
Tanpa lelah aku terus saja mengelilingi rumah baru kami. Rumah yang cukup besar dengan gaya Klasik dan Modern di ruang tertentu.
Aku tak menyangka suamiku sudah mempersiapkan semuanya.
Aku merasa takjub dengan taman yang ada di belakang rumah, dimana ada beberapa tumbuhan bunga menghiasi taman itu. Bahkan di balkon kamarku terlihat jelas dan indah dimana tumbuhan bunga itu sengaja di tanam dengan posisi membentuk namaku dan nama suamiku sangat indah dan menakjubkan.
Grep...
Aku tersenyum ketika tangan kekar suamiku melingkar indah di pinggangku dengan kepala di simpan di pundakku.
"Kamu suka sayang? "
"Subhanallah ini sangat indah bang, Laila suka, "
Ucapku tersenyum bahagia sambil mengelus-elus tangan kekar suamiku yang melingkar indah di pinggangku.
Aku berbalik menghadapnya sambil menyenderkan punggungku di balkon dengan tangan mengalung indah di leher kokoh suamiku. Sedangkan kedua tangan suamiku masih setia berada di kedua sisi pinggangku.
"Ini sungguh kejutan yang dangat indah, terimakasih bang.., "
"Apapun untukmu sayang, "
"Oh ya, kita dari kemaren tak pulang kerumah Laila takut bibi mencemaskan kita? "
"Jangan kewatir, abang sudah memberitahu orang rumah kalau kita sedang bulan madu! "
Bluss...
Pipiku memanas mendengar ucapan abrusadt suamiku sungguh dia begitu mesum.
"A.. abang beneran bilang begitu? "
"Hm, "
__ADS_1
"Awwss.., sayang.., "
"Habis malu-maluin,"
Kesalku mencubit perut suamiku dengan rona malu pasti masih terlihat jelas di wajahku.
Mata kami saling tatap masuk kedalam bola mata masing-masing. Memancarkan pancaran cinta yang begitu menggebu.
Entah keberanian dari mana tanganku telurur mengelus rahang kokoh suamiku sampai aku meneguk ludahku kasar. Aku wanita normal apa lagi ini bukan hal pertama bagiku dan aku menginginkan lebih. Biarlah orang berkata aku murahan, toh aku bersikap apa suamiku sendiri. Tidak ada yang salah dengan pikiran jauhku karena apa yang aku lakukan semata-mata ingin mendapat pahala.
Tidak ada yang melarang istri menggoda suami atau menginginkan duluan, karena itu wajib bagi istri menyenangkan suami bukan suami mulu yang menyenangkan istri. Kita juga sebagai istri harus pandai-pandai menyenangkan suami. Supaya suami kita juga merasa di inginkan dan cintai.
Aku menatap intens suamiku, hal yang baru aku lakukan karena dulu aku tak berani menatap dalam mata suamiku. Tapi sekarang aku berani karena sudah tak ada jarak antara aku dan dirinya semuanya sudah menyatu.
Mungkin aku tak pandai berkata manis dari dulu, tapi aku bersikap manis dengan tingkahku bukan ucapanku karena aku suka merasa geli mendengarnya sendiri tapi aku suka jika suamiku yang mengatakannya.
"Kenapa sayang, apa kau menginginkanku? "
Celetukku tanpa sadar sambil membelai wajahnya. Tapi, aku menyerngit bingung kenapa bang Andrian wajahnya semakin memerah seperti menahan sesuatu dan itu membuat aku panik.
"Abang kenapa, kok mukanya merah? "
Tanyaku polos karena aku benar-benar tak tahu dan bingung kenapa suamiku wajahnya memerah seperti dia menginginkan sesuatu. Wajah merah ini sama persisi seperti malam panjang yang kami lewati.
Grep...
"Oh s.. sayang apa kamu merasakannya? "
Seketika aku membelalakan kedua mataku ketika merasa sesuatu yang mengganjal di perutku ketika bang Andrian semakin memelukku erat.
"Abang menginginkannya? "
"Hm, sa.. sayang..,"
__ADS_1
"Maka lakukanlah.., "
Ucapku polos sambil membelai wajahnya kembali tapi bang Andrian malah menggeleng dan itu membuat aku bingung. Jika bang Andrian menginginkanku kenapa gak langsung meminta tapi dia malah menahannya.
"Jangan di tahan bang, nanti abang sendiri yang tersiksa. Laila siap melayani abang? "
"Ta.. tapi sebentar lagi mau... "
Allahuakbar Allahuakbar....
Deg...
Aku tertegun mendengar suara adzan magrib hingga aku repleks memutar pandanganku. Aku baru menyadari kalau hari sudah mulai gelap. Kenapa aku tak menyadarinya, apa aku terlalu terpesona melihat wajah tampan suamiku dari jarak sedekat ini, pikirku sambil cengengesan memperlihatkan deretan gigi putihku.
"Sa.. sayang...,"
"Sabar ya, kita sholat Allah sudah memanggil! "
"Tap.., "
"Abang bisa tahankan? "
Aku tersenyum geli ketika bang Andrian mengangguk pasrah. Ternyata aku salah waktu menggodanya. Ingin sekali aku tertawa melihat tingkah lucu suamiku tapi aku juga merasa kasihan padanya. Tapi ada rasa kagum juga ternyata bang Andrian membiarkan dirinya tersiksa oleh hasrat memilih melakukan kewajiban yang lebih utama dulu di banding memenuhi hawa nafsunya.
Karena sesungguhnya perintah Allah lebih utama dari segala hal apapun.
Ku lihat bang Andrian terlihat segar kembali ketika sudah wudhu, kamipun langsung melaksanakan kewajiban kami berjamaah.
Ya Allah lindungilah selalu rumah tangga Laila, jikapun nantinya ada badai yang menggoyangkan rumah tangga Laila Laila mohon semoga Laila bisa kuat menghadapinya.
Bersambung....
Jangam lupa Like dan Vote...
__ADS_1