
Sungguh aku tak bisa tidur sama sekali, pesan tadi siang membuat aku benar-benar merasa gundah. Bahkan sendari tadi aku terus gulang-guling kekiri ke kanan mencari posisi nyaman. Tetapi tetap saja mata ini tak mau terpejam.
Hingga suara ketukan pintu membuat aku terkejut dan langsung bangun.
Aku tersenyum ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kamarku dan aku langsung mempersilahkan bibi Melati masuk.
"Bibi ko belum tidur? "
"Bibi cuma kepikiran kamu terus,"
"Apa kamu sudah memutuskan jawabannya? "
"Entahlah ...,"
Ucapku keluar begitu saja karena memang aku benar-benar bingung dengan semuanya.
"Ikuti kata hatimu, Nak. Bibi cuma tidak mau memaksa kamu menerima atau menolaknya. Bagi bibi kebahagiaan kamu adalah yang paling utama. Apapun keputusan kamu nantinya bibi akan mendukung,"
Aku terharu mendengar ucapan bibi Melati yang begitu peduli tentang kebahagiaanku. Rasanya aku bersyukur berada di keluarga ini. Walau aku sudah tak punya ke dua orang tua dan tak bisa merasakan cintanya lagi. Tetapi, Allah gantikan dengan kasih sayang sosok bibi dan paman yang begitu luar biasa.
"Kamu berhak bahagia sayang, sudah dua tahun kamu cukup untuk membuka lembaran baru. Lembaran baru apa itu kamu membangun sebuah istana lain atau lembaran baru menata cita-cita yang sempat tertunda. Bibi akan tetap selalu mendukung, tetapi kamu harus ingat! jangan terlalu menutup rapat pintu hatimu ketika ada seseorang yang meminta izin masuk."
Aku terdiam mendengar baitan kalimat yang bibi Melati ucapkan. Jangan terlalu menutup rapat pintu hatimu ketika ada seseorang yang meminta izin masuk, Aku mengulang kata bibi Melati dengan tatapan lurus kedepan dimana bibi Melati sudah pergi setelah mengucapkan itu.
Aku berjalan kearah jendela kamarku lalu membukanya.
Srrgg...
Liukan angin malam langsung menerobos masuk menerpa wajahku. Ku tengadahkan kepalaku mendongkak ke atas melihat sinar rembulan yang begitu sangat sempurna.
__ADS_1
Huh..
Ku hembuskan nafas dengan kasar dan dalam. Setidaknya hatiku sedikit lebih tenang memandang cahaya rembulan.
"Mah Bi besok adalah hari dimana aku harus melangkah kearah mana aku membawanya menuju kebahagian di ujung sana. Jika aku memilih kebahagiaanku ada pada cita-cita ku apa mamah sama abi bahagia dengan keputusanku. Aku belum siap jika harus membuka hati ini lagi. Semoga mamah dan abi tidak marah apapun dengan keputusan yang aku ambil besok."
Monologku masih menatap rembulan yang seakan menyapaku dengan senyum keindahannya. Lalu aku menutup kembali jendela kamarku ketika aku merasa lebih baik.
Ku rebahkan kembali tubuhku di atas ranjang sambil menarik selimut. Semoga hari esok aku jauh lebih baik lagi.
Rasa tegang yang menggerogoti hatiku tak bisa aku tepis. Rasa ini seakan berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika mas Vandu melamarku. Mungkin waktu itu mas Vandu sudah aku kenal dan menjalin hubungan terlebih dahulu. Tetapi kali ini dia laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan aku tidak tahu seperti apa kehidupannya dan bagaimana sikapnya. Tentu itu semua membuat aku takut, bagaimana jika Dia laki-laki kasar, tempramen, penuh emosi, dan tak sabaran. Membayangkan semuanya saja membuat ku gemetar ketakutan. Bahkan keringat dingin membasahi pelipisku dengan tangan mencengkram sisi baju gamisku.
"Kenapa, Nak. Kamu takut? "
Tanya paman Fahmi membuat aku mengangguk cepat. Paman Fahmi mengelus puncak kepalaku di balik kerudung yang senada dengan gamis yang aku kenakan. Paman Fahmi tersenyum seakan meyakinkan aku kalau semuanya baik-baik saja.
Usapan tangan paman Fahmi di puncak kepalaku membuat aku teringat akan abi. Abi selalu melakukan itu ketika hatiku sedang gundah.
Aku terus saja menunduk tak berani mendongkak di mana sudah ada laki-laki bermata sipit itu duduk di hadapanku.
Aku menoleh ketika bibi Aisyah dan bibi Melati memegang masing-masing tanganku membuat aku tersenyum tipis membalas senyuman dua bibiku seolah mengatakan kalau mereka menerima apapun keputusanku.
Aku memberanikan diri mendongkak menatap sosok laki-laki bermata sipit yang sendari tadi dengan setia duduk menunggu aku bersua.
"Maaf tuan Andrian, Lian atau Chu entah apa saya harus memanggil anda,"
Ucapku berat, aku berusaha mengendalikan rasa gugupku. Aku bukan gadis abg lagi yang harus tetap menunduk tanpa berani bersua. Aku harus berani mengungkapkan rasa keraguan di hatiku karena aku tak mau suatu hari nanti aku menyesal dengan keputusanku seperti keputusan yang pernah aku lakukan dulu.
"Bukankah anda seorang bos, pasti banyak di luar sana wanita yang bersedia menjadi istri anda. Kenapa harus memilih saya, anda pasti tahu. Saya hanya wanita cacat yang terbuang, apa anda tidak malu memungutnya?"
__ADS_1
"Sudah saya putuskan say ...,"
"Sayangnya saya tak peduli dengan setatus ataupun kecacatanmu. Yang saya pedulikan hati saya yang sudah memilih kamu menjadi makmum saya. Bahkan kamu cuma satu kecacatan tetapi saya mempunyai seribu kecacatan dan itu sudah saya beri tahu lewat pesan waktu itu. Jika anda mau menolak saya jangan pernah menjadikan kekurangan kamu alasa. Kalau alasan kamu hanya satu, sebuah ketakutan! "
Aku terdiam tidak menyangka laki-laki di hadapanku berani memotong ucapanku dan apa ucapannya benar-benar menohok hatiku. Wajah datar dengan tatapan tajam tak banyak bicara kini laki-laki ini berbicara panjang lebar dengan ketegasannya. Laki-laki ini seolah bisa membaca ketakutan yang sendari tadi aku sembunyikan dan kenapa sialnya laki-laki bernama Andrian ini dengan mudah bisa menebaknya. Membuatku menjadi bertanya-tanya siapa sebenarnya Andrian ini, dari auranya saja membuat aku yakin dia bukan orang sembarang. Apalagi gaya bicaranya begitu tegas dan tak berbelit membuat aku menjadi menciut.
Ku lirik kedua bibi dan pamanku yang masih terlihat sama. Tersenyum seolah mendukung apapun keputusanku. Bibi dan paman sendari tadi tidak bersua meyakinkan ataupun membujukku. Seolah memang sekarang waktunya aku bicara bukan mereka, karena aku yang memutuskan kemana arah tujuanku berada.
"Bukankah kita tak saling mengenal, kenapa hati anda begitu yakin memilih saya? "
"Mungkin kamu tak mengenal saya tetapi saya mengenal anda. Sendari kamu berada di Bandung! "
Deg...
Aku melotot tak percaya dengan apa yang tuan Andrian tuturkan. Begitu entengnya dia berkata sudah mengenalku. Apa dia seorang mata-mata atau seorang agen! bagaimana mungkin tuan Andrian dengan enteng mengenal aku sendari di Bandung.
Aku mengerutkan kening seakan mengingat sesuatu apa aku benar-benar sudah pernah bertemu dengannya. Tapi nihil aku tak mengingatnya sama sekali bahkan wajahnya begitu asing di ingatanku.
"Bagaimana, apa kamu menerima lamaran saya atau say ..., "
Ya Rohma apa yang harus Laila katakan sekarang. Laila benar-benar merasa takut, apa lagi mendengar penuturannya.
Ya Rohman ya Rohim semoga apa yang Laila putuskan adalah jalan terbaik dari-Mu, jerit batinku memejamkan kedua mataku lalu aku membukanya kembali.
Ku tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku yakin dengan keputusanku dan ini adalah keputusanku.
"Ma .. maaf! emm .. sa .. saya menerima Anda,"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya Say...
Jangan pula juga Komen dan Hadiahnya he.. he..