Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 55 Merasa bersalah


__ADS_3

Aku tak tahu harus berbuat apa semua di luar kendaliku. Aku hanya manusia biasa tak bisa berbuat apa-apa apa lagi para dokter sudah berusaha tapi nyatanya Allah berkehendak lain.


Misel terus memanggil nama istrinya, Ayana yang tak lain adalah adik sepupuhku.


Aku hanya bisa menggendong Cia berdiri di luar menyaksikan Ayana berinteraksi dengan Misel. Entah apa yang Misel bicarakan aku tak tahu karena memang aku tak masuk. Aku ingin memberi ruang untuk suami istri itu.


Cia terus saja menangis memanggil nama papa dan mamanya membuat aku tak tega. Hatiku berdebar tak karuan ketika melihat Ayana panik mengguncang tubuh Misel, hingga aku tahu situasi di dalam sana bagaimana.


Aku hanya bisa menatap nanar Ayana yang menangis histeris begitupun Cia yang semakin memelukku erat.


Aku tahu Cia pasti merasakan apa yang mamanya rasakan hingga Cia tak berhenti menangis.


"Ya Kowiyu..., "


Deg...


Aku terperangah mendengar suara yang begitu aku kenal. Perlahan aku berbalik, seketika aku tertegun melihat istriku menangis. Entah apa yang membuatnya menagis membuat hatiku tercubit.


Dia menatapku penuh kekecewaan membuat aku merasa bersalah. Apa Asma marah karena aku meninggalkannya tanpa pamit.


"Aku ke.. kecewa...,"


Hatiku terkesiap mendengar nada lilir penuh luka terucap di bibir istriku. Bahkan dia menangis sambil pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi. Ingin aku mengejar tapi aku bingung karena Cia semakin menangis.


"Maafkan abang sayang, abang janji akan menjelaskan semuanya. Tolong jangan marah.., "


Jerit batinku menatap nanar punggung istriku yang menghilang dari pandanganku. Hatiku sakit melihatnya menangis, aku tahu aku salah sudah meninggalkannya dia pasti cemas dan takut karena tiba-tiba aku menghilang.


Tapi itu bukan maksudku meninggalkannya tanpa pamit, diriku sedang panik dan tak berdaya.


Aku tahu apa yang sedang di rasakan istriku, dia pasti ketakutan. Di lihat dari tatapannya saja membuat aku faham akan sesuatu. Traumanya begitu dalam hingga membuat Asma pasti salah paham dengan apa yang terjadi. Aku janji sayang, akan menjelaskan semuanya. Tapi maaf, aku tak bisa pulang sekarang. Aku harus menyelesaikan ini dulu apa lagi Ayana lebih membutuhkan aku.

__ADS_1


Dokter langsung melepas semua alat medis yang menempel di tubuh Misel. Kenapa orang baik sepertinya harus pergi dengan cara tragis. Bahkan aku tak sempat mengucap kata terimakasih karena dia sudah banyak membantuku.


Aku memeluk Ayana, berusaha menguatkan dirinya.


Ayana beralih kepelukan mertuanya yang baru sampai karena Misel berasal dari LA, hanya paman sialanku yang tidak muncul. Aku tahu paman sialanku pasti sedang pesta karena buktinya sudah lenyap dengan kepergian Misel.


Hingga Sore hari Misel baru di kebumikan, Ayana menginginkan suaminya di makamkan di dekat rumahnya dan kedua mertuanya setuju saja.


Aku harus segera pulang, tapi Cia terus menempel padaku mengira kalau aku papanya. Membuat aku tak tega, pada akhirnya aku menidurkan Cia dulu. Jam sembilan malam aku baru pulang, aku tidak kewatir karena Ayana ada yang menjaga.


"Assalamualaikum.., "


Aku mengucap salam masuk kerumahku, Aku di buat bingung kenapa lampu mati. Apa istriku lupa menyalakan lampu, pikirku langsung mencari skral lampu. Sesudah menyala aku langsung bergegas ke kamarku dengan hati tak karuan berharap Asma ada di kamar.


Deg...


Aku tertegun melihat istriku ketiduran di atas sejadahnya, perlahan aku mendekat dan menggendonggnya. Ku baringkan Asma di atas ranjang dengan perlahan takut membuatnya bangun.


Aku terbangun mendengar alarm ponsel Asma tapi aku sedikit bingung Asma sama sekali tak terganggu biasanya dia akan bangun lebih awal dan membangunkanku untuk sholat malam. Aku mengerti mungkin Asma benar-benar lelah. Ku biarkan Asma tertidur sampai adzan subuh berkumandang aku baru membangunkannya. Di usapnya pelan pipi Asma membuat dia menggeliat.


"Sayang.., "


"Sudah subuh, ayo kita berjamaah?"


Asma terbangun namun dia terdiam seakan terkejut melihat diriku. Aku membiarkan Asma pergi ke kamar mandi, aku berusaha memahami sikapnya yang berubah dingin ke padaku.


Bahkan Asma berusaha menghindar ketika aku mendekatinya. Aku hanya pasrah membiarkan Asma tenang dulu, toh itu juga salahku membuat istriku merajuk.


Aku hanya bisa diam melihat Asma memasak, lalu sarapan. Asma memang menyiapkan segala keperluanku tapi bibirnya sendari subuh tetap bungkam tak mau bersua. Lama-kelamaan membuat aku tak tahan oleh diamnya Asma. Aku mendekati Asma yang sedang membereskan ranjang.


"Sayang.., "

__ADS_1


"Jangan diam, tolong katakan sesuatu supaya abang tahu apa kesalahan abang sehingga membuat kamu seperti ini? "


Ucapku lembut sambil memutar tubuhnya menghadap kepadaku. Ku letakan selimut yang akan Asma bereskan.


"Kenapa abang bertanya seolah abang tak melakukan kesalahan! "


Aku tertegun, dugaan ku tidak salah istriku merajuk karena aku sudah meninggalkannya.


"B.. bukan begitu sayang..., "


"Ab... "


" Kenapa tiba-tiba menghilang, meninggalkan aku seorang diri di rumah tanpa pamit bahkan abang meninggalkan aku di saat sudah memberi keindahan. La.. lalu, aku pikir abang pergi mungkin karena pekerjaan, aku cemas aku kewatir dan aku takut abang kenapa-napa. Tapi, abang di rumah sakit bersama anak kecil. Siapa dia, apa anak abang dan dan anak kecil iu menangis memanggil mamanya. Apa istri abang sakit, abang meninggalkanku karena menjaganya. Abang bohong selama ini abang membohongiku hiks... ayo katakan bahwa itu tidak benar..., "


Aku terkesiap mendengar luapan amarah istriku. Aku tidak menyangka Asma akan berpikir seperti itu. Rasa traumanya membuat dia berpikir macam-macam padaku. Tapi aku tak marah akan pikiran istriku seperti ini karena memang semua salahku yang tak memberi tahu.


Kini aku benar-benar merasa bersalah sudah membuat istriku marah.


"Maaf maaf sayang...,"


"Ja.. jadi..."


"M.. maaf..., "


Aku hanya bisa minta maaf karena aku tahu aku salah. Istri mana yang tidak akan ketakutan dan cemas ketika suaminya menghilang tiba-tiba. Aku bisa merasakan ketakutan istriku.


Ya Allah maafkan aku yang sudah membuat istriku bersedih...


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Vote...

__ADS_1


__ADS_2