Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 52 Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Tidurku terusik oleh belayan tangan dingin yang membuat aku menggeliat.


Kepalaku sungguh berat dengan mata yang begitu lengket terbuka. Elusan itu semakin terasa membuat tidurku benar-benar merasa tak nyaman.


Perlahan kelopak mataku terbuka, aku menyipitkan mataku menyesuaikan cahaya yang menyilaukan mataku.


Kepalaku sungguh sakit berusaha bangun, aku yakin mataku pasti bengkak karena lama menangis.


"Sayang? "


Deg...


Seketika tupilku terbuka sempurna mendengar panggilan orang yang sudah membuat aku menangis. Aku juga baru sadar ternyata aku sudah ada di atas ranjang dengan mukena sudah terlepas dari tubuhku. Apa bang Andrian yang memindahkan aku, kapan dia pulang kenapa aku tidak menyadarinya. Mungkin aku terlalu lama menangis hingga aku ketiduran dan tak merasakan apa-apa lagi.


"Sudah subuh, kita sholat berjamaah?"


Lamunanku buyar ketika bang Andrian mengucap kata sholat itu artinya aku kesiangan meninggalkan sholat malamku. Aku terdiam entah harus bersikap bagaimana di hadapan suamiku. Mengingat dia pergi tanpa pamit meninggalkanku setelah melakukan ibadah panjang kami dan siangnya aku harus melihat dia menggendong anak kecil yang memanggilnya papa itu membuat hatiku kembali berdenyut.


Rasa takut kejadian menyakitkan terulang kembali membuat hatiku was-was dan tak bisa berpikir jernih. Bahkan sekedar mengontrol diri begitu sulit.


Aku mendiamkan suamiku karena aku belum siap berbicara dengannya. Bahkan aku menghindar ketika suamiku ingin mendekat.

__ADS_1


Selesai sholat memang aku langsung beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Hati dan pikiranku sedang tak baik-baik saja, aku tahu aku berdosa sudah mendiamkan suamiku sendiri. Tapi, aku hanya ingin sejenak menenangkan hatiku, karena aku takut aku tak bisa mengontrol diriku di mana akan menimbulkan masalah baru ketika aku tak bisa mengontrol emosiku.


Aku tak mau ketika aku bicara dari hati ke hati, hatiku tak tenang.


Dulu ketika mas Vandu membawa wanita lain aku berani menatap matanya dan bertanya langsung. Tapi, sekarang entah kenapa aku takut untuk bertanya. Mungkin rasa trauma itu begitu membelengguku membuat aku merasakan rasa takut yang luar biasa.


Kenapa aku selemah ini! ini bukan diriku aku tak mengenalinya. Apa memang hati ini sudah seluruhnya milik bang Andrian hingga aku takut mengetahui kenyataan pahit. Tapi bagaimana jika pikiranku selama ini salah, dan itu hanya kesalah pahaman.


Entahlah, aku juga tak tahu. Mungkin aku meminta maaf akan sikapku hingga aku memohon ridhonya supaya suamiku tak berbalik marah.


Ya Robb Laila serahkan semuanya kepada-Mu. Semoga pikiran Laila salah, karena Laila tak tahu apa Laila akan kuat atau tidak menghadapinya jika memang itu kebenarannya.


"Sayang.., "


Hatiku berdesir mendengar panggilan lembut itu. Bang Andrian memutar tubuhku agar menghadapnya dan menjauhkan selimut dari tanganku yang akan aku bereskan.


"Jangan diam, tolong katakan sesuatu supaya abang tahu apa kesalahan abang sehingga membuat kamu seperti ini? "


Aku terdiam, kenapa bang Andrian bertanya seperti itu. Kenapa tak langsung menjelaskan saja seolah-olah dia memang tak melakukan kesalahan. Padahal kemaren sudah jelas aku menemukan dirinya sedang berada di rumah sakit dengan seorang anak kecil yang menangisi mamanya.


Bahkan aku kecewa dengan sikapnya yang benar-benar menunggu aku mengatakan apa kesalahannya. Sudah jelas dia meninggalkanku di malam panjang itu. Aku terbangun tak ada di rinya, dia menghilang begitu saja.

__ADS_1


Istri mana yang tidak merasa kecewa harus di tinggal ketika susah melewati malam indah dan harus bertemu di situasi yang begitu meremas dadaku, sangat sakit dan sesak.


"Kenapa abang bertanya seolah abang tak melakukan kesalahan! "


"B.. bukan begitu sayang..., "


"Ab... "


" Kenapa tiba-tiba menghilang, meninggalkan aku seorang diri di rumah tanpa pamit bahkan abang meninggalkan aku di saat sudah memberi keindahan. La.. lalu, aku pikir abang pergi mungkin karena pekerjaan, aku cemas aku kewatir dan aku takut abang kenapa-napa. Tapi, abang di rumah sakit bersama anak kecil. Siapa dia, apa anak abang dan dan anak kecil iu menangis memanggil mamanya. Apa istri abang sakit, abang meninggalkanku karena menjaganya. Abang bohong selama ini abang membohongiku hiks... ayo katakan bahwa itu tidak benar..., "


"Maaf maaf sayang...,"


"Ja.. jadi..."


"M.. maaf..., "


Deg.....


Bersambung.....


Jangan lupa Like dan Vote....

__ADS_1


__ADS_2