Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 36 Takut


__ADS_3

Aku terbangun dalam tidurku dengan nafas memburu. Dadaku naik turun dengan keringat dingin membanjiriku.


Aku usap wajahku, aku terkesiap merasa ada sisa air mata. Aku terdiam dengan kebingungan, pikiranku melayang jauh.


Rasanya siksaan itu begitu nyata membakar tubuhkun. Apa ini mimpi atau nyata, kenapa siksaan itu begitu nyata membuat aku ketakutan.


"Bang.., "


Deg...


Aku terkejut menyadari ada Asma di sampingku. Aku menyerngit bingung kenapa Asma menangis bahkan matanya begitu sembab seolah sudah lama menangis.


Aku masih bingung dengan situasi ini kenapa aku berada di kamar bukankah aku tadi di ruang gelap dan kepanasan.


**Allahuakbar Allahuakbar...


Laillahailallah**....


Aku terkesiap mendengar suara akhir adzan berkumandang. Suaranya sama persis dalam ruangan mengerikan itu.


Hatiku tiba-tiba berdebar sangat kencang bahkan aku merasa ketakutan. Dengan cepat aku menyibak selimut dan melompat dari ranjang. Aku mencari kamar mandi guna mengambil air wudhu.


Setetes cairan bening keluar ketika aku mengangkat kedua tanganku dengan hati yang berdebar hebat.


Allahuakbar...


Ku ucapkan takbir dengan bibir gemetar bahkan rasanya ini adalah sholat pertamaku dari belasan tahun aku meninggalkannya dulu.


Tubuhku bergetar hebat dengan air mata yang terus keluar dalam sujud panjangku.


Ya Rohman ya Rohim ya Gafur.. ya Gofur... maafkanlah atas kesalahan hamba yang penuh dosa dan kesalahan ini. Hamba memohon ampunmu, atas segalanya. Hamba tidak tahu seberapa banyak dosa dan kesalahan yang hamba perbuat ma.. maafkanlah hamba.. ampuni hamba..

__ADS_1


Aku menjerit memohon ampun atas semua dosaku. Rasanya siksaan itu begitu nyata membakar tubuhku membuat aku takut sangat takut akan siksaan itu.


Entah seberapa banyak aku mengeluarkan air mata dengan tubuhku yang begitu hebat bergetar karena merasa takut akan siksaan itu.


Rasa panas itu seperti masih membelenggu diriku yang masih menangis di atas sejadah yang entah siapa sudah sendari tadi terbentang.


Aku masih segukan dengan air mata yang tak mau berhenti. Aku mengingat-ngingat dosa yang telah aku perbuat di masa lalu. Apa lagi dosaku pada Sindi dan Anjani, dua wanita yang ku buat menderita. Bahkan dengan teganya aku ingin memisahkan Anjani dari suaminya sendiri dan aku hampir saja merenggut kehormatan Sindi karena sakit hatiku.


"Ya Rohma ya Rohim.., apa masih ada kata maaf bagi hamba yang penuh dosa. Bahkan hamba tak tahu seberapa banyak dosa yang hamba perbuat. Hamba pernah mendengar, jika ada seorang anak yang berbuat dosa maka orang tuaku akan merasakan siksaan atas perbuatanku. Hamba mohon jangan kau siksa mamah atas apa yang hamba lakukan. Mamah tak salah hamba yang salah atas semuanya. Hamba mohon mamah adalah wanita hebat kasihi dia dan tempatkan dia di sisi-Mu. Maafkan atas kesalahan dan kehilapan hamba. Jangan Kau marah pada mamah karena semuanya salah hamba. Maafkan hamba, atas hilap dan di sengaja dosa yang hamba perbuat. Hamba tahu Kau maha pemaaf, lantas kepada siapa hamba memohon ampunan jika bukan ke pada-Mu. Jangan tinggalkan hamba di saat hamba rapuh dan tampa arah ini. Ampuni dan maafkan hamba"


Tangisanku tida henti memohon ampun atas semua perbuatanku. Entah kenapa aku merasa takut akan kegelapan itu membelengguku kembali. Bahkan rasanya tubuhku masih merakasan siksaan api itu.


Dadaku terasa sesak dengan kepala yang begitu pusing. Mungkin karena terlalu lama menangis dan bersujud.


Aku mendongkak ketika tangisanku mulai reda. Aku menatap lurus kedepan membuat keningku mengerut merasa kalau aku berada di tempat berbeda. Ini bukan kamarku, lalu ini kamar siapa? pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku.


Aku mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi kenapa dengan diriku ini yang begitu linglung atas semuanya. Hingga sekelebat bayangan ku ingat membuat diriku menatap sekeliling kamar yang bercat biru pink yang membuat suasana kamar begitu hidup.


Deg...


Aku terlonjat kaget mendengar suara lilir yang begitu aku kenal. Membuat aku langsung berbalik dan terkejut melihat siapa yang duduk di belakangku.


Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku bahkan aku sampai menguceknya. Apa ini mimpi atau nyata, kenapa Asma ada di belakangku. Bahkan Asma terlihat menangis terlihat matanya yang sembab dengan hidung mungilnya yang merah.


Mata sipitku membola ketika menyadari sesuatu dan menarik kesadaranku sepenuhnya. Ini nyata bukan mimpi lagi, ya aku ingat sekarang kalau Asma istriku kemaren aku sudah mempersuntingnya.


Tiba-tiba ada rasa ragu dan tak pantas dalam diriku. Aku seorang pendosa bagaimana mungkin bisa mendapatkan istri seperti Asma.


Aku terdiam dengan mata yang terus menatap Asma seakan aku meyakinkan sisa kesadaranku kalau ini memang nyata.


Bruk...

__ADS_1


Rasanya jantungku hampir loncat dari tempatnya dengan mata membola ketika Asma memeluk tubuhku.


Menangis!


Kenapa Asma menangis, apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Asma memelukku erat seakan tak mau kehilanganku.


"Hiks.., ja.. jangan pergi..,"


Aku menyerngit bingung kenapa Asma bicara seperti itu. Bukannya aku tidak pergi bahkan aku ada di sini di pelukannya.


Justru aku merasa takut Asma meninggalkanku bahkan sekarang aku ingat kalau Asma tadi menendangku karena aku tidur di sampingnya dan mungkin Asma sudah membuat aku pingsan karena aku tak ingat apa-apa.


"Asma? "


Aku mencoba memberanikan diri memanggil istriku.


"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa kamu menangis? "


Tanyaku bingung benar-benar bingung dalam situasi seperti ini.


"Ak.. aku takut sangat ta.. takut. Ta.. tadi abang di katakan meninggal, "


"Aku takut abang benar-benar pergi, masa aku akan menjadi janda lagi. Jangan pergi hiks.. Asma sangat takut hiks.., "


"Maafkan Asma, semua salah Asma hiks.. Asma benar-benar takut.. takut.. "


Aku terdiam sangat terkejut dengan apa yang Asma katakan. Aku di katakan meninggal! bagaimana bisa, apa siksaan itu benar-benar nyata dan aku hidup kembali. Benarkan Allah mendengar jeritanku, Dia ada dan mendengarnya, pikirku gemetar.


Bersambung..


Jangan lupa Like dan Vote ya he.. he...

__ADS_1


__ADS_2