Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 33 Prov Laila (Gugup)


__ADS_3

Aku tidak menyangka satu kaliamat meluncur dari bibirku dan itu menentukan kemana hidupku selanjutnya.


Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah keputusanku sudah benar atau tidak. Rasanya ini bagaikan mimpi, mimpi yang tak pernah ada di bayanganku.


Tentang sebuah jawaban yang keluar begitu saja dari mulutku. Padahal sebelumnya aku ingin menolak tetapi aku merasa seperti ada sebuah dorongan kuat yang membuat aku menjawab, bahwa aku menerima pinangan seorang Andre Lian Chu. Laki-laki berkebangsan Jepang yang tidak sama sekali aku kenali. Dia datang secara tiba-tiba dan menawarkan sebuah pernikahan.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Semuanya mengalir begitu saja tanpa aku sadari aku sudah memutuskan sebuah keputusan besar di hidupku.


Entah itu keputusan baik atau itu keputusan buruk yang aku lakukan. Aku cuma berharap, jika keputusan ini adalah yang terbaik untukku.


Tentunya, ada sebuah kaliamat yang sangat menyentuh hatiku hingga membuat pikiran dan hatiku berpaling dari sebuah jawaban awal. Di mana aku bertekad menolaknya tapi, entah kenapa hatiku menyuruhnya terima.


Ku pejamkan kedua mataku berharap ini hanya sebuah ilusi yang aku ciptakan tetapi nyatanya semua ini nyata, ketika aku membuka kedua mataku sambil menatap ke arah cermin. Di mana wajahku sudah di rias dengan baju kebaya sederhana namun nampak anggun. Makeup yang tipis tidak juga terlalu tebal karena aku tak menyukainya.


Rasanya aku belum percaya dengan semua ini. Terasa baru kemaren aku di lamar dan menikah. Sekarang aku merasakan pernikahan lagi yang nampak berbeda. Pernikahan sederhana yang aku inginkan, benar-benar sederhana hanya acara ijab kobul dan teman dekat yang hadir itupun sebagian.


Bukan aku tak mau merayakan acara yang megah. Karena memang ini keinginan aku dan Andrian. Apa lagi Andrian tidak mempunyai kedua orang tua.


Aku hanya berharap keputusanku tidak salah dan aku berharap ini adalah pernikahanku yang terakhir.


Ya rohman ya Rohim, Engkau dzat yang maha tahu segala urusanku dan apa yang akan terjadi padaku hari ini esok dan seterusnya. Aku hanya berharap semoga Andrian adalah jodoh terakhir sampai akhirat. Ridhoilah apa yang sudah ku putuskan, semoga Andrian bisa membawaku menuju keridhoan-Nya. Semoga Andrian adalah laki-laki terakhir yang Engkau pilih untuk menemaniku membangun sebuah istana yang sempat rubuh. Semoga Andrian adalah laki-laki kuat akan iman mengokohkan pondasi rumah tangga yang aku tempati untuk aku jaga keindahannya. Ku serahkan semuanya padamu ya Robbi...


Ku lantunkan doa panjangku di setiap detakan jantung yang terpacu cepat beriringan langkah kakiku melangkah menuju laki-laki yang baru saja mengucapkan ikrar atas diriku.


Saya terima nikahnya Asma Laila Ar-rohman bintu Alm. Muhamad Fikri Ar-rohman dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 100 dolar, Tunai.


Sah ....


Hatiku bergetar mendengar ucapan ikrar itu di mana paman Fahmi yang menjadi waliku.


Dua kali menikah tanpa kehadiran abi dan tanpa kehadiran mamah sekarang. Rasanya benar-benar terasa berbeda tetapi aku merasa bahwa abi dan mamah ada bersamaku menggandengku menuju Andrian Lian Chu yang sudah sah menjadi suamiku beberapa menit lalu.


Aku menunduk malu sambil duduk di sisi Andrian dimana aku dan Andrian menandatangani buku dan surat-surat nikah.

__ADS_1


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, silahkan nak Asma mencium punggung tangan suaminya? "


Deg...


Hatiku bergetar ketika mendengar penghulu menyuruhku untuk mencium tangan Andrian.Bahkan aku dari tadi menunduk tak berani melihat wajah Andrian dan kini penghulu menyuruhku untuk menciumnya.


Dengan gugup aku berbalik menghadapnya sambil meraih tangan besar Andrian lalu mencium punggung tangannya.


Ya Robbi, jadikan dia suami yang berbakti ke pada-Mu. Jadiakan dia perantara Laila meraih rodhomu. Jadikan dia suami terakhir yang menuntun Laila menuju surgamu.


Sebuah doa yang ku jeritkan dalam hati dengan tetes air mata yang jatuh ke permukaan punggung tangannya.


Tak lama aku menegang ketika Andrian mendaratkan bibirnya di keningku. Ada getaran hebat yang tidak bisa aku jabarkan oleh kata. Seakan menyalurkan kehangatan dan kedamain di relung hatiku.


Sebuah doa terlantun indah di pendengaranku membuat hatiku bergetar. Rasanya aku masih merasa mimpi kalau di hidupku ada sebuah pernikahan lagi.


"Selamat, Nak. Berjanjilah untuk selalu bahagia."


"Raihlah apa yang ingin kamu capai dan bangunlah kembali sebuah istana yang sempat roboh dengan kepercayaan, saling menyayangi dan melindungi. Jadilah seperti syaidah Fatimah yang selalu tangguh dan sabar. "


"Semuanya sudah berlalu, kini bangunlah kehidupan yang baru bersamanya. Ini pilihanmu, Nak. Maka kamu harus sabar jika suamimu banyak kekurangan."


Aku tak bisa membendung air mataku ketika paman dan bibi memberi doa, pengertian dan semangat untukku. Bahkan Andrian mengusap punggungku lembut seakan dia memberi tahu kalau dirinya tak akan pernah mengecewakanku.


"Semoga ini adalah pernikahan terakhirmu. Berikanlah cintamu sepenuhnya untuk suamimu jika kamu ingin di cintai. Hormati dan sayangi dia jika kamu ingin suamimu memperlakukanmu dengan baik. Jadilah syaidah Asiah yang tangguh ketika suamimu hilap. Raihlah rodho Allah bersama-sama seperti apa yang kamu impikan."


Aku terisak di pelukan Amira, entah apa apa yang harus aku katakan. Rasanya aku benar-benar tak bisa berkata. Rasa haru, takut, cemas, sedih bercampur jadi satu dan aku tumpahkan semuanya lewat air mata.


"Sudah sayang jangan menangis, malu sama suamimu. Berjanjilah untuk tetap bahagia, dan doakan aku supaya cepet nyusul,"


Aku terkekeh sambil mengusap air mataku mendengar candaan Wina. Di antara aku dan Amira memang Wina yang belum menikah. Wina gadis paling dingin di antara aku dan Amira.


Rasanya kesesakan di hati ini entah kenapa berkurang walau hanya tersisa rasa takut, sakit dan sedih.

__ADS_1


Inilah pilihanku maka aku tak boleh takut untuk melangkah lebih jauh lagi. Aku yakin Andrian adalah jodoh terakhir yang Allah pilih untuk menuntunku menuju surga-Nya.


"Terimakasih!"


Aku berbalik ke arah samping ketika mendengar sebuah bisikan di telingaku.


Deg...


Aku terpaku ketika wajah Andrian ada di hadapanku. Aku dan Andrian memang sudah berada di kamar tepatnya Andrian ada di kamarku. Karena sudah beberapa menit lalu acaranya sudah selesai.


Buru-buru aku memutusakan pandangan dengan menundukan kepala. Rasanya jantungku mau loncat dari tempatnya ketika wajah Andrian benar-benar dekat dengan wajahku bahkan hidungku sempat bersentuhan dengan hidungnya.


"Terimakasih .., "


Aku hanya diam dengan perasaan gugup tak tahu harus menjawab apa ketika Andrian mengangkat daguku hingga wajahku mendongkak dan mataku langsung bertemu dengan mata tajam sipit milik Andrian.


"Kenapa tidak menjawab ucapanku? "


"A .. aku emm, ti.. tidak mengerti! "


Ucapku gugup sungguh gugup karena wajah Andrian benar-benar dekat dengan wajahku bahkan aku bisa merasakan nafas hangat Andrian menyapu pipiku.


"Terimakasih sudah mau menjadi istriku. Aku cuma mau bilang! ajarkan aku untuk mengenal Tuhanku supaya aku bisa mengenalnya juga dan aku ingin meminta padanya. Tolong berikan salah satu hati hambanya yang bernama Laila Asma Ar-rohman untuk ku miliki seutuhnya tanpa bayang-bayang masa lalu. "


Deg...


Aku tertegun mendengar ucapan Andrian. Entah kenapa ucapan itu membuat hatiku menghangat. Ucapannya begitu lembut dan penuh ketulusan membuat aku benar-benar bergetar.


Rasa gugup yang tadinya menghantuiku perlahan menghilang dengan sendirinya. Bahkan aku mulai memberanikan diri menatap ke dalam bola mata Andrian.


Aku bisa melihat bahwa Andrian benar-benar tulus mengatakannya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya...


__ADS_2