Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 25 Prov Vandu ( Sesakit, sepedih dan sehancur inikah sa.. sayang,)


__ADS_3

Bagai di sambar petir di siang bolong, dadaku sakit sangat sakit akan penolakan Laila dan dengan bodohnya aku malah menyakitinya kembali dengan mengatakan soal Cinta.


Aku begitu bodoh dan bodoh kenapa tidak bisa bersabar menunggu hati Laila pulih. Aku lupa kalau Laila pasti trauma dengan perlakuanku dan bodohnya aku malas membuat Laila semakin takut dan membenciku dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku bersujud memohon pada Laila supaya dia mau kembali di hadapan semua orang.


Hingga aku di kejutkan dengan kedatangan laki-laki bermata sipit yang mengaku kalau Laila adalah calon istrinya. Hatiku terasa di remas ketika Laila membenarkannya membuat hatiku benar-benar hancur. Tak ada lagi harapan dan kesempatan aku kembali padanya.


Dari kejadian itu Laila pergi entah kemana membuat aku sulit menemukannya. Aku prustasi dan membuat aku ketakutan takut kehilangan Laila.


Dengan bodohnya sekali lagi aku melakukan sebuah kesalahan. Aku menyuruh orang mencelakai bibi Aisyah bibinya Laila, supaya Laila muncul.


Dugaanku benar Laila langsung pulang ketika mendengar bibinya mengalami kecelakaan. Maptaku dan hatiku gelap akan semuanya.


Apa aku salah ingin memiliki Laila kembali seutuhnya. Aku tidak terima kalau ada laki-laki lain yang mendapatkan cinta Laila. Hanya aku dan aku tetap aku yang harus mendapatkan Laila kembali bukan orang lain. Aku yakin Laila masih mencintaiku dan mau memaafkan kesalahanku. Laila pasti mau kembali padaku, dengan kesungguhanku ini.


Bahkan aku menyuruh kedua orang tuaku ke Jakarta membantu aku menyakinkan Laila kalau aku benar-benar sudah berubah dan akan memperbaiki semuanya. Aku tidak sanggup jika aku harus melihat Laila bersanding dengan orang lain. Laila harus menjadi miliki untuk selamanya.


Dengan percaya diri aku datang ke kediaman Al-muzaky beserta kedua orang tuaku karena mereka baru sampai kemaren.


Awalnya kedatanganku di tolak oleh kedua paman Laila membuat aku terus memohon pada kedua paman Laila untuk mempertemukan aku dengan Laila. Tetapi kedua paman Laila tetap mengusirku dan tidak akan pernah mengizinkan aku bertemu dengan Laila.


Hingga aku merasa bahagia ketika Laila mengijinkan aku dan kedua orang tuaku masuk. Dugaanku semakin yakin kalau Laila mau memaafkan dan kembali padaku melihat Laila tak mengusirku seperti sebelumnya.


Aku duduk di samping mamah, entah kenapa tenggorokanku terasa tercekik membuat aku sulit berbicara. Apalagi kedua paman Laila dan bibi Melati menatapku tajam seakan mengulitikku. Berbeda dengan bibi Aisyah yang menatapku datar seolah tak peduli dengan keberadaanku.


Hingga akhirnya mamah bersua mewakili aku yang begitu sulit berbicara. Apalagi Laila memandangku tidak seperti dulu.


"Mamah, minta maaf atas semua perlakuan mamah selama ini padaku kamu, Nak. "


"Begitu pun ayah. Ayah merasa gagal sebagai ayah. Harusnya ayah menjadi mertua dan ayah yang tegas dalam menyikapi masalah kalian. Maafkan ayah selama ini selalu diam ketika kamu di cemooh oleh keluarga kami dan bahkan ayah juga diam ketika kamu di perlakukan tidak adil oleh anak ayah bahkan sampai membuang kamu, maafkan ayah, Nak."


"Kenapa baru sekarang kalian datang, kenapa? "


Aku terhenyak mendengar ucapan Laila yang begitu penuh luka membuat aku merasa bersalah dan merutuki kebodohanku yang sudah menyia-nyiakan gadis setulus Laila. Aku masih saja diam membiarkan mamah berbicara.


"Dan mamah, mohon kembalilah pada putra mamah. Kasihi dia, Vandu sangat mencintaimu, Nak. Lihatlah setiap hari dia hanya menangis merasa bersalah pada kamu. Izinkan Vandu memperbaiki semuanya, "

__ADS_1


"Sayang, aku mohon! maafkan semua kesalahanku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon aku ingin rujuk? "


Sekian lama aku memberanikan diri bersua memohon belas kasih Laila supaya menerimaku kembali. Bahkan aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya.


"Aku tidak mau, tolong mengertilah! "


"Sayang aku mohon!"


Ucapku memelas dengan tatapan kecewa ketika Laila terus menolakku.


"Nak, tolong berilah kesempatan pada putra mamah."


"Mamah jamin, Vandu tidak akan menyakiti hati kamu lagi! kalau sampai itu terjadi mamah yang akan menghukumnya."


"Maafkan Laila, Mah. Laila tetap tak mau, "


"Nak! "


Deg...


"Berdirilah, Mah. "


"Tidak nak. Mamah akan tetap seperti ini asal kamu mau memaafkan kami dan menerima kembali putra mamah."


"Berdirilah, Mah. Jangan hinakan diri mamah di hadapan manusia. Karena yang pantas mamah sujud bukan aku tetapi Allah. Jangan tarik aku kedalam dosa besar, "


"Nak, "


"Sayang,"


Aku kembali besua dengan menangkupkan kedua tanganku bersujud seperti mamah di hadapannya. Aku ingin meraih tangan Laila tetapi dengan cepat Laila mundur membuat hatiku tercubit bahkan dengan tegasnya Laila kembali menolakku.


"Aku tetap pada keputusanku, Mas. Maafkan Laila, "


"Jangan egois Laila, kenapa kamu tidak mau memaafkan kesalahan kami. Vandu sudah sangat menyesal dan bahkan mamah merendahkan diri mamah hanya ingin kamu memaafkan kesalahan Vandu? "

__ADS_1


"Mamah bilang aku egois! Apa mamah pernah bertanya seberapa besar aku menahan rasa sakit selama ini. Aku diam karena aku menghormati mamah tetapi kalian sudah melewati batas. Mamah hanya penduli tentang rasa sakit mas Vandu tetapi mamah tak peduli dengan rasa sakitku dan penderitaanku selama ini. Mamah hanya peduli akan kebahagiaan mas Vandu tampa berpikir akan kebahagiaanku. Kalian hanya peduli mas Vandu tetapi kalian tak pernah bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja atau tidak. Lalu siapa di sini yang egois!!!"


Aku terhenyak mendengar bentakan Laila yang begitu penuh emosi. Baru pertama kali aku mendengar bentakan Laila dan tatapan Laila yang mengembun penuh kesakitan dan penderitaan. Membuat aku benar-benar sakit yang teramat.


Sebegitu besarkah kamu menderita oleh kelakuanku, sayang. Maafkan aku tolong maafkan aku. Maafkan aku yang tak peduli rasa sakitmu dan dengan bodohnya aku meminta kamu kembali tanpa berpikir untuk mengobati lukamu, jerit batinku sakit.


"Aku kecewa, "


Hatiku sekali lagi di tikam oleh ribuan panah membuat dadaku sesak dan sakit mendengar ucapan penuh luka. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan air mata yang sendari tadi keluar tak bisa ku bendung lagi. Bahkan mamah dan ayah pun bungkam tidak bersua lagi.


Aku menatap nanar Laila yang menatapku penuh kebencian membuat aku sangat sakit dan sakit. Aku mencoba sekali lagi mendekat dan


"Sa.. sayang aku mo.. mohon .., "


"Sa.. sayang tolong ma .., "


"Jangan ganggu calon istriku? "


Duarrr ...


Jantungku seakan mau lepas dari tempatnya mendengar suara bass seseorang berkata dengan tegas. Aku seperti tidak asing dengan suara ini membuat aku melirik kearah sumber suara. Seketika mataku melebar melihat laki-laki bermata sipit itu lagi datang membuat aku mengepalkan tangan menahan emosi yang memuncak.


Aku menatap nanar Laila seakan meminta penjelasan kalau apa yang di ucapkan laki-laki bermata sipit itu tidak benar.


"Yang dikatakan dia memang benar. Dia calon suamiku, jadi stop menggangu aku lagi. Kisah kita sudah usai setelah mas membuangku jadi mari kita jalani hidup kita masing-masing!"


Setetes cairan bening keluar dari pelupuk mataku. Jawaban tegas tanpa keragu-raguan Laila membuat dadaku sakut dan perih. Sangat sakit dan sesak bagai di hempit batu besar.


Aku tidak percaya Laila semudah itu melupakanku, aku masih yakin Laila masih mencintaiku. Tetapi harapanku sungguh musnah seakan aku benar-benar terlempar kedasar jurang kesakitan ketika melihat Laila tersenyum pada laki-laki lain bahkan matanya berbinar seolah memancarkan kebahagian dengan kedatangan laki-laki itu.


Sesakit inikah yang kamu rasakan sayang. Sepedih inikah, sehancur inikah sa.. sayang. Maafkan aku sayang maaf...


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Votenya yang Cinta he.. he...

__ADS_1


__ADS_2