
Aku tersenyum ketika aku sudah menimbang-nimbang dengan pikiran tenang. Bahwa aku tetap akan mendapatkan Asma. Apalagi tentang ke jadian ke maren di mana Asma juga mengiyakan kalau aku calon suaminya.
Walau aku tahu perkataannya cuma ingin lepas dari mantan suaminya. Tetapi aku tidak akan melepaskan Asma, gadis yang langka seperti mamah.
Aku tersenyum sambil menyuruh Bagas datang ke ruanganku. Aku akan meminta bantuan Bagas untuk rencanaku karena aku tak mau sampai di dahului Bagas.
Walau aku tahu aku tak mungkin bersaing dengan sahabatku sendiri tetapi entah kenapa hati ini selalu terpaut pada Asma membuat aku benar-benar yakin dengan keputusanku.
"Aku ingin melamar Asma,"
"Apa! "
Aku terkejut melihat reaksi Bagas yang langsung menatapku tajam. Membuat dugaanku semakin besar kalau Bagas juga menyukai Asma dan itu membuat aku semakin was-was. Bagimana jika aku harus bersaing dengan sahabatku sendiri tentu itu membuat aku harus bereaksi apa jika memang Bagas benar-benar menyukai Asma.
"Yu serius! "
Aku mengangguk cepat dengan tampang dingin seakan tidak suka kalau Bagas bicara seperti itu.
"Sudah aku katakan, dia gadis berbeda. Jangan main-main Andriannn!!!"
Aku menghembuskan nafas kasar mendengar bentakan Bagas. Bahkan Bagas berani menyebut namaku, berarti Bagas memang dalam keadaan marah.
"Aku tidak mau kau hanya menjadikan dia pelampiasan atas cintamu yang bertepuk sebelah tangan, "
"Tidak Gas, aku serius dengan ucapanku. Beberapa hari ini aku sudah meyakinkan hatiku. Perasaan ini berbeda ketika aku menginginkan Anjani kamu tahu itu Gas."
"Tapi aku tida ..,"
"Apa kamu menyukai Asma juga? "
Aku tersenyum kecut ketika Bagas langsung bungkam. Ternyata benar dugaanku kalau Bagas menyukai Asma dan itu aku tak terima.
"Jadi benar kamu menyukainya hingga kamu tak setuju dengan keputusanku. Apa kamu mau bersaing denganku? "
Ucapku ketus tersenyum sinis pada Bagas yang terus diam. Diamnya Bagas berarti benar dia memang menyukai Asma juga.
Aku menautkan kedua alisku ketika melihat tatapan berbeda yang Bagas layangkan padaku. Tatapan itu seperti mengintimidasi diriku. Bahkan Bagas mendorong tubuhku ketembok membuat aku terkejut dengan apa yang Bags lakukan, sangat cemat membuatku benar-benar tak siap menahannya.
"Apa kau yakin dengan hatimu ANDRIAN!!!"
__ADS_1
"Aku yakin!"
"Dia kakak sepupuhku,"
"Apa!!! "
"Dia mandul! "
Duarrr ...
Rasanya jantungku berhenti detik ini juga mendengar ucapan Bagas. Belum selesai rasa terkejutku tentang siapa Asma bagi Bagas sekarang aku harus di kejutkan lagi dengan kenyataan yang benar-benar membuatku tak bisa percaya. Aku terdiam tak bergeming dengan tatapan kosong meyakinkan kalau apa yang Bagas ucapkan bohong. Tetapi aku benar-benar tak bisa berkata ketika Bagas tersenyum kecut seakan meremehkanku.
Sungguh kenyataan pahit ini benar-benar membuat aku tak bisa berkutik.
Bagaimana bisa gadis sesempurna itu ternyata mempunyai kekurangan yang sangat menyakitkan bagi setiap perempuan. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Asma mengetahui kenyataan ini. Apa percerain ini karena Asma mandul atau ada hal lain. Terus kenapa mantan suaminya memaksa ingin balikan lagi.
Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku mencari jawaban tetapi aku tak menemukannya.
"Cih, ternyata kau sama saja dengan si brengsek itu! "
"Kakakku di buang karena dia MANDUL dua tahun lalu dan kau ingin memilikinya. Bahkan kau terdiam mendengar kenyataan pahit ini. Apa kau menyesal dengan ucapanmu atau kau mau menarik kembali lamaranmu itu! Cih. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti hati kakakku lagi. Walau aku harus berhadapan denganmu, ingat itu! "
Sebehitu istimewahkan Asma di tengah keluarganya!
Sekarang aku bingung sendiri dengan hatiku ketika mengetahui sebuah pakta tentang Asma.
Bahkan kejadian itu membuat hubunganku dengan Bagas semakin renggang hari demi hari. Aku faham dengan sikap Bagas mungkin kalau aku berada di posisinya aku juga akan bersikap sama.
Aku terus saja termenung memikirkan semuanya. Mandul! kata itu terus terngiang di ingatanku. Jadi sampai kapanpun Asma tak akan mempunyai keturunan.
Kenapa aku merasa sakit mengingatnya ada apa sebenarnya dengan hatiku. Kenapa aku seolah merasakan apa yang Asma rasakan.
Apa aku juga laki-laki brengsek seperti yang di katakan Bagas. Mengetahu satu ke cacatan di diri Asma hatiku langsung bingbang. Lalu bagaimana dengan banyak kecacatan yang aku miliki bahkan ilmu agamapun aku tak punya yang aku punya hanya banyak dosa dan kesalahan.
Tidak! aku bukan laki-laki brengsek yang akan mundur dengan keadaan ini. Hatiku tetap menginginkan Asma menjadi istriku. Tentang anak! mungkin suatu hari nanti aku tidak bisa mempunyai anak dari Asma tetapi bukankah masih banyak cara lain untuk mendapatkan seorang anak.
Ya, sekarang aku yakin dengan keputusanku dan aku tak akan mundur. Cukup satu bulan aku termenung dan meyakinkan hatiku kalau yang aku rasakan tentang perasaan ini adalah benar.
Aku jatuh cinta pada Asma gadis yang membuat aku terpesona oleh tatapan matanya, walau aku tahu Asma tak pernah sekalipun meliriku.
__ADS_1
Aku yakin aku sudah jatuh cinta padanya persetan dengan kekurangannya aku tak peduli. Yang aku inginkan aku ingin memiliki Asma seutuhnya menjadi makmumku. Aku tahu dia gadis sholehah dan terjaga, selama sebulan ini memang aku selalu menguntitnya kemana dia pergi. Dia begitu tulus pada orang lain dan bahkan Asma tak pernah malu berbaur dengan anak jalanan atau pemulung dan itu membuat aku semakin jatuh cinta padanya. Tetapi aku sedikit ragu, apa Asma akan menerima lamaranku. Laki-laki pendosa dan penuh kesalahan.
Mengingat itu kenapa membuat aku jadi takut kalau Asma akan menolakku. Benar apa yang dikatan Bagas gadis itu berbeda dengan ku. Bagai Air dan Minyak sampai kapanpun tak bisa menyatu. Tapi aku tak peduli, aku harus memilikinya harus.
Aku berlari ke ruangan Bagas, ku lihat Bagas terkejut oleh kedatanganku secara tiba-tiba.
"Apa! "
Aku hanya tersenyum mendengar nada ketus Bagas.
"Ikut aku, "
Aku langsung menarik tangan Bagas paksa walau aku tahu dati tadi Bagas terus memberontak membuat para karyaman menatap aku bingung tetapi aku tak peduli.
Aku tak mau kehilangan Asma, gadis itu sudah membuat aku jadi seperti ini dan dia harus bertanggung jawab.
"Kita mau kemana sialan! "
"Melamar kakak sepupuhmu,"
"Apa!"
Aku tersenyum melihat keterkejutan Bagas dan aku tak peduli. Bahkan sepanjang jalan Bagas terus mengupat diriku tetapi aku membiarkannya. Sampai aku memarkirkan mobilku tepat di pekarang kediaman Bagas.
Aku sedikit bingung kenapa ada banyak mobil di rumah Bagas.
"Apa di rumah kamu ada pejabat? "
" Gak tahu! "
Aku tak peduli dengan sikap Bagas yang masih kesal padaku. Aku dan Bagas langsung masuk ke dalam. Sayup-sayup aku mendengar tangisan seseorang memohon semakin aku masuk semakin aku mendengar jelas apa yang sedang terjadi. Tanganku mengepal dengan mata memerah menahan sesuatu yang menyesakan. Ternyata mantan suami Asma meminta kembali bahkan sampai bersujut tetapi aku sedikit lega karena Asma menolak.
Tapi laki-laki itu seakan memaksa Asma dan itu membuat darahku mendidih.
"Jangan ganggu calon istriku!!! "
Teriakku lantang membuat semua orang langaung berbalik melihatku. Tetapi mataku terus tertuju pada Asma, ku lihat Asma terkejut melihat kedatanganku.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya....