
Entah kemana aku harus pergi membawa rasa sakit ini.
Aku tidak mau pulang ke kediaman Al-biru dengan keadaan seperti ini. Aku takut membuat semua keluargaku menjadi sedih. Aku sudah berjanji akan tetap selalu bahagia, aku tak mau melihat air mata kedua bibiku keluar karena memikirkan diriku yang lagi-lagi harus terperosot kejurang kesakita.
Ujian apa lagi ini! sungguh jika saja aku bisa memilih aku ingin menghindar dari rasa sakit ini. Kenapa harus aku, bukankah makhluk Allah begitu banyak di dunia ini kenapa harus aku yang merasakan hal menyakitkan ini.
Tapi apalag daya, lagi-lagi aku harus di uji oleh kesakitan yang sama mungkin ini lebih sakit dari pada sebelumnya.
Luka yang sempat kering kembali basah dengan kenyataan yang aku lihat. Kebahagian yang baru aku rasa sekarang terhempas kembali pada lembah kesesakan.
Inikah perjalanan takdirku yang tiada henti dengan sebuah ujian bertubi-tubi silih berganti.
Rasa sakit ini membuat aku lupa kemana tujuan awalku. Apakah istri pak ojol sudah di makamkan atau belum aku tak tahu. Aku saja bingung kemana aku harus pergi. Pulang kerumah baru, rasanya aku belum siap bertemu dengan bang Andrian tepatnya belum siap jika menghadapi kenyataan yang ada.
Bolehkah aku menyerah dengan semua ini, kenapa rasanya sangat sakit dan sakit.
"Nenk mau kemana? dari tadi muter-muter saya bingung! "
__ADS_1
Aku terdiam sambil mengatur nafasku yang begitu sekak karena sendari tadi aku menangis tiada henti. Aku juga tak tahu harus kemana, apa aku pergi saja ke rumah Wina atau Amira tapi aku tak mungkin kerumah mereka dalam keadaan seperti ini aku yakin dua sahabatku pasti bertanya-tanya dan aku belum siap menjelaskannya dan pasti akan semakin timbul masalah baru.
"Saya tidak tahu apa yang membuat Nenk menangis pilu seperti ini, apapun masalahnya saran saya, selesaikanlah masalah nenk dengan kepala dingin jangan di barengi hawa nafsu atau kabur dari rumah itu hal tidak baik dan tak akan menyelesaikan masalah malahan akan timbul hal baru yang memicu semakin adanya pertengkaran. Hidup memang tempat ujian tapi apapun dan sebesar apapun ujian itu, yakinlah bahwa Allah sedang mengangkat drajat kita di sisinya. Malahan saya merasa iri..."
Hatiku terkesiap mendengar ucapan supir taxi tapi aku sedikit menyerngit bingung mendengar kata iri dari pak supir. Bagaimana pak supir iri padaku padahal aku sedang bersedih.
"Iri karena nenk jauh lebih tinggi drajatnya di sisi Allah. Bukankah Allah tak akan menguji seorang hambanya di batas kemampuannya. Semakin besar ujian seorang hamba maka semakin tinggi pula drajatnya di sisi Allah bagi golongan orang-orang sabar dan ikhlas. Nenk di kasih cobaan besar hingga nenk menangis seperti ini ketahuilah bahwa Allah sedang rindu nenk menghadapnya. Maka datanglah pada pemilik ujian dan gudang solusi insyaallah hati nenk akan tenang dan bisa menyelesaikan masalah, "
Hatiku bergetar mendengar penuturan pak supir yang begitu luas dan bijak. Dia seperti seseorang yang kuat iman menyelesaikan persoalan hidupnya. Terbukti pak supir selalu saja tersenyum dan sopan dalam berkendara. Tak ada raut lelah dan murung di wajahnya bahkan wajahnya selalu berseri walau sebagian wajahnya termakan usia. Mungkin jika di lihat-lihat usianya tak jauh dari pak ojol.
"Terimakasih pak sudah mengantar Laila, maaf jika Laila menyita waktu bapak, "
"Itu sudah pekerjaan saya nenk, melayani penumpang kemanapun mereka pergi. Karena keselamatan hal utama. "
Aku tersenyum lalu memberikan ongkos pada pak supir.
"Ini kebanyakan nenk? "
__ADS_1
"Terimalah, mungkin rezki hari ini dari Allah buat bapak. Semoga Allah selalu menjaga keselamat bapak!"
"Jazakallah Khoeron kasir Allahuma jaza, semoga nenk juga di beri kemudahan dalam urusannya! "
Hatiku jauh lebih tenang setelah mendengar penuturan pak supir taxi.
Aku memutuskan pulang ke rumah baru dan menyelesaikan masalahku dengan suamiku. Aku akan mendengarkan penjelasannya, walau aku tak tahu apakah penjelasannya membuat hatiku tenang atau malah sebaliknya. Aku hanya bisa mempersiapkan hatiku jika kemungkinan apa yang terjadi membuat hatiku sakit.
Benar kata pak supir! Bahwa dunia ini tempat ujian. Semoga aku bisa melewati ujian ini, walau aku tak tahu seberapa kuat hatiku menahan rasa sakit dan kesesakan ini.
Air mataku kembali mengalir ketika bayangan anak kecil itu menangis menyebut nama papa dan mama. Bahkan bang Andrian sampai detik ini tak mencariku sama sekali. Apa aku tak penting lagi untuknya, atau dia memang sengaja menikahiku karena istri pertamanya penyakitan hingga jika istrinya pergi bang Andrian menjadikanku ibu sambung dari anaknya itu. Oh sungguh sakit bang ini sangat sakit.
Aku menangis mengadu pada Allah di atas sejadahku. Entah rahasia apa yang Allah siapkan di balik hal menyakitkan ini. Aku hanya berharap aku bisa kuat menghadapi badai yang mengoyahkan hati yang baru tegak.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote.....
__ADS_1