
Rasa syukur tak bisa aku jabarkan oleh kata akan kebesaran Allah menuntun hatiku untuk berpaling padanya.
Seorang pendosa sepertiku yang tak berharap lebih, hanya satu yang aku harapkan adalah ampunan-Nya.
Terimakasih istriku tercinta, tanpa mu apalah aku seorang butiran debu di dunia ini. Aku hanya bisa mengotori bumi suci nan bersih. Tanpa aku menghapus jejak-jejak kotoran dosa yang aku tinggalkan setiap kedua kaki ini melangkah.
Terimakasih istriku tercinta, kau mengajarkan aku banyak hal tanpa merasa lelah dan letih. Kau bersabar mengajari aku apa arti sebuah kehidupan. Hingga aku tahu, bahwa hidup ini tak akan bisa kita lewati tanpa sebuah pegangan. Pegangan sebuah keteguhan iman pada Allah, dimana kita berserah diri dan memohon ampun atas segala dosa yang aku lakukan.
Terimakasih wahai bidadari rumahku, kau dengan ikhlas menerima seorang berlumuran dosa di hidupmu dengan hati yang lapang. Bahkan aku tak tahu, apakah ada wanita sepertimu yang menerima segala kekuranganku tanpa terkecuali.
Terimakasih wahai penuduh hatiku, kau mencintaiku atas nama Allah dan kekasihnya, Rosulullah. Kau mencintaiku dengan segenap kekuranganku, hingga kau ajarkan aku apa arti cinta sesungguhnya. Cinta akan kehakikian yang tak pernah lepas sampai kapanpun hingga aku menyadari ternyata Cinta Allah jauh lebih besar dari makhluknya. Hingga Allah hadirkan rasa cinta atas namanya. Kau sudah menggenggam hatiku hingga dengan kesederhanaan cintamu membuat aku tak mampuh berpaling darimu. Karna kau mengenalkan aku akan Cinta pada Robku hingga aku merasa bahagia bisa mencintaimu atas nama-Nya.
Entah ucapan apalagi yang harus aku untaikan mengungkap perasaan ini. Bahwa aku bahagia bersamamu, aku hanya memohon pada Allah, agar Allah tak mengambilmu ketika aku belum siap. Agar Allah tak memisahkan kita walau aku dan kamu sudah tak ada di dunia ini lagi. Aku berharap kamu adalah bidadariku di surga nanti.
Rasa syukur ku panjatkan di masjidil Harom bahkan rasanya aku tak mau beranjak sedikitpun. Entah sampai kapan air mata haru, penyesalan, kebahagiaan bercampur jadi satu membentuk butiran bening yang terus menusuk-nusuk mataku, hingga dengan derasnya bulir bening itu keluar menodai pipiku.
__ADS_1
Dua bulan sudah aku dan istriku berada di tanah suci Makkah. Sesudah melaksanakan ibadah Haji, aku memutuskan menetap beberapa bulan di sini. Ku habiskan waktuku di masjid, berdoa memohon ampun pada sang pemilik nyawaku.
Diri ini tak berdaya tanpa ampunan dan pertolongan Allah. Diri ini tak mampuh tanpa kekuatan yang Allah berikan untukku melewati setiap perjalanan yang aku dan istriku arungi.
Aku memohon, supaya aku bisa menjadi suami yang baik untuk istriku, Asma Laila Ar-rohman. Hatiku selalu bergetar jika menyebut namanya di setiap untaian doa yang aku panjatkan. Semoga Allah meridhoi dan menjaga rumah tangga kami.
Aku bahagia sangat bahagia walau tanpa kehadiran anak di tengah kebahagiaanku. Allah sudah memberi istri sholehah saja aku sangat bersyukur tak ada lagi yang aku minta selain, Allah menjadikan aku suami yang baik tangung jawab, bisa membingbing Asma menuju Janah-Nya. Membangun sebuah surga yang Asma impikan.
Sayang terimakasih atas cinta yang kau berikan, terimakasih atas sayang yang kau peruntukan untuku, terimakasih kau sudah merentangkan kedua tanganmu menyambut kedatanganku dengan lapang.
Ku buka pintu kamar apertemen dengan senyuman menghiasi bibirku. Sesudah sholat isya aku memutuskan kembali karena aku tahu istriku sendirian di apertemen.
Aku menyerngit bingung karena tak mendapati istriku menyambut kedatanganku. Ku lirik meja makan, sudah ada beberapa hidangan yang istriku masak.
Aku bergegas ke kamar, mungkin Asma masih sholat setelah menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Astagfirullahhaladzimm...,"
Duniaku seakan runtuh melihat istriku tergeletak pingsan. Memang akhir-akhir ini Asma sulit sekali makan apalagi di Makkah banyak makanan yang Asma tak menyukainya. Hingga aku harus mencari bahan makanan khas Indo supaya istriku tetap makan.
Rasa cemas dan panik menghantuiku, membuat aku langsung membawa Asma ke rumah sakit. Sampai terjadi apa-apa pada dirinya aku bersumpah tak akan memaafkan diriku sendiri. Ini salahku yang meminta Asma tinggal beberapa bulan di sini, hingga Asma jarang sekali makan karena makanan disini banyak yang Asma tak suka.
Apa mungkin lambung Asma kambuh, atau ada penyakit lain yang aku belum tahu. Karena setahuku Asma hanya mempunyai penyakit lambung dan tipes.
Ya Allah semoga saja istriku tak terjadi apa-apa. Maafkan aku yang tak bisa jadi suami yang baik. Ya Allah ya Rohman ya Rohim sembuhkanlah dia, angkat segala penyakit yang membuatnya sakit. Dan, sabarkan istriku dari rasa sakit itu, semoga jadi pelantar akan penghapus dosa-dosa kecilnya.
Amin....
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Komen...
__ADS_1