


"Ba.. bagaimana mungkin kakak berpikir kesana? "


"Bagas kakak tidak tahu, andai dia teman kamu kakak tidak akan berprasangka. Tetapi ini, dia bos kamu. Masa seorang bos mau membantu masalah keluarga bawahannya, sedang kata kamu dia kesini memang sudah di rencanakan! dan kamu tidak tahu apa tujuannya!"


Ucapku benar-benar was-was kalau memang dugaanku benar laki-laki bermata sipit itu melakukan itu pada paman. Aku bersumpah aku tak ingin dia membantuku jika memang dia ingin membuat keluargaku berhutang budi padanya.

__ADS_1


Belum reda rasa sakit, kecewa dan marahku kini aku di buat cemas dengan keadaan paman dan bibi di dalam.


So, bukankah ini bukan kebetulan laki-laki bermata sipit itu datang jika tak ada tujuan yang pasti.


Kenapa semuanya jadi begini. Masalah satu kelar kenapa muncul masalah baru. Ya Robb lindungilah keluarga ku dari orang-orang dzalim, jerit batinku takut.


"Bagas kalau sampai dugaan kakak benar, kakak tidak akan memaafkanmu?"


"Kakak, ada apa dengan kakak. Kenapa menjadi ketakutan seperti ini? "


Aku terdiam, aku juga tidak tahu. Hanya saja pikiranku sedang kacau, mengingat bibi Aisyah kecelakaan di sengaja membuat hatiku was-was akan sesuatu dan entah kenapa aku mempraduga kalau kecelakaan itu bentuk ancaman laki-laki bermata sipit itu untuk menekan paman.


Ya Robbi aku tidak tahu dengan perasaan macam ini, maafkan Laila yang sudah berprasangka buruk. Laila hanya takut, karena Laila keluarga Laila dalam bahaya.


Aku hanya bisa berdoa dalam hati dengan perasaan yang kian cemas.


"Astagfirullah, Kak istigfar. Tidak baik berprasangka buruk, kenapa kakak jadi ketakutan seperti ini? "


"Kakak tidak tahu Bagas, hanya saja kecelakaan bibi membuat kakak takut sangat takut hiks .., "


Aku menangis di pelukan Bagas menumpahkan segala rasa yang ada. Perasaanku begitu tak karuan membuat pikiranku begitu di penuhi ketakutan dan ketakutan.


"Bagas tahu kakak sedang tak baik-baik saja. Tetapi jangan jadikan perasaan itu menuduh orang lain. Sudah jangan menangis dan jangan takut, kakak harus bahagia setelah ini! "


"Bagas akan melindungi kakak, tidak akan Bagas biarkan laki-laki brengsek itu menyakiti kakak lagi!"


Aku semakin menangis mendengar penuturan Bagas yang begitu tulus. Hatiku memang tak baik-baik saja setelah memutuskan sesuatu yang begitu menyakitkan.


Mungkin aku terlihat baik-baik saja sudah memutuskan itu tetapi hatiku berkata lain. Hati ini masih sakit, luka itu masih ada dan ada membuat aku sulit untuk melupakan.


Bersambung...


Jangan Lupa Like dan Vote ya Cantik Ganteng he.. he...

__ADS_1


__ADS_2