
Aku memutuskan pergi ke lestoran hanya sekedar mengecek, sesudah itu aku berniat pulang ke Mansion keluarga Al-muzaky.
Entah kemana perginya bang Andrian sampai siang ini tak ada kabar darinya. Bahkan Bagas juga tak tahu dimana bosnya berada dan itu semakin membuatku menduga-duga.
Seperti biasa aku menggunakan jasa pak ojol mengantar kemanapun aku pergi karena memang tak ada mobil di rumah baru kami dan ada mobilpun di bawa bang Andrian entah kemana.
Dring ponsel terus berdiring bukan punyaku tapi punya pak ojol.
"Pak coba angkat dulu teleponnya siapa tahu penting? "
"Ini gak pa-pa Nenk? "
"Astagfirullah pak gak pa-pa! "
Akhirnya pak ojol mengentikan motornya di pinggir jalan lalu mengangkat teleponnya. Aku menunggu sambil duduk di salah satu kursi trotoar jalan. Alisku terangkat ke atas ke bawah dengan mata sesekali memicing melihat ekpresi yang di tunjukan pak ojol seperti ada sesuatu yang serius.
"Kenapa pak? "
Tanyaku cepat ketika melihat pak ojol terdiam dengan guratan kesedihan.
"Subhanallah Walhamdulillah Walaillahailallah Wallahuakbar Lahaula Walakuata Illabillahilaliyiladidzim...,"
"Pak bapak kenapa? "
Tanyaku sekali lagi sambil menepuk lengan pak ojol yang terus beristigfar membuat aku semakin cemas takut terjadi apa-apa pada keluarganya.
"I.. ibu sudah pulang ke Rahmatullah! "
"Innalillahiwainnaillahiroziun.., "
Ucapku sambil membekam mulutku seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Secepat ini istri pak ojol pergi, padahal aku belum sempat bertemu dengannya lagi ketika aku sudah menikah karena memang banyak pekerjaan yang aku lakukan.
__ADS_1
Kabar kematian istri pak ojol benar-benar membuatku sedih, apalagi perginya karena korban kecelakaan dan sekarang aku dan pak ojol menuju rumah sakit.
Tak henti-hentinya aku mendengar bibir pak ojol terus beristigfar. Sungguh masih adakah di dunia ini orang yang lapang menerima takdir Allah. Bahkan pak ojol tidak menunjukan raut takut dan panik ataupun meraung menangis. Dia berusaha tetap tenang dingan lapalan istigfar terus pak ojol lantunkan. Aku tahu pak ojol sedih cuma dia berusaha bersikap tegar menghadapi semuanya.
Bahwa yang hidup pasti akan mati entah siapa lagi yang sudah Allah garis takdirkan kematian selanjutnya. Entah itu aku, keluargaku atau orang lain. Semua apa yang ada pada diri kita adalah titipan.
Kematian memang hal menyakitkan karena aku pernah berada di posisi seperti itu. Tapi satu harus yang kita ingat, kuatkan iman kita jangan sampai kita membenci takdir-Nya.
Aku hanya bisa diam dengan air mata yang terus keluar melihat begitu pilunya tangisan ketiga anak pak ojol. Sedang pak ojol mengusap kepala istrinya dengan bibir yang terus bergerak entah apa yang pak ojol ucapkan atau doakan karena memang aku tak ikut masuk. Aku ingin memberi ruang pada keluarga pak ojol. Kematian istri pak ojol sungguh mengingatkanku pada mendiang mamah dan itu membuat aku kembali merasa sakit.
Aku melangkah mundur karena tak kuat melihatnya, imanku masih lemah, aku tak sekuat pak ojol yang bisa tegar mengadapi ujian yang menyakitkan ini. Dia begitu tegar walau di tinggal orang yang sudah puluhan tahun menjadi cinta dan doa di setiap nafasnya.
"Ini kecelakaan teragis, bahkan aku ngeri melihatnya, "
"Sama aku juga, tapi yang lebih parah itu si pengemudi mobil bahkan mukanya terdapat gosesan kaca! "
"Iya sih, tapi ibu itu juga sama keserempet mobil itu dan akibat terkejut terus serangan jantung, "
"Kasihan sekali nasib mereka, "
Aku terus berpikir keras hingga aku terlonjat langsung berdiri melihat jenajah istri pak ojol di dorong keluar oleh beberapa perawat dan suster tadi mungkin akan di bawa pulang.
Aku mengikuti keluarga pak ojol dalam diam di belakang hingga langkahku berhenti melihat sosok yang begitu aku kenal.
Dadaku bergemuruh hebat berharap dia bukan orang yang sendari pagi buta aku cari dan cemaskan.
"Papa.. papa mama hiks.. hiks... "
Deg...
Rasanya duaniku hancur seketika ketika mendengar seorang gadis kecil memeluk bang Andrian dengan panggilan papa.
__ADS_1
Aku lihat juga mata bang Andrian tertuju pada ruangan di depannya dengan raut wajah kewatir nampak jelas di matanya. Mungkinkah istrinya ada di dalam dan dan gadis kecil itu putri bang Andrian dengan wanita lain.
"Ya Kowiyu.., "
Ucapku sambil meremas dadaku kuat, entah sejak kapan bulir bening terus berjatuhan lagi menodai pipiku.
Bang Andrian langsung berbalik mungkin mendengar ucapanku yang spontan. Ku lihat bang Andrian seperti terkejut melihat keberadaanku dan itu sungguh membuat aku kecewa.
Rasa sakit, kecewa, menyesal bercampur jadi satu menyesakan hatiku. Rasanya rasa sakit ini lebih sakit dari pada yang mas Vandu berikan.
Janji-janji manis yang terucap dari bibirnya ternyata semuanya palsu. Katanya mau berubah dan tak akan menyakiti hatiku nyatanya itu bulsit.
Aku terus memukul-mukul dadaku kuat seolah ingin kesesakan ini keluar tapi nyatanya kesesakan ini semakin meremas hatiku.
Sakit bang....
"Ak.. aku kecewa.., "
Aku berlari meninggalkannya dengan isak tertahan. Sungguh ini sangat menyakitkan bahkan bang Andrian tak mengejarku sama sekali.
Kenapa kamu jahat bang kenapa!!!
Baru kemarin kamu memberiku kebahagian kenapa dengan sekejap mata kau hancurkan. Ini sakit bang sakitttt.
Kamu pembohong, semuanya palsu. Kamu kejam, jahat, ini sangat sakit ya Rohman ya Rohim.
Te.. ternyata kamu sudah punya anak hiks.. hiks...
Aku terus saja menangis dan menjerit dalam hati. Aku tak peduli dengan supir taxi yang membawaku entah kemana. Aku hanya ingin pergi jauh sejauh-jauhnya dari dirinya.
"Ka.. kamu jahatttt.., "
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa Like, Vote hadiah dan komen...