Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 22 Penyesalan


__ADS_3

Aku memutuskan sementara akan tinggal di rumah Wina. Menemani di masa kesedihan dia.


Bukan cuma itu, aku hanya takut mas Vandu kembali menggangguku. Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Aku hanya takut emosiku tidak bisa aku tahan ketika melihat wajahnya. Membayangkannya saja membuat aku emosi.


Entah apa! dulu mas Vandu laki-laki yang sangat aku cintai. Tetapi, cinta itu perlahan terkikis oleh kebencian. Bukan aku yang memulai tetapi mas Vandu sendiri yang membuat aku benci dan benci.


Rasa sakit yang dulu mas Vandu torelkan kini terasa semakin melebar dengan apa yang mas Vandu lakukan. Dia hanya sibuk memintaku kembali tanpa peduli dengan luka di hatiku. Sungguh manusia yang begitu egois dan kejam.


Dia hanya bisa membalikan pakta seolah apa yang aku lakukan menyakiti dirinya. Lalu, apa kabar tentang penghianatan, ketidak adilan lalu membuang aku begitu saja. Aku yang menemaninya dari titik terendah hingga dia berada di atas awan. Dia jatuhkan aku di istanaku sendiri demi memilih ratu yang baru. Tetapi nyatanya Allah tidak penah tidur. Allah maha tahu apa balasan yang pantas untuknya. Tanpa aku meminta Allah balas dengan sedimikian rupa.


Nyatanya ratu yang dia pilih adalah seorang rubah yang merampas segalanya. Bahkan aku tidak di berikan hak sedikitpun. Kini, ketika istana itu hancur dengan tak tahu malunya mas Vandu memintaku kembali tanpa dia tahu caranya bagaimana mengobati lukaku.


Di rumah Wina, setidaknya aku bisa menenangkan pikiran dan hatiku. Karena aku tahu mas Vandu tidak akan bisa menemukanku di sini. Karena mas Vandu tidak tahu tentang rumah ini. Yang mas Vandu tahu hanya rumah Amira saja dan aku yakin dia tidak akan mudah menyerah begitu saja demi mendapatkan apa yang dia mau.


Hari-hari ku lalui dengan damai bersama Wina. Sedikit-sedikit Wina juga mulai bangkit dari rasa sedihnya.


Sesekali juga Amira akan berkunjung walau tidak lama karena aku faham sekarang Amira punya banyak tanggung jawab. Apalagi bang Arman sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tentunya Amira sebagai istri tidak bisa jauh-jauh dari rumah.


Tak terasa sudah hampir satu bulan aku berada di rumah Wina. Pikiran dan hatiku mulai bisa ku tata kembali dengan keadaan Wina mulai membaik.


Aku hanya sesekali pergi ke restoran guna mengecek. Aku tidak bisa lama-lama karena aku tahu mas Vandu pasti akan mencariku ke lestoran.


Aku sempat terkejut ketika Amira menelepon ada mas Vandu mencariku. Tetapi, aku lega karena Amira bisa di andalkan.


Entah harus berapa lama aku terus menghindar. Aku tahu itu tidak baik untuk masalah hatiku. Tetapi, aku masih belum siap bertemu dan menyudahi semuanya. Karena berdepat dengan mas Vandu pasti tidak ada habisnya.


Mengingat itu membuat aku teringat akan seseorang bermata sipit dengan postur tubuh atlentis. Dari pakaiannya aku bisa menilai kalau laki-laki itu bukan laki-laki biasa.


Aku tidak tahu siapa dia, dia datang tiba-tiba dan mengatakan kalau aku calon istrinya. Lalu dia pergi begitu saja ketika sudah membantu aku lepas dari mas Vandu. Mungkin orang itu mau membantuku dari ganguan mas Vandu. Andai aku di pertemukan kembali dengannya aku ingin mengucapkan kata terimakasih karena dia sudah membantuku pergi dari mas Vandu.


"La, jadi gak kita pergi ke Ancol? "

__ADS_1


Aku tersentak ketika Wina tiba-tiba datang ke kamarku. Sedang aku belum ganti baju sama sekali.


"Ya ampun La, katanya ngajakin aku pergi jalan-jalan. Tapi kamu sendiri belum ganti baju? "


"Maaf Win, bentar aku ganti dulu, "


Aku cengengesan sambil melompat dari ranjang berjalan menuju lemari. Aku merasa tidak enak sama Wina. Gara-gara kesal sama mas Vandu aku jadi lupa dengan janjiku sendiri.


Perjalanan menuju Ancol lumayan bisa menghabiskan waktu satu jam perjalanan. Aku hanya ingin mencari suasana baru dan ingin menghabiskan waktu bersama Wina sebelum aku benar-benar sibuk. Apalagi Wina juga besok memutuakan masuk kerja lagi.


Setidaknya sejenak aku melupakan rasa sakit di hatiku.


Aku dan Wina mengulang kembali waktu kami masih sekolah dulu.


Berbagai permainan dan jajanan kami cicipi dengan canda tawa tak lepas dari bibir aku dan Wina. Setidaknya aku bahagia bisa melihat Wina tersenyum kembali. Walau aku tidak tahu dengan hatiku ini.


Sudah puas menjelajah Ancol aku dan Wina memutuskan kembali pulang. Apalagi waktu sudah mulai sore.


Aku hanya berdoa, semoga hariku tetap seperti ini, besok dan seterusnya. Tetapi, aku tidak tahu apa yang sedang Allah rencanakan untuk kehidupanku selanjutnya.


Sekarang aku hanya ingin pokus pada lestoran Abi dan mengembangkannya. Aku tidak mau lestoran yang abi bangun harus hancur di tanganku. Benar kata paman Hadi, aku harus belajar supaya menjadi biasa dan terbiasa mengelola lestoran sambil aku menyesuaikan diri. Apalagi tidak mudah juga menyesuaikan dengan orang-orang baru. Sedang hanya sebagian orang yang aku kenal di sana ketika aku dulu sering berkunjung ke lestoran jika libur sekolah.


Abi Mamah, maafkan Asma yang belum bisa membahagiakan kalian. Bahkan walaupun sekarang apa yang Asma lakukan tidak bisa Asma tunjukan pada kalian. Tetapi Asma yakin kalian ada bersama Asma. Tolong bantu Asma untuk kuat menghadapi badai yang silih berganti datang.


Andai Asma ingin mengeluh, Asma tidak mau berada di titik ini. Maafkan Asma mah, sudah mengecewakan mamah di akhir nafas mamah.


Asma sayang mamah dan abi, semoga kalian berada di tempat terbaik di sisi-Nya.


Amin ...


Aku menyudahi doaku sambil mengusap wajah. Sesudah sholat isya aku langsung merebahkan diri di atas ranjang.

__ADS_1


Sebelum masuk waktu magrib Aku dan Wina memang sudah sampai, dan langsung masuk ke kamar masing-masing.


Ketukan pintu membuat aku kembali bangun dari rebahanku.


"Makan malam dulu?"


Aku hanya mengangguk setuju, lalu aku beriringan berjalan bersama Wina menuju ruang makan. Sebenarnya aku tidak lapar tetapi aku tidak mau membuat Wina kecewa.


Aku hanya diam melihat kearah satu mangkuk dimana di dalamnya terdapat makanan kesukaan mamah.


Tak terasa setetes cairan bening keluar dari pelupuk mataku. Setiap mengingat mamah aku akan selalu teringat akan kesalahanku dulu.


Di kediaman Al-muzaky memang bibi dan paman mewaniti pada para pelayan untuk tidak menyajikan makanan yang berhubungan dengan mamah karena setiap kali aku melihatnya aku akan kembali menangis. Sungguh kepergian mamah menjadi sebuah penyesalan yang membuat aku sesak.


"Kamu menangis? "


"Tidak! "


"Kenapa? "


"Ak.. aku hanya teringat mamah melihat shop buntut itu, "


Lilirku bergetar, rasa penyesalan itu sampai saat ini masih bersarang di hatiku. Dan rasa itu kian besar ketika orang yang aku bela membuangku.


Mungkin, aku selama ini terlihat baik-baik saja seolah tak menyesal dengan apa yang aku lakukan hingga mamah pergi membawa kekecewaan. Tetapi nyatanya, aku lelah masih lemah dan sakit itu masih terasa sampai saat ini. Itu hal yang paling aku sesali dalam hidupku.


Dari situ aku akan menangis jika melihat apa saja yang berhubungan dengan mamah. Secara otomatis mengingatkan aku akan kesalahnku.


Mafkan Asma, Mah ....


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya Cinta...


__ADS_2