Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 32 Tersenyum untuk pertama kali


__ADS_3

Aku sedikit kecewa jika Asma dan keluarganya menganggap ucapanku hanya candaan sebatas menolong Asma dari keluarga mantan suaminya.


Bahkan Asma dan keluarganya mengucapkan terimakasih atas apa yang aku lakukan. Padahal apa yang aku cucapkan adalah benar. Aku ingin melamar Asma bukan membantu mengusir keluarga mantan suami Asma.


"Saya mau melamar Asma! "


Ucapku sepontan membuat Asma melotot bahkan keluarganya juga terkejut mendengar ucapanku. Ku lihat Asma melotot ke arah Bagas, tapi aku tidak tahu arti tatapan itu.


Hingga Asma pamit ingin berbicara pada Bagas berdua. Kini aku menghadapi berbagai pertanyaan dari keluarga Asma.


"Saya serius ingin menjadikan Asma istri saya, "


"Ta .., "


"Maaf paman, saya tahu apa yang di takutkan paman dan bibi. Saya menerima masa lalu Asma bahkan saya tak peduli jika Asma tak akan bisa punya anak! "


"Nak, bagaimana kamu bisa tahu?"


"Maaf bibi, saya tahu semaunya dari Bagas. Saya sudah lama meyakinkan hati saya kalau saya menerima Asma apa adanya dan tak mempermasalahkan kekurangan Asma. Saya tahu kalian pasti ragu dan saya memakluminya tapi saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan saya ingin menjadikan Asma istri saya. "


"Jika memang benar begitu, kami serahkan semuanya pada keponakan kami, Nak. Karena Asma yang akan menjalani kehidupannya. Apapun nanti keputusan Asma semoga kamu menerimanya."


"Baik paman, terimakasih."


"Kami cuma berpesan jangan sakiti keponakan bibi, Asma sudah cukup menderita dengan semuanya. Asma gadis baik dan penurut,"


Aku hanya memangut-mangut mendengar kisah pilu Asma dari bibi dan paman Asma. Membuat aku sakit seakan aku bisa merasaakan penderitaan Asma.


Lama aku menunggu Asma dan Bagas tetapi dua manusia itu tak kunjung kembali membuat aku pamit untuk menyusul dengan alasan aku ingin berbicara berdua dengan Asma.


Aku berjalan ke arah taman dimana bibi Asma memberi tahu kalau Asma dan Bagas ada di sana.


Hatiku sedikit cemburu melihat Asma begitu nyaman di pelukan Bagas.


"Ehemm.., "

__ADS_1


Asma dan Bagas melepaskan pelukannya ketika mendengar dehemanku mungkin mereka berdua terkejut atas kedatanganku. Tetapi aku tidak peduli, hingga aku menatap Bagas mengisyaratkan kalau aku ingin berbicara dengan Asma.


Bagas pun mengerti dan langsung pergi, sedangkan Asma hanya diam tak bersua sedikit pun bahkan tatapannya entah kemana padahal ada aku di hadapannya. Benar kata Bagas Asma berbeda bahkan pandangannya juga Asma jaga.


"Asma saya serius dengan ucapan saya, "


Ucapku sedikit gugup karena baru kali ini aku berbicara lembut pada seseorang. Aku terdiam memunggu Asma bersua tetapi Asma tak kunjung bicara.


"Kedatangan saya kesini mau melamar kamu, saya juga sudah mengatakannya pada keluarga kamu. Mereka hanya menunggu keputusan kamu, "


"Saya ingin kamu menjadi istriku dengan semua kekurangan kamu. Karena saya sudah tahu luar dalam kamu, saya menerimanya! "


"Saya tidak memaksa kamu menerima saya tetapi saya tidak mau ada penolakan dan jangan buat saya menunggu? "


"Saya melamar kamu sendirian karena saya tak punya ke dua orang tua, tiga hari lagi saya kesini meminta jawaban kamu. Semoga tak mengecewakan, "


"Jika kamu tak mau menerima saya, saya akan menikahi kamu dengan paksa! "


"Saya pulang dulu, jaga kesehatan dan ingat jangan kabur!!! "


Entahlah apa yang di pikirkan Asma tentangku. Asma pasti bingung dengan tiba-tiba aku melamarnya. Aku hanya tidak ingin ada yang dahuluiku. Bisa saja mantan suami Asma akan kembali meminta Asma rujuk dan itu tidak akan ku biarkan.


Bilang saja aku egois tetapi itulah aku, siapapun yang aku inginkan dia harus menjadi milikku.


Menunggu tiga hari begitu sangat lama bagiku kenapa aku tidak memintanya satu hari saja untuk menjawab. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba berdebar kencang. Besok adalah hati terakhir aku menunggu jawaban Asma dan entah kenapa membuat aku takut kalau Asma menolakku. Bagaimana kalau dia tahu tentang masa laluku yang begitu gelap dan dia tidak mau denganku yang penuh dosa. Ya Rohman, bukankah Engkau yang maha membolak balikan hati. Aku seorang pendosa memohon ampun dan jangan Kau buat Asma menolakku besok, gumamku dalam hati mendoa tulus. Rasanya baru kali ini aku percaya akan kekuatan doa kalau Allah pasti mengabulkan doa hambanya yang meminta.


Tetapi, ada satu yang aku takutkan Asma tak menerima masalalu yang begitu bejat. Sudah aku putuskan aku mengirimnya pesan dan menceritakan sebuah kisah kelamku. Aku hanya tak ingin ada orang lain yang mendahului ke jujuranku. Entah kenapa aku seperti ini, aku benar-benar takut kehilangan Asma.


Dengan tangan gemetar aku menulis pesan, memang aku sudah lama mendapat nomor Asma dari Bagas cuma kali ini baru aku memberinya pesan. Aku tidak peduli apa anggapan Asma tentangku besok yang penting aku sudah jujur. Apapun jawaban Asma besok aku akan menerima dan memahami alasannya, walau aku tak rela jika Asma menolakku.


Satu, dua, tiga, empat pesan sudah aku kirim dan aku terus mengirim pesan pada Asma menceritakan tentang masa laluku.


Hingga sampai seratus pesan aku kirim walau tanganku pegal tetapi aku sedikit lega karena sudah menceritakannya. Jantungku berdebar ketika Asma langsung membaca pesanku.


Satu detik, lima detik sampai satu jam aku menunggu tetapi sama sekali tidak ada balasan membuat aku begitu cemas. Apa sekarang yang Asma pikirkan tentangku, ku tatap rembulan yang begitu indah memancarkan cahayanya membuat hati ku sedikit tenang melihatnya.

__ADS_1


Ya Robb, Engkau yang menciptakan rembulan itu dengan sangat indah dan sempurna membuat hatiku tenang kala melihatnya. Aku mohon semoga jawaban Asma seperti rembulan menenangkan penglihatan dan pendengarku ketika mendengar jawaban yang terpancar dari bibir dan matanya.


Aku sangat gugup di hadapi dalam situasi seperti ini. Dimana aku sudah duduk di hadapan keluarga besar Al-muzaky. Aku menunggu jawaban Asma yang sendari tadi hanya diam. Tetapi, aku berusaha tenang dan mempertahankan wajah datar seperti biasa.


"Maaf tuan Andrian, Lian atau Chu entah apa saya harus memanggil anda,"


Aku mendongkak menatap Asma ketika mendengar suara Asma mengalun indah di pendengaranku. Membuat aku menyunggingkan senyum tipis.


"Bukankah anda seorang bos, pasti banyak di luar sana wanita yang bersedia menjadi istri anda. Kenapa harus memilih saya, anda pasti tahu. Saya hanya wanita cacat yang terbuang, apa anda tidak malu memungutnya?"


"Sudah saya putuskan say ...,"


"Sayangnya saya tak peduli dengan setatus ataupun kecacatanmu. Yang saya pedulikan hati saya yang sudah memilih kamu menjadi makmum saya. Bahkan kamu cuma satu mempunyai kecacatan tetapi saya mempunyai seribu kecacatan dan itu sudah saya beri tahu lewat pesan waktu itu. Jika anda mau menolak saya jangan pernah menjadikan kekurangan kamu alasa. Kalau alasan kamu hanya satu, sebuah ketakutan! "


Dengan cepat aku memotong perkataan Asma karena aku takut kemana akhir dari pada jawaban Asma. Aku lihat ada sisi ketegasan di balik ucapan lembut Asma bahkan sekarang Asma berani menatapku serius.


"Bukankah kita tak saling mengenal, kenapa hati anda begitu yakin memilih saya? "


"Mungkin kamu tak mengenal saya tetapi saya mengenal anda. Sendari kamu berada di Bandung! "


Aku menarik sudut bibirku ke samping ketika melihat keterkejutan keluarga Asma apa lagi Asma yang sampai membulatkan mata teduhnya membuat aku bisa dengan jelas melihat keindahan matanya.


"Bagaimana, apa kamu menerima lamaran saya atau say ..., "


Aku sengaja menjeda ucapanku hanya ingin melihat reaksi Asma bagaimana. Dam, ternya berhasil Asma seperti gugup dan ketakutan membuat aku bersorak dalam hati.


"Ma .. maaf! emm .. sa .. saya menerima Anda,"


Aku semakin melebarkan senyum di bibirku ketika mendengar jawaban gugup Asma. Senyuman yang pertama kali terukir tampa beban dan itu rasanya sangat membahagiakan.


Terimakasih ya Robb, hati ini semakin yakin akan Kebesaran-Mu.


Bersambung....


Jangan Lupa Like, Vote, Hadiah dan Komen...

__ADS_1


__ADS_2