
Hari-hari ku lalui menikmati peran baruku sebagai istri dari bang Andrian. Rasa yang tak bisa aku jabarkan oleh kata dan tentunya aku sangat bahagia menjalani peran sebagai istrinya. Apalagi bang Andrian begitu lembut memperlakukan aku seperti takut menyakiti hatiku. Bahkan apa-apa bang Andrian selalu meminta izin dan meminta pendapatku.
Tetapi, sudah dua hari aku jarang bersamanya. Karena aku mulai sibuk mengambil alih kepemingpinan lestoran peninggalan abi. Walau sebenarnya aku ingin diam saja di rumah dan menjalani hari-hariku sebagai seorang istri tapi bang Andrian tak menyetujuinya. Walaupun begitu aku selalu berusaha pulang lebih awal untuk menyambutnya.
Padahal aku ingin sekali menyerahkan semuanya pada Wina tapi Wina pun sama menolak karena dia juga belum siap. Mau tak mau aku harus memegang kendali sekarang.
Aku sedikit merubah suasana lestoran ku supaya semakin terlihat nyaman. Bahkan aku juga mengajari beberapa resep baru untuk kemajuan lestoranku. Aku tidak mau lestoran peninggalan abi menjadi bangkrut di tanganku tapi aku ingin mengembangkannya dan menjadi beberapa cabang di luar kota.
Aku tersenyum ketika mendapat pesan, lalu aku beranjak dari kursi kepemingpinanku. Aku berjalan mencari meja dimana Amira sudah menungguku.
"Assalamualaikum.., "
"Waalaikumsalam.., "
Aku langsung duduk di samping Amira di mana di sebelahnya lagi sudah ada Wina.
"Kelihatannya kamu bahagia! apa suami kamu memperlakukan kamu dengan baik, La?"
"Jangan di tanya bahagia, Ra. Ini orang setiap hari senyam-senyum mulu bak orang gila di ruangannya! "
Aku melotot tak percaya dengan ucapan Wina dan itu sekses membuat aku tersipu.
"Syukurlah kalau kamu bahagia, La. Mungkin ini jawaban kesedihan kamu, semoga kamu selalu tetap bahagia, "
"Amin tabarakallah, terimakasih Ra. Doakan saja semoga bang Andrian suami yang baik yang bisa membawaku ke surga-Nya."
__ADS_1
"Amin.., "
"Ya elah kalian berdua bahas suami mulu kalau ketemu!"
"Makannya nikah, Win! "
"Ogah, aku gak mau ribet kaya kalian!"
"Mana ada menikah ribet, Nikah itu ibadah asal kita menjalaninya dengan iklas, Win."
"Sama saja, Ra. Pokonya aku gak mau menikah, nanti aku kaya kalian. Mendengarkannya juga membuat aku pusing. Pagi-pagi harus bangun, beres-beres, siapkan sarapan belum nyapu sama ngepel terus apa lagi ya.., "
"Hey otak biji sawi, semua itu ladang pahal buat kita, "
"Kak? "
Aku berbalik ketika mendengar suara orang yang aku kenal memanggilku. Begitupun Amira dan Wina langsung menghentikan perdebatannya.
"Iya, Gas. Ada apa? "
Tanyaku sedikit heran kenapa Bagas datang ke lestoranku. Bukankah Bagas sedang sibuk bersama suamiku.
"Ndri, sedang sakit!"
"Innalillahiwainnaillahiroziun..,"
__ADS_1
Pekikku terkejut, bagaimana bisa bang Andrian sakit perasaan tadi pagi baik-baik saja.
"Sakit apa Gas, sekarang dia di mana? "
"Asam lambungnya kambuh, dia ada di rumah sakit!"
"Ayo kita kesana! "
Ucapku buru-buru, rasa cemas menghantuiku. Bahkan aku sampai lupa kalau ada Amira dan Wina di sampingku. Karena rasa cemas ini membuat aku pergi begitu saja tanpa meminta izin pada Amira dan Wina. Semoga saja mereka mengerti dengan situasiku.
Aduh, istri macam apa aku ini. Kenapa aku tidak tahu kalau suamiku sendiri sakit.
Rutukku pada diri sendiri begitu cemas takut terjadi hal serius.
Mungkin ini karena bang Andrian suka sibuk bekerja tanpa peduli akan perutnya. Kalau begini aku harus membuat jadwal untuknya supaya bang Andrian makan tepat waktu.
"Gas, cepetan dong? "
"Sabar kak, ini banyak kendaraan lain! "
Ya Allah mudah-mudahan bang Andrian sakitnya gak parah..
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote ya...
__ADS_1