Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 30 Jangan ganggu calon istriku.


__ADS_3

Memenjak mengetahui semua tentang gadis bermata teduh itu aku tidak bertanya lagi pada Bagas. Bukan aku berpaling karena setatusnya yang Janda. Tetapi aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiranku tentang perasaan macam apa yang ada di hatiku.


Bayang-bayang gadis itu selalu mengusik pikiranku. Membuat aku benar-benar prustasi.


Apa ini yang di namakam cinta, cinta yang tulus dari hati tanpa mengenal status. Hal itu aku tidak peduli bagiku kehormatan wanita sama. Mau itu sudah menikah atau pun belum bahkan yang sudah bercerai. Kedudukannya sama tak mengurangi kehormatan seorang wanita sekalipun. Karena yang membedakan kehormatan wanita adalah akhlaknya.


Aku termenung dalam diam terus mencari jawaban tentang perasaan ini. Bukan aku jadi ragu karena status gadis itu. Aku cuma takut kalau perasaan ini hanya sesaat karena mata gadis itu sama dengan mamah.


Saat aku menanyakan tentang gadis itu pada Bagas sikap Bagas kepadaku berbeda. Sekarang bicaranya selalu ketus dan sewot entah apa yang terjadi pada Bagas.


Tetapi aku tidak sedikit pempermasalahkannya mungkin sikap Bagas seperti itu karena menyukai gadis itu juga.


Tunggu! sepertinya aku melupakan sesuatu, kemaren aku belum sempat membaca nama gadis itu. Aku langsung membuka kembali data itu yang aku simpan di laci.


"Laila Asma Ar-rohman, "


Gumamku membaca nama gadis bermata teduh itu. Namanya begitu indah dan cantik, sampai aku tak sadar aku tersenyum mengingatnya.


Dengan cepat aku meletakan kembali data itu dan pergi keluar. Aku ingin ke tempat peristirahatan mamah. Aku ingin bercerita tentang masalah hatiku, karena aku tidak mau mengulang masa lalu.


Di sepanjang jalan aku terus tersenyum hingga aku menghentikan mobilku ketika aku melihat kerumunan orang yang menatap sinis, kasihan dan mencemooh pada satu objek. Dengan cepat aku melirik kearah pandangan orang-orang.


Deg ...


Aku tertegun melihat Asma dengan seorang laki-laki berdebat. Entah kenapa aku suka menyebut nama gadis itu dengan nama Asma. Lantunan kalimat atau sebuah nama yang menggetarkan hatiku.


Kau turun dari mobil begitu penasaran bagaimana mungkin Asma berdebat di tengah jalan dan siapa laki-laki bersamanya. Terlihat seperti memohon, apa dia mantan suaminya, pikurku.


Entah kenapa aku tidak suka dengan cara laki-laki itu yang memaksa Asma bahkan sampai bersujud membuat posisi Asma begitu sulit. Bahkan Asma menjadi bahan tontonan dan itu membuat tanganku mengepal.


Hatiku teriris ketika melihat mata Asma penuh luka dan permohonan membuat dugaanku benar. Laki-laki itu adalah mantan suaminya, dari pengamatan yang aku lihat mungkin percerain mereka akibat masalah yang sangat besar.


Aku tidak tahan ketika orang-orang memojokan Asma supaya menerima laki-laki itu kembali. Dengan langkah cepat aku menghampirinya dan


Bug...

__ADS_1


Satu tinjuan aku layangkan sampai laki-laki itu tersungkur.


"Jangan ganggu calon istriku!!! "


Bentakku lantang menatap tajam laki-laki yang aku tinju. Aku tidak tahu ada apa dengan mulutku kenapa aku bicara seperti itu. Bahkan aku bisa melihat Asma dan mantan suaminya begitu terkejut dengan pengakuanku. Aku merutuki diriku sendiri kenapa sampai bisa bicara seperti itu. Bahkan Asma sekilas menatapku dengan tatapan yang entah apa aku tidak tahu.


"Sa... sayang be.. benarkah apa yang di.. dikatakannya?"


"Sa.. sayang ka .., "


Aku hanya diam ketika melihat mantan suami Asma mendekat kembali ke pada Asma tanpa mempedulikanku. Tampang laki-laki itu begitu menyedihkan samoai memohon. Bahkan suaranya begitu menyayat hati saat bertanya pada Asma tentang perkataanku.


"Ya dia calon suamiku. Jadi aku mohon, jangan ganggu hidupku lagi."


Aku terlonjat kaget ketika Asma berbicara seperti itu. Sungguh di luar dugaan, ternyata Asma bicara seperti itu. Ada rasa senang dan puas di hatiku saat melihat mantan suami Asma begitu shok dengan jawaban Asma bahkan aku juga sama.


Entah keberanian dari mana aku menarik tangannya mengajaknya masuk kedalam mobil. Ku lihat Asma hanya diam dengan pikiran linglung tetapi aku tidak peduli yang penting Asma ikut bersamaku.


Aku begitu bingung kemana aku harus membawa Asma di saat seperti ini. Aku ingin bertanya tetapi ku urungkan ketika melirik Asma tetap diam dengan tatapan kosong wajahnya seperti mencemaskan sesuatu.


Hingga aku putuskan aku ke rumah sakit ingin memeriksa keadaanku kebetulan jalan yang aku lewati arah rumah sakit tempat temanku bekerja.


"As ...,"


Aku melongo dengan mulut terbuka melihat Asma keluar terburu-buru bahkan sambil berlari masuk kedalam rumah sakit.


Dengan cepat aku mengejarnya sambil memegang perutku. Aku takut Asma kenapa-napa apalagi melihat keadaannya yang kacau.


Ku hentikan langkahku ketika Asma diam mematung. Entah apa yang membuat Asma terdiam. Hingga aku mendengar tangisan seorang wanita yang begitu pilu di dalam ruangan yang sedang Asma tatap. Bahkan Asma menangis dalam diam, ingin sekali aku menyapanya tetapi aku tidak berani hingga


Puk...


Aku menoleh ke samping melihat siapa yang menepuk pundakku.


"Ndri ngapain kamu ber ..., oh ya ampun ndri wajah kamu pucat ..., "

__ADS_1


Aku hanya pasrah saja ketika Ayana menarik lenganku masuk ke salah satu ruangan rawat dan menyuruhku berbaring.


Aku hanya diam saja ketika Ayana memeriksaku. Hingga aku penasaran siapa pasien yang di tangisi Asma di ruang itu.


"Ayana, apa kamu tahu siapa pasien di ruang kedua sebelum ujung lorong sini?"


"Pak Hadi korban kecelakaan tadi pagi, tetapi beberapa jam lalu meninggal karena kehabisan darah, dan serangan jantung akibat shok,"


"Kenapa, apa kamu mengenalnya? "


"Tidak! cuma tangisan orang-orang di sana membuatku ngilu, "


"Kau ini ada-ada saja. Dugaanku benar, asam lambungmu kambuh lagi, apa pekerjaan akhir-akhir ini mengganggumu, "


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayana. Ku lihat Ayana nampak menghembuskan nafas kasar. Aku tahu kenapa dia begitu, pasti selalu merasa bersalah terhadap diriku.


"Jangan minta maaf, kamu gak salah. Tetapi, jika suatu saat nanti terjadi sesuatu pada paman aku tidak akan minta maaf padamu! "


"Aku mengerti, semuanya salah ayah! "


"Yasudah, aku akan mengambil obat dulu mungkin seorang perawat yang akan mengantarkannya karena aku harus memeriksa pasien lain, "


Aku hanya mengangguk saja lalu membuang nafas kasar ketika Ayana sudah keluar.


Pikiranku menerawang jauh dimana aku masih ingat. Dulu keluarga Chu begitu akur dan harmonis, tapi semuanya berselisih ketika memperebutkan hak waris dimana waktu itu kakek sudah meninggal. Waktu itu aku masih kecil terlalu kecil untuk melihat setiap hari perdebatan orang dewasa.


Huh...


Ku buang nafas kasar ketika mengingat itu dan aku tak mau melanjutkan mengingat lagi. Karena itu membuat ku semakin sakit akan semuanya.


"Bagaimana keadaan Asma?"


Monologku baru ingat tentang gadis bermata teduh itu.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya....


__ADS_2