
Malu!
Itulah yang aku rasakan saat sudah satu minggu meninggalkan kediaman bibi. Bibi dan paman sendari tadi menggodaku membuat aku benar-benar malu. Rasanya aku ingin bersembunyi di lubang semut agar rona merah di wajahku tak terlihat.
"Bulan madu, pergi gak bilang-bilang, hm. "
"Kirain bulan madunya di luar negri atau di luar kota, nah ini masih satu wilayah. "
"Jika bibi tahu kalian tinggal di sana sudah dari kemaren bibi kesana, tapi sayang, suami bibi gak izinin. Katanya jangan ganggu yang lagi belah duren, "
Bluss...
Entah apa yang harus aku lakukan untuk menyembunyikan wajah ini. Bibi dan paman sungguh ambrusat bicara tanpa rem. Bahkan bang Andrian malah melayani bibi dan pamanku membuat aku malu menjadi kesal.
Awas saja kalau sudah di kamar akan aku hukum.
"Dek, kamu sudah pulang,"
Di tengah-tengah rasa malu aku terkejut melihat Fatimah, adik sepupuhku ada di rumah sepertinya dia baru keluar kamar.
"Satu minggu yang lalu kak, kakak sih bulan madunya lama banget, "
Ah... lagi-lagi aku harus di buat malu, rasa ini benar-benar membuatku panas kemana aku harus bersembunyi. Keluarga ini begitu kompak menggodaku. Tak ibu tak anak dan bapaknya sama saja.
"He.., maaf. Gimana kuliahnya lancar?"
Aku berusaha mengalihkan pembahasan ketika Fatimah ikut bergabung.
"Alhamdulillah, lancar kak. Tingga selesai skrifsi, cuma adek pulang dulu, Ali kan minggu depan sudah lulus. Adek tak mau melewatkan hari penting adikku yang kaku itu, "
Kami semua terkekeh dengan celotehan Fatiham, Ali hanya memdelik saja lalu matanya kembali pokus pada ponsel. Entah apa yang Ali lakukan dia begitu sangat serius jika memegang ponsel. Walaupun begitu Ali anak yang pintar, bahkan di setiap tahunnya nilainya paling tinggi dan termasuk siswa yang berprestasi di berbagai bidang.
Sudah berbincang-bincang aku pamit ke kamar apalagi ini sudah mau hampir jam sepuluh malam.
Bang Andrian masih ngobrol bersama kedua pamanku membuat aku memutuskan ke kamar duluan.
"Kak.., "
Aku menyerngit bingung ketika suara Fatimah memanggil. Fatimah masuk ketika aku mempersilahkannya masuk ke kamar. Mataku memicing ketika melihat ada gelagat aneh dari Fatimah.
Tapi aku berusaha tenang dan tersenyum menunggu apa yang akan di sampaikan ke ponakan bar-bar ku ini.
"Eh, kak. Boleh Fatimah cerita. Tapi kakak janji ya, jangan dulu kasih tahu mama? "
__ADS_1
Aku semakin memicingkan kedua mataku ketika mendengar nada gugup Fatimah seperti ada sesuatu yang serius. Aku dan Fatimah memang dekat, apalagi sikapku hampir sebelas dua belas jika berdekatan dengan Fatimah.
"Katakanlah.., "
"Janji dulu, jangan dulu kasih tahu mama? "
"Iya.. iya bawel.., "
Pada akhirnya aku berjanji, sepertinya yang akan Fatimah bahas adalah hal yang sangat serius.
"Kak... "
"Assalamualaikum sayang.., "
Fatimah tak jadi meneruskan kaliamatnya ketika bang Andrian masuk ke kamar. Aku tersenyum ketika bang Andrian kembali keluar seakan faham kalau kami butuh privasi.
"Ayo lanjutkan? "
"Ta.., "
"Gak pa-pa, bang Andrian pasti mengerti, "
"Em, gini kakak, sudah lama adek suka sama cowo, tapi dia itu dingin kaya kulkas, kaku dan pelit tersenyum bahkan pada Fatimah pun dia selalu menatap tajam jika Fatimah mau mendekatinya,"
Aku masih diam menjadi pendengar walau aku sedikit terkejut mempunyai sepupuh yang bar-bar minta ampun sampai mengejar-ngejar cowo.
"Fatimah menyukainya dari zaman sekolah di pondok, tapi dia tak pernah melirik Fatimah sedikitpun sampai kami lulus dan berpisah. Fatimah dengar dia melanjutkan studinya di Jepang. Sebelum dia ke Jepang Fatimah sempat mengatakan perasaan Fatimah padanya ta.., "
"Apa! Kamu menge.., "
"Suttt, kakak, jangan potong dulu. Diam dan dengerin cerita Fatimah dulu! "
Terpaksa aku diam walau aku benar-benar ingin mengomel akan kelakuan Fatimah yang berani.
"Huh, Fatimah mengungkapkan perasaan Fatimah ta... tapi dia tak melirik Fatimah sama sekali bahkan menjawabpun enggak, sampai dia benar-benar pergi."
"Hati Fatimah sakit, hingga Fatimah mati rasa sangat kesal atas sikap dia. Sampai Fatimah memutuskan untuk membuang jauh perasaan ini dan memilih kuliah di Jogja tak mau kuliah di Bandung. Tapi.. "
Aku semakin penasaran apa kelanjutan cerita Fatimah. Terdengar dari ceritanya saja membuat aku bisa merasakan betapa besar cinta Fatimah untuk pemuda itu dan rasa kecewa dan sakitpun masih terpancar jelas di mata Fatimah dan itu membuat aku benar-benar tak mengerti cinta apa yang Fatimah miliki. Pasalnya aku belum pernah merasakan jatuh cinta pada laki-laki sampai mengejarnya begitu. Ini sudah empat tahun tapi aku bisa melihat kalau Fatimah masih memiliki cinta itu.
"Ta.. tapi, dua minggu yang lalu dia datang ke Jogja. Dia mengajak Fatimah ta'aruf, "
"Hah!! "
__ADS_1
Aku menganga dengan mata membola tak percaya akan akhir dari cerita Fatimah. Sungguh luar biasa laki-laki itu, entah siapa dia yang jelas satu yang aku tahu dia pasti sosok laki-laki yang baik.
"Kakak sekarang adek bagaimana, adek bingung!!! "
"Loh kok bingung, bukannya kamu mencintainya kenapa tak terima saja, "
"Issttt, kakak, bagaimana aku percaya padanya sedang selama ini dia tak melirikku sama sekali dan dia datang tiba-tiba membuat jantungku mau copot saja dengan ajakan ta'arufnya! "
Aku menghela nafas pelan, mencoba meresapi semuanya. Aku tahu ini pasti sesuatu keputusan besar yang harus di ambil Fatimah.
"Kalau kakak analisa dari cerita kamu, kakak pikir dia laki-laki baik dan tanggung jawab. Kaka rasa dulu juga dia menyukai kamu, mungkin dia tak melirik kamu karena ingin menjaga kamu dari dosa. Karena pacaran adalah sebuah dosa yang mendekatkan kita pada dosa besar. Jika kamu masih ragu akan pinangannya, coba istikhorohlah agar Allah memberi petunjuk atas kegundahan hati kamu. Jika memang laki-laki itu jodoh adek, kakak yakin sejauh mana jarak dan waktu memisah kalian Allah pasti akan menyatukan kalian begitupun sebaliknya. Jika kalian bukan jodoh pasti ada jodoh terbaik yang sudah Allah siapkan untuk adek, "
"Tapi adek pengen dia, tapi adek juga ragu!"
"Apa yang membuat adek ragu?"
"Tidak tahu,"
Aku tersenyum melihat tidak ada yang bisa Fatimah ungkapkan. Mungkin Fatimah ragu karena merasa takut jika ini hanya mimpi yang tak pernah Fatimah bayangkan jika orang yang begitu Fatimah kejar malah pergi dan kembali menawarkan keseriusan.
"Kakak jadi penasaran, siapa namanya? "
"Akbar Khoer Al-qolayuby!"
"Apa!!! "
Aku benar-benar terkejut mengetahui siapa laki-laki yang adik sepupuhku maksud.
Akbar Khoer Al-qolayuby, siapa di Bandung yang tak kenal nama itu. Aku masih ingat Akbar mempunyai kakak kembar yang tak lain kakak tingkatku waktu di kampus.
"Kakak mengenalnya?"
"Dek, siapa yang tak mengenal keturunan Al-qolayuby. Keluarga mereka keluarga terpandang di Bandung, bahkan orang tuanya pengusaha sukses. Sikapnya tak diragukan lagi, bahkan keluarga mereka begitu dermawan dan baik hati."
Sungguh aku benar-benar tak menyangka kalau adik sepupuhku di lamar oleh orang yang tepat. Bibi Aisyah dan Paman pasti akan terkejut putrinya di lamar oleh seorang calon pengacara hebat. Bukan calon tapi Akbar aku sempat mendengar sudah menjadi pengacara hebat di Jepang.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote ya....
*Bagi yang sudah baca novel Takdir Illahi 2 pasti tahu ya, siapa babang Akbar... he...
Bukan maksud menyambungkan cerita tapi ini memang Novel yang berbeda, cerita berbeda dan alur berbeda. Adanya Akbar hanya sebatas promosi saja... he.. he*...
__ADS_1