Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 23 Keputusanku!


__ADS_3

Aku berlari tergopoh-gopoh menuju kediaman Al-muzaky. Bahkan aku lupa untuk mematikan mobil yang aku berhentikan asal.


Kabar tadi siang membuat aku terkejut dan langsung pulang dari lestoran ke kediaman Al-muzaky. Sudah terlalu lama aku tidak pulang membuat aku tidak tahu keadaan orang rumah dan apa yang terjadi.


Bahkan tidak ada satu pun orang yang memberi tahu atas kejadian yang menimpa bibi. Kalau bukan Ali yang meneleponku. Bahkan Bagas pun tak memberi tahuku membuat aku kesal.


"Assalamualaikum..., "


Aku membuka pintu ruang utama sangat kencang sambil mengucapkan salam menerobos masuk menuju kamar bibi Aisyah.


"Nak, kamu sudah pulang? "


Aku tidak menghiraukan paman Fahmi mataku hanya tertuju pada bibi Aisyah yang sedang berbaring dengan perban di kepalanya.


"Astagfirullah, bibi apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tidak ada yang memberi tahuku. Sudah tiga hari bibi kecelakaan dan baru tadi Ali memberi tahu? "


"Jawab paman, kenapa? dan dan siapa yang melakukan ini? "


"Paman bibi kenapa kalian diam!"


"Sayang ..., "


Aku terhenyak mendengar suara bibi Aisyah, aku langsung berbalik memegang tangan bibi Aisyah.


"Bi ..., "


"Bibi tidak apa-apa, ini hanya luka kecil!"


"Luka kecil bagaimana bibi. Lihat, kepala bibi di perban dan ini tangan bibi dan juga kaki bibi pasti sulit berjalan."


"Ini musibah sayang. Ini juga salah bibi tidak hati-hati dalam menyebrang, "


"Apa penabraknya tanggung jawab?"


"Kabur! tapi kamu tenang saja, paman sudah menyelidikinya!"

__ADS_1


Aku tidak habis pikir siapa yang berani mencelakai bibi Aisyah. Setahuku bibi Aisyah tidak mempunyai musuh. Apa saingan bisnis bibi Aisyah? atau musuh paman di partai. Entahlah aku tidak tahu dan tak mau berprasangka buruk pada orang lain.


Ujian seakan silih berganti datang menghampiri aku dan keluargaku. Aku hanya mencoba berusaha tenang dan berpikir jernih kalau ini hanya sebuah ujian dari Allah untuk menguji diriku dan keluargaku.


Aku habiskan waktuku merawat bibi Aisyah seperti bibi Aisyah merawatku ketika aku terpuruk. Bibi Aisyah sudah aku anggap mamahku sendiri sama seperti bibi Melati. Hanya saja aku tidak terlalu dekat dengan bibi Melati seperti aku dekat dengan bibi Aisyah. Mungkin karena bibi Melati terlihat cuek dan sibuk. Tetapi, kasih sayang kedua bibiku pada diruku sama, sama-sama besarnya layaknya aku anak sendiri. Apa lagi bibi Melati tidak punya anak perempuan, jika tentang keselamatanku maka bibi Melati yang paling panik sedang bibi Aisyah selalu berusaha bersikap tenang dalam menghadapi apa pun.


Sama seperti saat sekarang ini, bibi Aisyah walau pun sakit masih bisa bersikap tenang bak air mengalir menghadapi keluarga mantan suamiku.


Ya, sudah satu minggu aku berada di kediaman Al-muzaky karena bibi Aisyah sakit hari ini kedatangan kedua mertuaku di Bandung. Mungkin aku dan mas Vandu sudah selesai dan ada benteng yang di sebut mantan. Tetapi dengan kedua mertuaku tak ada benteng sama sekali. Karena tak ada mantan sampai kapan pun antara hubungan mertua dan menantu.


Aku terpaksa mempersiapkan mereka masuk karena ku ingin menyudahi semuanya. Aku tidak ingin hidupku terus di bayang-bayangi mas Vandu. Aku hanya ingin tenang, hidup normal menjalani kehidupanku tanpa ada rasa sesakitan dan penghianatan lagi.


"Mamah, minta maaf atas semua perlakuan mamah selama ini padaku kamu, Nak. "


"Begitu pun ayah. Ayah merasa gagal sebagai ayah. Harusnya ayah menjadi mertua dan ayah yang tegas dalam menyikapi masalah kalian. Maafkan ayah selama ini selalu diam ketika kamu di cemooh oleh keluarga kami dan bahkan ayah juga diam ketika kamu di perlakukan tidak adil oleh anak ayah bahkan sampai membuang kamu, maafkan ayah, Nak."


"Kenapa baru sekarang kalian datang, kenapa? "


Lilirku benar-benar kecewa dengan apa yang terjadi. Ingin sekali aku meluapkan semua emosi yang ada di dada, tetapi aku coba berusaha kuat. Aku tak mau terlihat lemah di hadapan mereka dimana dulu aku harus selalu di cemooh.


Mereka terdiam menunduk seakan benar-benar merasa bersalah. Tetapi sayang, mereka sama saja seperti mas Vandu mereka hanya peduli tentang mas Vandu. Lalu apa kabar rasa sakit ku, bahkan mereka tak memperdulikannya dan itu semua membuat aku benar-benar yakin untuk tak kembali lagi dengan mas Vandu.


"Sayang, aku mohon! maafkan semua kesalahanku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon aku ingin rujuk? "


"Aku tidak mau, tolong mengertilah! "


Tegasku tak ada keraguan sedikitpun bahkan aku tak lagi menunduk. Aku menatap dingin mas Vandu seolah ku tunjukan sudah tak ada cinta lagi di diriku.


"Sayang aku mohon!"


"Nak, tolong berilah kesempatan pada putra mamah."


"Mamah jamin, Vandu tidak akan menyakiti hati kamu lagi! kalau sampai itu terjadi mamah yang akan menghukumnya."


"Maafkan Laila, Mah. Laila tetap tak mau, "

__ADS_1


"Nak! "


Aku membelalakan mataku ketika mamah mertuaku bersujud membuat aku repleks berdiri lalu melangkah mundur. Aku tidak menyangka mamah mertua akan melakukan itu membuat hatiku sakit.


Di mana wajah angkuh dan sombongnya dulu. Tapi sekarang mamah mertua bersujud hanya ingin aku kembali pada mas Vandu, sungguh aku tidak menyangka.


"Berdirilah, Mah. "


"Tidak nak. Mamah akan tetap seperti ini asal kamu mau memaafkan kami dan menerima kembali putra mamah."


"Berdirilah, Mah. Jangan hinakan diri mamah di hadapan manusia. Karena yang pantas mamah sujud bukan aku tetapi Allah. Jangan tarik aku kedalam dosa besar, "


"Nak, "


"Sayang, "


Aku memejamkan kedua mataku dengan tangan mengepal. Aku tidak menyangka mereka akan melakukan itu hanya ingin membuat aku kembali pada putranya.


"Aku tetap pada keputusanku, Mah. Maafkan Laila, "


"Jangan egois Laila, kenapa kamu tidak mau memaafkan kesalahan kami. Vandu sudah sangat menyesal dan bahkan mamah merendahkan diri mamah hanya ingin kamu memaafkan kesalahan Vandu? "


"Mamah bilang aku egois! Apa mamah bertanya seberapa besar aku menahan rasa sakit selama ini. Aku diam karena aku menghormati mamah tetapi kalian sudah melewati batas. Mamah hanya penduli tentang rasa sakit mas Vandu tetapi mamah tak peduli dengan rasa sakitku dan penderitaanku selama ini. Mamah hanya peduli akan kebahagiaan mas Vandu tampa berpikir akan kebahagiaanku. Kalian hanya peduli mas Vandu tetapi kalian tak pernah bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja atau tidak. Lalu siapa di sini yang egois!!!"


Geramku, habis sudah kesabaranku kali ini. Bagaimana bisa mamah mertua berkata aku egois. Bukankah mereka yang egois, memintaku kembali tanpa bertanya dulu apa aku sudah sembuh atau belum dengan luka itu. Apa aku baik-baik saja atau tidak, lalu siapa disini yang paling egois.


"Na.. nak ka.. kami tidak bermaksud seperti itu. Ma .., "


"Aku kecewa! "


"Sa.. sayang tolong ...,"


"Jangan gangu calon istriku? "


Duarrrr ....

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Vote ya Cinta...


__ADS_2