Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 29 Prov Andrian (Aku ingin memilikinya)


__ADS_3

Aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan gadis bermata teduh itu. Aku yakin aku tidak salah mengenali orang, dia gadis sama ketika menolong aku waktu di Bandung satu tahun yang lalu. Kini gadis itu ada di hadapanku, tetapi entah kenapa aku sedikit kecewa karena gadis itu malah menunduk seolah tak mau menatapku.


Aku mendapat kabar dari Bagas, asisten sekaligus sahabatku. Kalau ada chef baru yang sementara menggantikan chef Afdal yang sedang sakit.


Awalnya aku tak peduli siapa chef baru itu walau pun biasa aku yang akan menyeleksi langsung apakah dia layak atau tidak. Tetapi masalah perusahaan begitu banyak semenjak papa meninggal. Membuat aku harus turun tangan sendiri karena aku tidak mau keadaan ini akan di manfaatkan oleh paman gilaku.


Tetapi ketika aku mendengar kabar bahwa kinerja chef baru itu bagus bahkan dalam satu minggu bisa membuat omset lestoranku bertambah. Membuat ku ingin memastika sendiri hingga aku memutuskan berkunjung ke lestoran peninggalan mamah di temani Bagas. Karena aku menyerahkan tanggung jawab restoran itu ke pada Bagas.


Aku menyuruh Bagas untuk memberitahu pada chef baru itu untuk membuat makanan kesukaanku. Tak lama menunggu chef baru itu masuk sambil membawa nampan dimana di atasnya sudah tersaji makanan pesananku.


Ketika aku mendongkak menatap chef baru itu aku begitu terkejut melihat gadis bermata teduh itu. Ingin sekali aku menyapanya atau sekedar mengucapkan terimakasih karena gadis itu sempat menolong aku saat di Bandung. Tetapi ku urungkan ketika gadis itu selalu menjaga pandangannya membuat aku segan. Sampai aku mencicipi masakannya, sesaat aku terdiam meresapi cita rasa yang membuat aku teringat akan mendiang mamah.


Sejak saat itu aku menyukai masakannya bahkan aku menyuruh Bagas untuk mengantar makan siangku khusus gadis itu yang masak. Entah kenapa setiap kali aku mencicipi masakannya membuat aku selalu terbayang akan kenangan bersama mamah.


Hingga suatu hari nanti aku makan dengan masakan yang sama tetapi rasanya yang berbeda membuat aku bingung. Hingga aku terkejut ketika aku bertanya pada Bagas kalau gadis bermata teduh itu berhenti bekerja dengan alasan mau mengurus lestoran dirinya sendiri. Mendengar itu membuat aku sedikit kecewa.


"Bagas cari tahu siapa gadis bermata teduh itu. Saya ingin datanya sudah ada satu jam dari sekarang? "


"Kenapa tuan ingin saya mencari tahu tentang gadis itu? "


"Entahlah Bagas, tetapi gadis itu mempunyai mata yang sama seperti mamah. Aku ingin memilikinya? "


Entah kenapa keinginan itu mengalir begitu saja dari mulutku. Padahal aku bukan laki-laki yang mudah terpesona pada sosok wanita kecuali hanya ingin bermain-main saja. Tetapi gadis bermata teduh itu selama sebulan ini begitu mengusik hati dan pikiranku.


Bahkan ada getaran aneh yang baru aku rasa ketika membayangkan wajah gadis itu. Bahkan aku tidak merasakannya ketika aku menginginkan Anjani dulu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin tuan ingin memilikinya, sedang hati tuan masih mencintai Anjani Mauren Vernandes? "


Aku menyerngit bingung kenapa Bagas membentakku. Membuat aku menatap tajam Bagas tetapi Bagas seperti tidak takut.


Mengingat Anjani membuat aku terdiam, entahlah apa itu cinta atau sebuah obsesi ingin memiliki Anjani. Karena gadis itu gadis arogan yang pertama kali menolak ku, memukulku dan menbentakku. Membuat aku tertangtang ingin memilikinya walau dulu dengan gilanya aku masih mau merebut Anjani dari suaminya.


"Jangan banyak tanya, cari tahu saja siapa gadis itu!"


"Tapi tuan jangan mempermaikannya, dia gadis berbeda. Bahkan dia selalu menjaga pandangannya dari laki-laki yang bukan mahromnya! "


Aku terdiam sesaat mendengar ucapan kekesalan Bagas. Gadis berbeda Aku mengulang apa yang dikatan Bagas tadi. Membuat aku benar-benar terdiam tidak bisa meneruskan ucapanku lagi. Bahkan sampai Bagas pergi aku masih terdiam, entah kenapa ucapan Bagas sangat menohok hatiku.


"Gadis berbeda? "


Monologku mengulang lagi apa yang Bagas katakan. Ada rasa marah dan sedih bercampur jadi satu. Aku tahu diriku bukan orang baik, bahkan kehidupan ku dulu begitu gelap sampai sekarang aku sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini salah.


Aku tidak tahu dengan hatiku kenapa bisa begini. Padahal ketika aku mengejar-ngejar Anjani aku tidak seperti ini. Tidak ada kedamain dan ketentraman yang ada hanya obsesi dan amarah yang meliputiku.


Apa diriku penuh dosa tak pantas mendapatkan gadis sepertinya. Baru kali ini aku merasakan getaran berbeda di hatiku. Mata itu seakan menenggelamkan aku dalam kedamain.


Aku terus termenung mencerna apa yang terjadi pada diriku. Membuat aku merasa sedih. Benar kata Bagas dia gadis berbeda begitu pun aku. Bak air dan minyak tidak bisa bersatu. Dia terlalu istimewa jika harus bersanding dengan diriku yang penuh dosa.


Jalan hidupku terlalu rumit untuk di jabarkan bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Takdir ini begitu cepat dan kasat mata hingga tak bisa aku menghindar dari kata penyesalan dan penyesalan.


"Ini berkas yang anda pinta, Tuan!"

__ADS_1


Aku tersentak kaget ketika Bagas memberikan sebuah berkas lalu pergi begitu saja membuat aku melongo.


Entah kenapa sikap Bagas berbeda seperti benar-benar tak menyukai kalau aku menanyakan tentang gadis itu. Apa Bagas menyukainya, pikirku bingung. Entah kenapa ada rasa tak rela jika gadis itu milik Bagas.


Ku alihkan tatapanku pada sebuah maf yang Bagas berikan. Perlahan aku membukanya dengan santai aku membacanya. Seketika mataku melotot melihat deretan data yang Bagas berikan. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang tertulis di lembar kertas yang aku pegang.


"Menikah ..., "


Lilirku kecewa ternyata gadis bermata teduh itu sudah menikah. Apa aku harus merebutnya, rasanya tidak. Aku tidak mau mengulang kesalahanku yang kedua kalinya.


Jadi pertemuan di Bandung itu dia sudah menikah dan tinggal di sana, batinku tak terima.


Entah kenapa dengan perasaanku ini, aku tidak tahu dan aku tidak bisa menjelaskannya. Dengan ragu aku membuka satu lembar lagi kertas putih. Jantungku seakan mau lompat dari tempatnya dengan mata membulat sempurna. Aku mengucek kedua mataku berharap apa yang aku lihat itu benar.


"Ce... cerai! "


Gumamku kaku membaca data gadis bermata teduh itu. Bahkan aku sampai mengelus kata cerai yang tertulis di berkas itu. Aku terdiam entah apa saat ini yang aku pikirkan rasanya pikiranku begitu buntu.


Aku meletakan kembali data itu di atas meja, pikiranku melayang jauh dengan tatapan ke depan.


"Apa aku masih ingin memilikinya? "


Monologku bertanya pada diriku sendiri, aku hanya sekedar memastikan sesuatu.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya he..


__ADS_2