
Di sepanjang jalan aku terus saja tersenyum tampa henti. Aku seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta. Padahal aku tahu Aku bukan anak katro yang tak mengenal- cinta tapi cinta ini sungguh benar-benar berbeda.. Di mana Cinta ini setiap hari semakin tumbuh dengan berjalannya waktu kebersamaan aku dan bang Andrian.
Aku seakan lupa akan kesakitan terkikis rasa bahagia yang entah sejak kapan aku merasakannya.
Sikap bang Andrian yang lembut dan sabar menunggu hatiku terbuka dan tanpa aku sadari ternyata hatiku sudah bang Andrian miliki.
Walau aku tahu bang Andrian banyak sekali kekurangan soal agamis tapi aku memakluminya karena sendari pertama dia sudah jujur tak di tutupi sama sekali. Tapi aku suka, di balik kekurangannya bang Andrian mau bertanya dan jika aku tegor dia selalu menerima dan minta maaf.
"Sayang kok senyam-senyu sendiri, kenapa? "
Aku menatap bang Andrian yang bertanya sesekali melihatku lalu pokus lagi menatap kedepan karena memang bang Andrian sedang menyetir.
"Laila hanya senang saja abang mau ajak Laila ke kantor abang, "
"Hah, hanya itu! "
"Hooh, "
"Terkadang abang bingung bagaimana cara membuat kamu bahagia dan kamu merasa bahagia karena hal kecil seperti ini! "
Aku tersenyum mendengar ucapan bang Andrian bahkan bang Andrian sampai menepikan mobilnya seakan tak percaya dengan ucapanku.
__ADS_1
Perlahan tanganku telulur membelai rahang tegas bang Andrian, hal yang baru pertama kali aku lakukan setelah tiga bulan menikah.
"Bagi Laila kebahagian tidak di ukur oleh kemewahan, cukup abang selalu mengerti tampa Laila ucapkan. Selalu mengalah ketika Laila keras dan selalu sabar ketika Laila egois. Maaf jika selama ini Laila belum bisa jadi istri yang baik buat abang bahkan abang tak pernah menuntut hak apapun pada Laila padahal abang berhak mendapatkannya. Abang benar Laila terlalu takut untuk membuka hati Laila tapi kali ini Laila tidak takut lagi selagi Abang selalu jujur pada Laila."
Aku menjeda ucapanku sambil menarik nafas perlahan lalu membuangnya pelan.
Cup..
Ku kecup punggung tangan bang Andrian dengan penuh hidmah, ada kehangatan menjalar ke hatiku setiap kali aku mengecup punggung tangan bang Andrian maka bang Andrian akan mengelus puncak kepalaku lembut.
"Sekarang Laila sudah membuka benteng hati Laila, maka jangan pernah sungkan atau ragu untuk meminta apapun pada Laila karena itu hak abang. Tapi.. "
Aku tersenyum ketika bang Andrian melanjutkan kalimatku. Bang Andrian seakan sudah hapal kata yang sering aku ucapkan seakan kata itu sudah menjadi sebuah slogan hidupku.
"Dan, hati jiwa ini milik abang sepenuhnya. Anna Uhibuka Fillah My husband,"
"Apa tuh artinya!?"
"Aku mencintaimu karena Allah suamiku! "
"Aku lebih mencintaimu My Wife, "
__ADS_1
Tid... tid....
Ha.. ha...
Kami tertawa bersama ketika ada banyak mobil yang berhenti di belakang mobil bang Andrian dan baru aku sadari ternyata bang Andrian memberhentikan mobilnya di tengah jalan.
Tid... tid...
"Woy, minggirrr... "
"Bang ayo jalan, kasihan orang-orang."
"Siap ratuku, "
Aku tersipu mendengar ucapan bang Andrian membuat hatiku seakan tergelitik mendengar kata 'Ratuku'.
Tampangnya yang datar ternyata dia selalu gombal terhadapku. Tampangnya yang cuek tapi dia lembut kepadaku. Tampangnya yang dingin tapi dia hangat padaku. Tampangnya yang galak tapi dia baik kepadaku. Dia selalu apa adanya di hadapanku, bak anak kecil yang selalu polos dalam hal apapun. Begitulah Dia suamiku.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Vote ya...
__ADS_1