Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 63 Entah harus bahagia atau sedih!


__ADS_3

Ku genggam lembut tangan istriku yang masih memejamkan kedua mataku.


Bulir bening terus saja keluar membasahi pipiku dengan hati berdebar melihat Asma yang masih memejamkan kedua matanya. Hatiku bergejolak dengan penuh debaran melihat perlahan Asma mengerjapkan kedua matanya.


"Sa.. sayang.., "


Rasanya aku tak sanggup hanya sekedar memanggilnya. Sungguh entah aku harus bahagia atau sedih melihat keadaan istriku yang pucat. Dia tersenyum manis walau dalam keadaan seperti ini, sepeeti dia mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.


"Minum..,"


Aku memeberikan air minum yang ada di meja samping, Asma meneguknya perlahan.


Mataku berkaca-kaca melihat tubuhnya yang lemah.


"Ke.. kenapa abang menangis, apa ada hal serius dengan Asma?"


Hatiku berdenyut mendengar pertanyaan istriku yang lemah, walaupun begitu Asma tetap tersenyum padaku.


Tangan lemah asma telurur menghapus air mata yang keluar, aku sungguh cengeng bak anak kecil di depannya.


"Sudah jangan menangis, apapun yang terjadi Insyaallah Laila ridho. Maaf, jika penyakit Laila membuat abang menangis!"


"Apa lambung Laila kambuh lagi?"


Grep...

__ADS_1


Ku tarik lembut istriku dalam pelukanku dengan isak lolos begitu saja di bibirku. Entah harus dari mana aku mengatakannya rasanya aku tak bisa menjabarkan ini semua.


"Bang.., "


"Sayang, abang tak tahu harus berkata apa, apa abang sedih atau bahagia dengan keadaan kamu. Kenapa harus kamu bukan abang saja yang merasakan rasa sakit itu! dan dan terimakasih kamu mau mengandung,"


"Maksud abang?! "


"Ka.. kamu hamil,"


Hening...


Hening...


Tetapi, di balik kebahagiaan ini tersimpan kesedihan yang membuat aku harus berkata apa. Apa aku harus memberitahu Asma atau tidak, semuanya membuat aku bingung.


Secara bersamaan Allah memberi kebahagiaan dan kesedihan. Asma hamil, itu sebuah anugrah terindah. Aku yakin, diamnya Asma karena dia merasa bahagia karena ini penantian dia. Tapi, kehamilan ini secara bersamaan membahayakan kondisi Asma dimana Asma di vonis kanker. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, karena dokter menyarankan bayi itu tidak boleh lahir, semakin mempertahankannya maka semakin membahayakan keadaan Asma.


Bolehkah aku egois, aku tak mau mereka berdua pergi, Asma akan merasa hancur jika aku memutuskan menolak keberadaannya.


"Ba.. bang, i.. ini bukan mi.. mimpi..,"


"Hiks.. ti.. tidak sayang.., "


Hatiku menjerit sakit melihat binar kebahgiaan terpancar di mata Asma. Lantunan syukur membuat hatiku tercabik-cabik. Apa aku tega membuatnya pergi tanpa memberi kesempatan melihat dunia ini.

__ADS_1


Ya Rohman ya Rohim, aku tidak sanggup jika harus merenggut kebahagiaannya. Lihatlah air mata kebahagiaan dia, dengarkanlah lantunan syukur, memuji asma-Mu. Tak kasihankah Kau jika harus memberi rasa sakit di atas kebahgiannya. Aku tak sanggup ya Robb.


"D.. dia hadir, ma.. malaikat kecil hadir.., ada di sini bang. A.. Allah menunjukan kuasanya bang.. Laila hamil.. Laila hamil hiks.."


"Sa.. sayang jangan begini.., "


Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku ketika Asma menarik tangan ku mengusap perutnya yang masih rata.


Ya rohman, tak kasihankah Engkau pada istriku, lihatlah dia begitu antusias menyambut kehadirannya. Aku mohon jangan kau uji istriku dengan rasa sakit di balik kebahagiaannya. Aku tak sanggup mengatakannya, aku tak sanggup..


Ku tarik Asma kedalam pelukanku, dia menangis bahagia dengan bibir terus memuji asma Allah. Sedang aku, tangisan kebahagiaan ini bercampur ketakutan yang membuat aku tak tega jika harus mengambil kebahagiaan istriku. Tapi aku juga tak mau kehilangan Asma, jika mempertahankan kehadirannya.


Sayang, jika aku memutuskan tanpa persetujuanmu apa kamu akan marah dan membenciku. Aku egois, ingin selalu memilikimu aku tak sanggup melihatmu sakit tapi aku juga tak sanggup jika harus merenggut kebahagiaanmu. Tolong katakan apa yang harus aku lakukan.


Aku mempererat pelukanku seakan aku tak sanggup jika Asma harus pergi suatu saat nanti.


"Laila sangat bahagia bang, ini hadiah terindah yang Laila dapatkan. Selama tujuh tahun penantian akhirnya Allah mengabulkan doa Laila. Apa abang bahagia, apa abang menerima dia? "


"Sangat sayang sangat sangat bahagia abang sangat bahagia, dan menanti kehadirannya. Terimakasih...,"


Allahu... Allahuakbar.. ya Rohman ya Rohim ya Kawiyuuu....


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Komen....

__ADS_1


__ADS_2