Hati Istri Yang Di Madu

Hati Istri Yang Di Madu
Bab 37 Prov Laila (Apa meninggal!!!)


__ADS_3

"Apa meninggal!!! "


Pekikku terkejut mendengar apa yang dokter katakan. Pernyataan itu bak petir yang menyambar membuat aku benar-benar terkejut dan tak bisa menerima semua ini. Bagaimana bisa Andrian meninggal , apa karena perbuatanku tadi memukulnya. Bukankah Andrian hanya pingsan kenapa dokter mengatakan Andrian meninggal.


Tubuhku gemetar dengan mata yang begitu gatal dimana air mata menusuk-nusuk minta keluar. Baru saja aku menikah bagaimana bisa aku harus kehilangan suami yang bahkan belum aku perlakukan Andrian sebagai suami.


Aku menggeleng kuat, tak percaya dengan apa yang dokter katakan.


Entah kenapa aku merasa takut kehilangannya. Mungkin karena aku merasa bersalah karena aku sudah memukulnya hingga Andrian meninggal.


"Nak, yang sabar ya.., "


"Sayang.., "


Aku terus menggeleng kuat dengan setetes air mata keluar. Tatapanku kosong menatap tubuh Andrian yang berbaring. Aku mencengkram dadaku kuat, rasanya ini terasa sakit melebihi rasa sakit di buang oleh mas Vandu.


"Tidak!!! "


Jeritku berteriak sambil mundur kebelakang, aku benar-benar tak percaya dengan kenyataan ini.


"Asma, Nak. "


"Sayang sadar, jangan begini? "


"Tidak!!! suamiku masih ada kalian pasti bohong,,, "


Pekikku menggeleng sambil berlari ke arah Andrian. Aku menggunjang tubuhnya sambil terus menepuk-nepuk kedua pipinya berharap dia akan bangun.


"Hiks.. bangun aku mohon bangunnn,, "


"Asma sadar sayang, kamu harus kuat.. "


"Tidak!!! kalian keluarrrr!!! kalian bohong.., "


Aku menjerit sambil mengusir paman dan bibi bahkan aku mendorong dokter juga. Aku mengunci pintu kamarku dengan tubuh merosot. Tangisanku pecah, kenapa semuanya begini. Rasanya aku tidak percaya Andrian meninggalkanku.


Ya Robb apa ini, kenapa kau hukum aku dengan cara seperti ini. Laila tak sanggup, jerit batinku.


Aku melangkah gontai mendekati tubuh suamiku. Tanganku telurur gemetar memegang wajahnya yang pucat.


Rasa takut kian menggerogotiku, bayang-bayang sebelum tidur masih teringat jelas di memoriku.


Andrian, laki-laki yang membuat aku shok di malam pertama. Bagaimana bisa dia menceritakan semua tentang masa lalunya yang bahkan membuatku benar-benar terkejut ketika Andrian bercerita kalau dirinya hampir saja memperkosa teman kuliahnya. Dan, yang membuat aku terkejut lagi Andrian pernah akan menghancurkan rumah tangga seseorang.

__ADS_1


Bahkan mabuk dan minuman yang selalu tak jauh dari wanita membuat dadaku begitu sesak mendengarnya.


Kenapa aku bisa menerima laki-laki seperti Andrian yang jauh dari kata sempurna.


Tapi, cerita itu entah kenapa membuat hatiku tak bisa marah atau membenci Andrian. Entah karena aku terlanjur menerimanya atau ada hal lain.


"*Aku sudah menceritakan semuanya. Harus kamu ingat Asma aku bukan laki-laki yang sempurna yang bisa membawamu menuju surga Tuhanmu. Aku laki-laki pendosa dan banyak sesalahan yang aku perbuat. Tapi, adakah kesempatan kedua untuk aku berubah! dan aku ingin kamu membingbingku mengenal Tuhanku agar aku tahu cara mengajakmu menuju ridhonya? "


"Kedudukanku mungkin lebih tinggi di atasmu karena aku suamimu tapi, dalam hal agama kamu lebih tinggi dariku. Maka ajari aku mengenal agamaku sendiri agar aku bisa selamat dari siksa-Nya dan bisa membawamu menuju sebuah istana yang kau rindukan*, "


Hatiku bergetar ketika untain kata itu terucap dari bibi Andrian. Walau aku masih shok dengan kenyataan yang ada tapi hatiku menerima Andrian sepenuhnya karena itu sudah keputusanku.


Aku masih ingat juga ketika Andrian mengatakan kalau dirinya akan tidur di shopa karena dia menghargaiku. Tak akan melakukan lebih jika aku belum siap.


"Ke.. kenapa secepat ini! aku belum mewujudkan permintaanmu, dan bahkan ak.. aku bel.. belum melaksanakan ke.. kewajibanku hiks.., "


"Ku mohon ba.. bangun.., jangan tinggalkan aku hiks.. hiks.. "


Aku terus menangis sambil menepuk-nepuk kedua pipi Andrian aku berharap ini hanya mimpi buruk. Aku yakin Andrian tidak akan meninggalkanku aku yakin dokter salah memeriksa aku yakin Andrian masih hidup dan dia sudah berjanji akan membawaku ke istana kerinduan.


Entah seberapa lama aku menangis dan menangis sambil terus mengguncang tubuh dan pipi Andrian. Sesekali aku mendekapnya erat sambil mencium keningnya.


"Ak.. aku tak akan membiarkanmu pergi sebelum kamu bertaubat dan membawaku bersamamu, "


Monologku seperti kehilangan arah, aku berlari ke kamar mandi guna mengambil air wudhu. Aku melaksanakan sholat dhuha bukan untuk meminta rezeki melainkan aku ingin Andrian kembali.


Ku untaikan doa memohon pada Allah dzat yang maha hidup dan menghidupkan. Entah kenapa aku benar-benar merasa takut kehilangannya.


Sesudah sholat dhuha dan memohon pada Allah dzat yang maha hidup aku kembali ke sisi suamiku.


"Aku menerimamu karena Allah dan aku juga ikhlas menjalankan kewajibanku karena Allah. Aku mohon bangunlah, jangan buat aku berdosa karena belum melakukan kewajibanku padamu dan jangan buat aku merasa bersalah karena belum membantumu mengenal Tuhanmu."


Cup..


Ku kecup keningnya dengan keikhlasan berbarengan dengan tetesan air mata menetes pada kening Andrian. Tubuhku bergetar hebat dengan air mata semakin deras keluar menetes ke wajah Andrian.


Ku belai wajahnya dengan penuh perasaan seolah ini hanya mimpi.


"Bang.., "


Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibirku yang gemetar hingga adzan dhuhur berkumandang membuat tubuhku semakin gemetar karena tangis.


Deg...

__ADS_1


Aku terlonjat kaget ketika Andrian bangun dengan tatapan kosong. Rasanya aku ingin mendekapnya erat tetapi aku hanya bisa diam melihat Andrian seperti orang linglung dan ketakutan bahkan Andrian tak menyadari kalau aku ada di sampingnya.


"Bang.., "


Hatiku tercubit ketika Andrian tak mesndengar panggilanku bahkan Andrian melompat seperti orang ketakutan. Entah apa yang terjadi pada Andrian membuat aku benar-benar bingung.


Dia berlari ke arah kamar mandi kemudian kembali dengan wajah basah. Aku semakin di buat bingung dengan apa yang terjadi hingga aku terpaku ketika melihat Andrian berdiri di atas sejadah dan melakukan sholat.


Hatiku bergetar hebat ketika mendengar suara ketakutan Andrian ketika mengucap takbir.


Bang...


Panggilku dalam hati ketika mendengar sebuah doa yang Andrian lantunkan. Rasanya diriku begitu tertampar dan sakit.


Sebegitu takutkan Andrian akan siksaan Allah! lalu apa kabar dengan diriku yang tak bisa menangis seperti Andrian ketika menyesali perbuatanku.


Ternyata bukan aku yang sempurna tapi Andrian, dia yang sempurna bukan aku.


Hatiku benar-benar bergetar entah getaran apa ini. Perlahan kedua kakiku melangkah mendekati tubuh yang bergetar ketakutan akan dosa.


Aku duduk di belakangnya, ingin sekali aku mendekapnya dengan erat bahwa apa yang aku lihat dia memang suamiku yang sedang menangis dalam penyesalannya.


"Bang.., "


Deg...


Aku terenyuh ketika Andrian berbalik dengan mata sipitnya yang semakin sipit bahkan tak terlihat. Entah keberanian dari mana aku berhambur memeluknya erat dengan tangisanku yang pecah.


"Hiks.., ja.. jangan pergi..,"


Lilirku bergetar, aku tak peduli Andrian menganggap aku lancang atau tidak.


"Asma? "


"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa kamu menangis? "


Tangisanku semakin pecah ketika aku mendengar suara Andrian yang begitu lembut membuat aku yakin kalau ini bukan mimpi tapi nyata kalau Suamiku masih hidup.


"Ak.. aku takut sangat ta.. takut. Ta.. tadi abang di katakan meninggal, "


"Aku takut abang benar-benar pergi, masa aku akan menjadi janda lagi. Jangan pergi hiks.. Asma sangat takut hiks.., "


"Maafkan Asma, semua salah Asma hiks.. Asma benar-benar takut.. takut.. "

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Like, Vote, Hadiah dan Komen...


__ADS_2