
Sungguh aku tidak bisa berkata apa pun, sangat sulit aku percaya mendengar apa yang laki-laki bermata sipit itu katakan dan aku masih ingat jelas.
Padahal kejadian itu tadi siang kenapa sampai sekarang terus terngiang di telingaku. Perkataan itu bagai alarm pengingat supaya aku tak melupakannya dan itu sungguh membuatku pusing tujuh keliling.
"Kedatangan saya kesini mau melamar kamu, saya juga sudah mengatakannya pada keluarga kamu. Mereka hanya menunggu keputusan kamu, "
"Saya ingin kamu menjadi istriku dengan semua kekurangan kamu. Karena saya sudah tahu luar dalam kamu, saya menerimanya! "
"Saya tidak memaksa kamu menerima saya tetapi saya tidak mau ada penolakan dan jangan buat saya menunggu? "
"Saya melamar kamu sendirian karena saya tak punya ke dua orang tua, tiga hari lagi saya kesini meminta jawaban kamu. Semoga tak mengecewakan, "
"Jika kamu tak mau menerima saya, saya akan menikahi kamu dengan paksa! "
"Saya pulang dulu, jaga kesehatan dan ingat jangan kabur!!! "
Aku menenggelamkan wajahku di balik bantal dan menjerit sejadi-jadinya sampai aku merasakan sesak. Ucapan laki-laki bermata sipit itu terus terngiang di telingaku ketika laki-laki itu mengajakku bicara berdua.
Sungguh aku seakan tidak percaya dan itu malah membuat aku pusing harus bagaimana. Rasanya hidupku terus di terpa masalah. Ya Robbi apa ini, ujian apalagi ini. Kenapa secepat ini Kau hadirkan kembali masalah ketika satu masalah sudah selesai.
"Ahh ..., "
Aku menjerit merasa kesal mengingat perkataan laki-laki bermata sipit itu.
"Apa! dia melamarku! apa ini mimpiiii. Jika iya tolong jangan bangunkan aku,"
Mohonku bingung, kesal, marah bercampur jadi satu.
"Bahkan dia memaksa aku, dan memberiku waktu kurun tiga hari. Apa-apa ini, sungguh laki-laki aneh."
"Bahkan dia tak membiarkan waktu aku bicara, dia bicara sendiri sudah puas langsung pergi meninggalkan aku yang melongo. Ya Allah apa ini ..., "
__ADS_1
Monologku benar-benar kesal dengan laki-laki bermata sipit itu. Dia datang tiba-tiba dan melamar aku. Bahkan memaksa aku untuk menerimanya. Emang aku ini barang apa yang seenaknya dia pilih dan harus dia dapatkan. Bahkan aku sudah bersumpah tak akan ada lagi pernikahan kedua dalam hidupku. Aku terlalu takut takut akan terbuang lagi. Laki-laki itu sama saja, di pemaksa dan membuat aku kesal. Kenal enggak, langsung melamar dan tak memberiku jeda untuk mengungkapkan isi hatiku.
Membuat aku takut takut akan semuanya, sungguh laki-laki itu membuat diriku berada di titik ketakutan.
Bagaimana jika ancamannya benar! kalau aku menolak dia akan memaksa menikahi aku. Bagaimana ini! bahkan hatiku belum reda dari rasa sakit kenapa aku harus merasa ketakut sekarang.
Dia laki-laki sama saja seperti mas Vandu pemaksa dan aku tak menyukai itu.
Kenapa semua orang tidak mengerti tentang perasaanku, aku bukan barang yang harus di lempar sana sini. Aku juga berhak memilih dan memutuskan bagaimana jalan hidupku.
Bahkan laki-laki sipit itu bilang dia sudah tahu luar dalamku. Mengingat itu membuat aku terdiam. Apa yang laki-laki itu maksud! apa dia sudah tahu semua tentangku, masalahku! dia melamarku karena kasihan melihat hidupku yang menderita. Sungguh malang sekali nasibku, kenapa harus begini? kenapa?
Bahkan aku tidak tahu siapa laki-laki itu! tetapi dengan entengnya dia tahu masalahku. Siapa dia sebenarnya kenapa harus tahu tentang aku, kenapa?
Apa aku semenyedihkan itu hingga orang lain sampai tahu. Apa aku selemah itu tidak bisa berdiri walau sendiri.
Ya Allah apa yang harus Laila putuskan, Laila sungguh bingung dan takut, jerit batinku.
Kenapa harus ada orang lain yang tahu tentangku. Padahal aku tidak menceritakannya sama sekali pada siapapun. Bahkan pada Wina pun sekalian, tetapi Wina dan Amira mengerti tanpa harus ku ceritakan pada dasarnya ketika aku sudah siap aku akan bercerita hanya ingin menemukan kekuatan dan saran suapaya aku tidak salah bertindak.
Ku pejamkan mataku mengatur emosiku yang ada. Aku berharap perputaran waktu berhenti agar aku tak berada di tiga hari kedepan.
Semuanya membingungkan bagiku, lamaran mendadak itu sudah membuatku shok di tambah dengan ancamannya membuat aku benar-benar tak bisa berpikir.
Bahkan yang lebih menyedihkan lagi dia melamar tetapi tak memberi tahukan namanya, lucu bukan. Ini seperti lelucon tetapi perkataan laki-laki bermata sipit itu begitu serius. Kata-kata ancaman yang begitu tegas dan tak ada bantahan.
"Bukankah aku berhak menolaknya? "
Monologku sambil menyeka air mata ku yang keluar.
Rasanya hati sakit sekali harus terus berada di titik lembah kesakitan. Rasanya aku tidak kuat menghadapi ini semuanya. Kenapa hatiku tak tenang, bahkan ujian terus saja bertubi-tubi menghampiriku dan sekarang datang masalah baru.
__ADS_1
Tidak bisakah orang-orang memberiku waktu dan ruang untuk menata hati dan pikiranku kembali. Aku terlalu takut rasa sakit itu kembali datang, bahkan sampai sekarang hati ini masih bergelut dengan naluriku.
Perlakuan mas Vandu benar-benar membuat aku trauma akan membuka hatiku untuk orang lain. Sedang hati ini masih sama, menyimpan satu nama yang sudah menolerkah luka dalam di hatiku.
Aku hanya ingin waktu untuk meredahkan segala rasa yang menyesakan.
Tetapi alam seakan mempermainkan hidupku lagi. Kenapa takdir ini begitu menyakitkan.
Ya Robbi Laila tak sekuat itu, Laila terlalu takut takut akan kesakitan lagi. Hati ini terlalu sakit, sulit untuk membuka kembali. Biarkan Laila menutupnya untuk menyembuhkan luka ini. Jangan tambah lagi luka sedang Laila belum bisa menyembuhkan luka lama.
Laila begitu munafik dan naif, Laila dengan mudah mengucap kata memaafkan tetapi hati ini hati ini terlalu sulit untuk memaafkannya. Maafkan Laila, maafkan Laila yang lemah tak berdaya ini. Sedang Engkau dzat yang maha Kuat.
Apa yang harus Laila lakukan ya Robb, berilah petunjukmu agar Laila tidak salah melangkah dan tidak salah dalam mengambil keputusan. Engkau yang maha tahu baik buruknya untuk Laila, Laila mohon bantu Laila dan bingbing Laila agar tetap di jalanmu. Jangan jadikan permasalahan yang Laila hadapi membuat Laila kupur atas syukur yang harusnya Laila lakukan. Laila pasrahkan semuanya kepadamu ya Rohman ya Kowi.
Ku hentikan doa di sujud malam panjangku. Memohon ampun dan petunjuk dari segala kegundahan hati ini.
Aku hanya bisa menangis dan menangis mengingat waktu yang ku habiskan mengabdi pada mas Vandu. Hingga berakhir seperti ini.
Rasanya baru kemaren aku merasa bahagia bersama orang yang aku cinta. Dengan sekejap mata aku terlempar dengan kesakitan yang nyata. Oleh penghianatan, ketidak adilan dan membuangku begitu saja.
Hingga Allah putar balikan keadaan, ketika mas Vandu berbalik berada di titik aku dulu.
Sorot mata penyesalan dan permohonan begitu jelas di ingatanku membuat hatiku terenyuh. Tetapi ketika aku mengingat rasa sakitku, aku seolah tak perduli lagi dengan apa yang mas Vandu rasakan. Bahkan aku bersikap kasar padanya, aku cuma lelah lelah di sakiti.
Salahkah aku begitu kejam kepada mas Vandu? atau aku terlalu baik padanya!
Ya Rohman ya Rohim Engkau yang maha tahu jalan terbaik yang Laila harus lalui ...,
Bersambung....
Jangan Lupa Like dan Vote nya he.. he. .
__ADS_1