
Aku menggeliat dengan tangan meraba-raba tempat di sebelahku. Aku langsung bangun ketika meras bahwa tempat di sampingku benar-benar kosong.
"Bang.., "
Panggilku sambil menyibak selimut turun dari ranjang guna mencari suamiku. Ku lirik jam di ponselku menunjukan pukul tiga dini hari.
Aku mencari bang Andrian di setiap sudut kamar tapi tak mendapatinya. Seketika ada rasa takut menghantuiku, apalagi di rumah ini aku baru dua hari.
"Mungkin bang Andrian di bawah..,"
Gumamku langsung turun kebawah, setiap sudut ruangan di rumah ini sudah aku susuri tapi tak mendapati bang Andrian sama sekali. Hal itu membuat aku benar-benar takut, apa dia meninggalkan aku.
Astagfirullah...
Aku beristigfar cepat-cepat ketika ada prasangka buruk. Aku yakin bang Andtian masih ada di rumah ini. Aku tahu bang Andrian selalu saja suka membuat kejutan tak terduga padaku.
Aku teringat akan satu ruangan yang ada di lantai atas di mana itu ruang kerja bang Andrian. Kenapa aku tak kepikiran ke sana mungkin bang Andrian ada di sana. Aku tersenyum mengingat kebiasaan buruk suamiku kalau bekerja suka tak tahu waktu.
Dengan semangat aku menuju ruang kerjanya.
"Bang.., "
Panggilku sambil membuka pintu, seketika aku terdiam ketima melihat ruang kerja bang Andrian kosong. Aku masuk kedalam dan melihat di setiap sudut ruang kerja tetap saja aku tak menemukannya.
Rasa takut dan cemas kian menghantuiku membuat dimana sebenarnya suamiku. Kenapa dia tega meninggalkan aku di rumah seorang diri. Apa dia benar-benar meninggalkan aku setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Astagfirullah...
Ku tepis kembali prasangka buruk di hatiku, aku tak mau berprasangka buruk ketika hatiku terus di selimuti rasa takut. Aku harus bisa tenang dan berpikir jernih, semangatku.
Aku berlari kembali ke kamar guna mencari ponsel, satu-satunya aku harus meneleponnya.
__ADS_1
Rasa was-was dan takut membelengguku sambil menempelkan ponselku di dekat telingaku berharap bang Andrian mengangkat teleponku.
Pandanganku teralih pada suara ponsel yang tergeletak di samping ranjang. Aku memongut ponsel milik bang Andrian.
"Ke.. kenapa ponsel bang Andrian bisa ada di sini, sebenarnya kemana dia."
Monologku semakin bingung, bagaimana aku bisa tahu dimana bang Andrian berada, toh ponselnya juga ada di sini.
Jika memang bang Andrian ada urusan pekerjaannya bagaimana mungkin dia meninggalkan ponselnya atau ada hal lain!
Pikiranku terus berputar berusaha berpikir tenang dan jernih aku tak mau rasa takutku menggangu pikiranku hingga berprasangka buruk pada suamiku sendiri.
Aku mengecek ponsel bang Andrian siapa tahu aku menemukan petunjuk di sini. Aku tersenyum tetkala bang Andrian menjadikan potoku walfaper ponselnya. Tapi aku sedikit bingung, potho ini seperti potho lama. Entah dimana aku juga tidak tahu.
Ponsel jatuh, kemungkinan bang Andrian sedang buru-buru atau mendapat sesuatu yang mengejutkan. Tanpa pikir panjang aku mengecek via telepon masuk.
"Maafkan Laila bang sudah lancang membuka ponsel abang, "
"C.. cia? "
Monologku melihat panggilan masuk tepat jam dua belas malam. Siapa Cia, kenapa bang Andrian memberi tanda cinta di nama kontak itu, pikirku sakit.
Hatiku berdebar tak karuan seperti tercubit oleh sesuatu, mungkinkah bang Andrian mempunyai istri selain aku atau dia berselingkuh.
Pikiran buruk terus menghantui otakku berharap apa yang aku pikirkan tidak sesuai. Mataku kembali menatap panggilan masuk atas nama Cia, seketika hatiku sakit dan sesak jika benar bang Andrian selingkuh.
Ini lebih menyakitkan dari pada yang aku bayangkan jika itu benar adanya.
Aku memang belum mengenal lebih suamiku dari pada dia mengenalku. Tapi apa mungkin dia melakukan hal yang sama seperti apa yang mas Vandu lakukan.
Ya Robbi ya Kowiyu...
__ADS_1
Aku memegang dadaku yang tiba-tiba terasa sesak dan itu benar-benar sangat menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi padaku untuk kedua kalinya.
Rasanya baru kemaren dan malam tadi aku merasa bahagia tapi kenapa sepagi ini aku harus mengetahui hal yang begitu menyakitkan.
Allahu... Allahu... Ya Kowiyu...
Bibirku terus saja beristigfar semoga rasa yang menyesakan ini hilang. Tapi sayang ini semakin sakit tidak bisa aku bayangkan.
"Ba.. bang to.. tolong jangan lakukan.. "
"Ja.. jangan buat Laila harus berada di titik yang sama. L.. laila baru bangkit dan menerima abang, apa abang setega itu menyakiti Laila.., "
"Apa gunanya kejujuran jika abang tak pernah berubah. terus apa guannya selama ini abang belajar jika masih menyakiti, s.. sakit bang hiks.. hiks..., "
"Ujian apalagi ini!!! "
Aku mencengkram dadaku kuat, berusaha menghilangkan rasa sesak dan sakit yang begitu menggerogoti.
Entah sudah berapa lama aku menangis hingga aku mendengar suara adzan subuh.
*Ya Rohman ya Rohim ya Kowiyu... Kuatkan Laila menjalani ujian ini. Laila berserah padamu, Kau yang jauh lebih tahu akan kebenarannya. Kuatkan hati ini jika apa yang Laila pikirkan adalah kebenarannya.
Laila tahu, Kau tak akan pernah memberi ujian di batas kemampuan Laila. Laila berserah pada-Mu apapun yang akan terjadi pada Laila.
Ini keputusan Laila memilih Dia jadi imam Laila maka Laila siapa dengan apapun yang terjadi jika itu yang terbaik dari-Mu*.
Lantunan doa yang begitu membuatku lemah dan tak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan ini. Aku hanya bisa berserah pada Allah, Dia yang maha tahu garis takdir perjalananku.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote tambah Komen dan Hafiah he.. he...
__ADS_1