Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 35 Prov Andrian (Api dosa dan kesalahan)


__ADS_3

Aku tidak menyangka aku bisa merasa sebahagia ini.


Bahkan kebahagian ini tak bisa aku jabarkan oleh kata. Mempunyai istri sholehah adalah impian semua orang dan aku tak menyangka aku adalah salah satu orang yang mendapatkannya. Ini adalah kado terindah yang tak pernah aku bayangkan.


Sosok gadis yang selalu membayang di otakku walau aku cuma beberapa kali bertemu. Namun sosok itu selalu membuatku tak bisa tidur nyaman.


Sosok yang awal mengingatkanku pada mendiang mamah. Wanita tangguh penuh kelembutan dengan tatapan sendu dan damai selalu membuatku tenang. Hingga kebahagian itu hancur ketika Wanita tangguh itu meninggalkanku untuk selamanya. Membuat ku hilang arah dan pegangan hingga aku selalu melampiaskan semuanya dengan berbuat dosa. Di tambah rasa benciku pada ayahku yang selalu bermain wanita membuatku gelap mata.


Tetapi semua itu seakan cepat berlalu ketika aku menemukan sosok yang membuat aku teringat akan mamah. Bedanya gadisku dan wanita yang melahirkanku hanya satu. Mamah tak memakai kerudung tapi istri ku memakainya.


Istri!


Rasanya aku masih tak percaya kalau gadis bermata teduh itu sekarang menjadi istriku. Entah apa yang membuat Asma menerimaku. Entah karena aku ganteng atau ada hal lain yang dia lihat dariku. Yang pasti aku tidak suka akan kebohongan, diriku selalu di ajarkan untuk selalu jujur walau itu pahit.


Aku sudah menceritakan semua tentang masa laluku.


Rasanya ini benar-benar seperti mimpi yang tak bisa aku jabarkan betapa bahagianya aku karena aku sudah mengikat Asma. Tak akan ku biarkan siapapun merebutnya atau menyakitinya. Yang sudah jadi milikku akan tetap jadi miliku selamanya.


Aku tersenyum melihat wajah Asma yang damai. Mau membuka mata atau tertidur wajahnya selalu memancarkan kedamain yang membuat aku merasa kehangatan kembali di hatiku yang sudah lama sempat hilang.


Tanganku telurur mengelus pipinya dengan pelan takut menggangu tidurnya.


Halis tebal, bulu mata lentik, hidung tidak terlalu mancung tapi pas dalam ukurannya dan bibir merah alami. Ingin sekali aku mengecup bibirnya tetapi aku tak seberani itu. Aku takut perbuatanku ketahuan dan Asma akan marah padaku karena aku sudah lancang terhadapnya.


Ku baringkan perlahan tubuhku di samping Asma. Aku tak peduli kalau Asma nanti akan terkejut jika menyadari aku tidur di sampingnya. Setidaknya ini hanya tidur tidak lebih dan aku yakin Asma tidak mungkin marah.


Aku melanggar ucapanku kalau aku akan tidur di shopa nyatanya aku tak bisa tidur di sana. Apa lagi kepalaku sedikit pusing mungkin aku kurang istirahat karena terlalu gugup menghapal ijab kobul.


Perlahan mataku terpejam dengan tangan yang masih memegang wajah Asma seakan aku tak mau lepas darinya.


Mungkin aku belum bisa mengatakan kalau aku sudah mencintai Asma atau belum. Yang ku tahu saat ini aku begitu ingin memiliki dan nyaman ketika melihat matanya. Aku cuma berharap aku tak menyakiti hatinya seperti aku selalu menyakiti hati para gadis.


Aku semakin yakin kalau Allah memang benar ada. Buktinya aku bisa memiliki Asma walau belum hatinya.


Rasanya aku seperti bermimpi bisa memeluknya erat, tetapi aku sedikit menyerngit ketika Asma malah melotot hingga

__ADS_1


Bruk...


"Awwss.., "


Aku meringis memegang dadaku yang sakit akibat tendangan Asma. Apa ini mimpi atau nyata aku tidak tahu tetapi rasanya kepalaku sangat pusing. Belum reda rasa pusing di kepalaku sebuah pukulan mendarat kembali di kepalaku bahkan Asma menjambak rambutku kuat membuat aku meringis sakit.


Hatiku terkesiap ketika Asma memakiku membuat hatiku sakit.


"Brengsekkk.., ah.. sialan... laki-laki mesumm.., "


"Dasarr, pergi.., laki-laki mesum!!"


Entah apa yang terjadi dengan Asma kenapa dia semarah ini pada diriku. Hingga aku benar-benar sadar kalau ini bukan mimpi tapi nyata. Aku berusaha bersua dan ingin menghentikan pergerakan Asma tetapi aku kesulitan karena gerakan Asma begitu cepat seperti Asma mempunyai ilmu bela diri kuat.


"No, Asma saya sua.., "


Aku tak bisa meneruskan ucapanku lagi ketika sebuah benda menghantam kuat kepalaku. Membuat aku pusing dengan mata yang mulai kabur.


Sayup-sayup aku mendengar sebuah gedoran pintu dan teriakan hingga aku tak ingat sama sekali apa yang terjadi selanjutnya.


Di mana aku, tempat apa ini! kenapa begitu gelap dan sesak. Dadaku seakan di hempir batu besar membuat aku sulit bernafas.


To.. tolong.. siapapun tolong...


Aku terkejut saat aku tak bisa bersua aku hanya bisa menjerit minta tolong dalam hati di kegelapan yang melingkupku.


Aku semakin ke takutan saat tak ada yang bisa mengeluarkan aku dalam kegelapan ini.


Tiba-tiba ada setitik cahaya yang muncul membuat aku tersenyum menyangka kalau ada orang yang mencariku. Tetapi aku menyerngit ketika cahaya itu semakin besar dan membuat tubuhku panas membuat aku sadar bahwa itu bukan cahaya tapi api.


To.. tolong... tolong aku... Mamahhh...


Tidak, jangan bakar aku..., siapapun tolong...


Ya Robb, tolong aku... tolong...

__ADS_1


Tenggorokanku tercekat membuat aku sulit bersua aku hanya bisa menjerit dalam hatiku meminta tolong. Aku terus memberontak tanpa arah di ruang kegelapan ini hanya ada api yang semakin dekat membuat tubuhku ke panasan.


"Tidak ada yang bisa menolongmu Andrian! Api ini akan mesalahanmu karen aku adalah dosa yang kau perbuat. Aku adalah kesalahan yang kau lakukan hingga kamu pantas terbakar oleh dosa dan kesalahan yang kau ciptakan... Terimalah Andrian karena ini siksaan bagi pendosa... "


Ti.. tidak... jangan...


Aku terus menjerit merasa takut dan terkejut ketika api itu berbicara sambil membentakku membuat aku semakin kepanasan akan semburan api itu. Aku ingin kabur tetapi tak ada tempat kabur sama sekali bahkan ruangan gelap ini begitu mengerikan dengan api yang terus membakar tubuhku membuat aku hanya bisa menjerit dan meminta tolong. Semakin api ini melahap tubuhku semakin aku kepanasan dan rasanya aku ingin mati tetapi kenapa aku tak mati-mati walau tubuhku sudah hangus dan membuat aku terkejut kenapa tubuhku kembali utuh membuat aku hanya bisa menjerit-jerit kesakitan. Sungguh aku tidak tahan oleh siksaan ini yang tiada habisnya.


Aku tak bisa memberonta lagi, karena aku sadar ini adalah balasan perbuatanku. Aku hanya bisa diam dan menangis mengingat dosa-dosa yang telah aku perbuat.


Ya Rob ya Rohman ya Rohim ma.. maafkan lah atas dosa dan kesalahan ku. Iz..izinkan aku hidup kembali untuk bisa bertaubat padamu...,


Lilirku menjerit dalam hati karena aku merasa percuma setiap aku memberontak maka api ini semakin melahap dan menyiksa tubuhku.


Tes.. tes...


Aku terkesiap ketika merasa setetes air jatuh ke keningku membuat rasa panas di kepalaku menghilang. Semakin lama tetesan air terus membanjiri kening dan wajahku membuat api siksaan ini perlahan padam.


Aku berusaha membuka mataku merasa bahwa ada hujan turun memadamkan api yang melahap tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar adzan berkumandang membuat hatiku bergetar hingga aku menangis. Aku merasa berdosa karena selama ini aku sudah meninggalkan kewajibanku.


Ya Rohman ya Rohim ampunilah dosaku.. ampuni kesalahanku...


Jerit batinku sambil aku bersujud dalam ruang yang masih gelap di pandanganku.


Pulanglah...


Deg...


Aku terkejut mendengar suara tanpa wujud hingga membuat aku mengangkat kepalaku dan menatap lurus ke depan.


"Bang.., "


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Vote ya...

__ADS_1


__ADS_2