Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 57 Keputusan


__ADS_3

Termenung dalam lamunan memikirkan saran dari istriku. Berulang kali aku terus berpikir apakah ini baik atau tidak. Karena aku juga tak mungkin memutuskan sendiri.


"Bagi rata ke semua jajaran dan berikan pesangon untuk para karyawan. Jika abang sulit melepas ada satu solusi lagi. Bagaimana jika perusahaan itu bang serahkan pada orang yang abang percaya mereka mengelolanya dengan begitu paman abang akan berpikir dua kali merebut perusahaan itu karena tak mungkin bagi paman abang harus merebut dari tangan orang lain, bukankah itu bukan haknya."


Saran-saran istriku memang benar, aku tak mau membuat keluarga istriku dalam bahaya karena aku tahu bagaimana sikap pamanku yang gila itu. Apalagi aku tak mau membuat Ayana dan Cia menjadi tumbal keserakahan ayahnya. Sebelum memutuskan semuanya aku akan mengirim dia kepenjara dengan semua bukti yang sudah aku kantongi. Bagas memang bisa di andalkan, dia begitu cepat bergerak tanpa di perintah dua kali. Bagas juga berhasil menangkap salah satu orang yang mencoba membunuh Marsel, apalagi dalam pengejaran itu ada seorang ibu yang meninggal.


Dan, kabar satu ini membuatku terkejut karena ibu yang meninggal dalam kejadian itu adalah istri dari pak Ojol langganan istriku. Karena merasa bersalah aku berusaha meminta maaf, walau awalnya anak-anak pak ojol marah tapi pak ojol begitu lapang memaafkanku. Walau itu bukan salahku tapi aku merasa tanggung jawab karena yang mengakibatkan ibu itu meninggal pamanku dan kasus ini juga bisa menarik pamanku ke jeruji besi.


Karena rasa kemanusiaan aku memutuskan membiyayai pendidikan ketiga anak pak Ojol, dimana anak yang paling besar sedang kuliah dengan beasiswa yang dia dapat. Anak ke dua masih sekolah Smk dan yang paling bontot masih Smp dan aku juga baru tahu ternyata istriku juga selama ini yang membantu perekonomian pak ojol. Begitu mulyanya hati istriku membuat aku tambah cinta saja.


Cinta di dasari karena Allah memang indah, aku pikir aku hanya ingin sebatas menjadikan Asma istriku karena keteguhan imannya dia kelak akan menjadi ibu yang luar biasa. Tapi siapa sangka aku malah di buat jatuh cinta setiap harinya aku pikir ini adalah bonus dari Allah untuk semakin mempererat hubunganku dan Asma.


Bukan sebagai kewajiban dan tanggung jawab doang yang aku berikan pada Asma tapi rasa cinta dan kasih sayang sudah ku berikan karena dia berhak mendapatkannya.


Lama aku termenung memikirkan semuanya sekarang aku yakin untuk memutuskan ini. Aku memanggil Bagas masuk keruanganku, sebelum mengadakan rapat dadakan aku ingin pendapat Bagas dulu, bagaimana dia akan berpendapat tentang keputusanku.


"Ada apa tuan? "


"Jangan se formal itu Gas, "


"Baik, ada apa? Apa ada hal serius!"


Aku menghela nafas mencoba tenang dalam menyampaikan hal ini.


"Aku ingin pendapat kau, karena ini menyangkut kejayaan perusahaan!"


"Aku sudah memutuskan akan menyerahkan perusahaanku pada orang-orang yang ada di berkas ini, dengan begitu nasib rebuan karyawan masih aman dan mereka bisa membiyayai keluarganya,"

__ADS_1


"Kamu gila!!! "


Aku menghela nafas melihat reaksi Bagas yang shok sambil membaca list nama-nama yang aku masukan di sana.


"Kau memasukan namaku, sialan. Gua gak setuju! "


"Denger dulu penjelasanku, Gas. Kau adalah orang yang aku percaya dan kamu berhak mendapatkannya. Di samping itu paman gilaku pasti tak akan berani macam-macam untuk mengambil alih perusahaan ini karena dia harus menghadapi seratus pemilik perusahaan ini termasuk kamu. Aku hanya ingin hidup damai dan nyaman bersama istri dan anak-anak ku nanti. Aku tak mau membuat keluargaku, kalian dalam bahaya. Jika aku masih memegangnya kemungkinan besar keluarga kalian juga dalam bahaya aku tak mau itu terjadi, cukup Marsel hari kemaren jadi korban aku tak mau ada korban lagi di hari-hari berikutnya. Apalagi istriku, sekarang jadi incaran nomor satu paman gilaku."


Penjelasanku membuat Bagas terdiam, seperti dia juga berpikir. Aku semakin yakin dengan keputusanku ini dan aku tak akan mundur lagi.


Istriku benar, jika aku ingin tenang dan nyaman aku harus bisa melepaskan ini semua demi kemaslahatan bersama. Toh aku masih punya penghasilan restoran peninggalan mama dan aku yakin pendapatan di sana cukup buat bekal rumah tanggaku. Apalagi aku mempunyai istri yang begitu baik, dia tak pernah menuntut apa-apa padaku. Bahkan Asma selalu tampil sederhana kemanapun dia pergi padahal Asma juga mempunyai dua mobil miliknya tapi tak pernah sekalipun Asma menggunakannya. Asma selalu bilang,


Asma lebih nyaman naik angkutan umum, dan yang ter penting kita bisa berbagi dengan mereka yang membutuhkan tanpa harus merendahkan pekerjaan mereka.


Terekam jelas di ingatanku ketika Asma menyebutkan alasan kenapa dia lebih suka naik ojol.


"Apa? "


"Hapus List namaku, gantikan saja sama Cia karen aku yakin paman gilamu pasti sudah mengambil alih perusahaan yang Misel kelola. Ini demi masa depan Cia karena gak mungkin Ayana masih mau jadi dokter awal-awal ini pasti ada rasa trauma bagi dia karena tak bisa menyelamatkan suaminya sendiri."


"Gua setuju, tumben cerdas. Tapi, Ngomong-ngomong kamu mau kerja dimana? "


"Rahasia! "


"Sialan..,"


Aku mendengus kesal dengan jawaban Bagas dimana Bagas langsung nyelonong pergi saja. Tapi aku salut, Bagas bisa berpikir jauh seperti itu. Ternyata keluarga Al-muzaky tak di ragukan lagi.

__ADS_1


Oh istriku rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan memberi kabar gembira ini. Aku yakin kamu pasti senang dengan keputusanku.


Aku tersenyum sendiri membayangkan wajah istriku, sedang apakah dia hari ini. Ku lirik jam tangan yang melingkar indah di pergelanganku. Nyatanya sudah siang, aku yakin istriku perjalanan pulang dari lestorannya.


Hari ini aku dan istriku memang memutuskan pulang ke Mansion Al-muzaky setelah satu minggu bulan madu di rumah baru. Aku dan istriku memutuskan akan memberi tahu perpindahan kami.


Brakkkk...


"Astagfirullah..., "


Aku terlonjat kaget mendengar pintu di buka secara kasar membuat aku mengelus dada sambil beristigfar. Aku menatap tajam pada Bagas yang tak merasa bersalah sama sekali.


"Satu menit lagi rapat di mulai, ayo. Jangan senyam-senyum sendiri kaya orang gila! "


Mataku membola mendengar perkataan Bagas, sungguh punya sahabat gak ada akhlak.


Aku hanya bisa mengelus-elus dadaku dengan lapalan istigfar aku ucapkan.


"Sabar, Ndri. Ok nanti kau bisa membalas perbuatan cecunguk itu. Kita rapat dulu selesaikan semuanya istrimu pasti sedang menunggu di rumah, "


Monologku pada diri sendiri, sambil menyemangati. Aku merasa terlahir kembali di dunia yang berbeda. Sungguh aku merasa hidup dan bahagia. Entah kapan aku merasa bahagia sebahagia ini, aku lupa.


*Terimakasih atas karunia-Mu, Kau memberiku istri yang begitu sempurna. Hingga aku bingung bagaimana caranya bersyukur dengan kenikmatan yang tiada henti ini.


Terimakasih ya Rohman ya Rohim*....


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote....


__ADS_2