
"Kau berani membentak suamimu!!! "
"Ya, karena Mas sudah menyepelakan perintah Tuhanku! "
"Kau! "
"Ma ... "
Plak ...
Plak ...
Tamparan lagi dan lagi aku dapatkan. Entah kenapa tamparan kali ini tidak terasa sakit walau aku tahu sudut bibirku kembali berdarah.
Di diri tubuhku yang lemah terasa terkobar keberanian untuk menatap kedalam bola mata suamiku yang menatapku tajam.
Aku sudah tak melihat lagi diri mas Vandu di dirinya, seakan aku melihat orang lain. Sejak kapan mas Vandu mendahulukan hal sepele berani meninggalkan kewajibannya dan memerintah diriku.
"Ka.. kau menampar aku lagi, mas?"
Ucapku dengan tatapan nanar dan sakit menusuk ke dalam bola mata mas Vandu.
"Ya, bahkan aku bisa lebih dari ini. Sekarang cepat buat makanan!"
"Aku tidak mau! "
Lagi-lagi entah keberanian dari mana aku menolak permintaannya. Biasanya aku hanya diam dan menurutinya. Tetapi, kali ini mas Vandu sudah keterlaluan.
"Kau ...,"
Grep ...
Diriku tersentak dan meringis ketika mas Vandu mencengkram jilbabku hingga tertarik membuat jarum pentul menusuk kulit bawah daguku.
"Dengar baik-baik, kau istriku jadi harus menurut! "
"Istri yang mas hianati! "
Bruk ...
Tubuhku tersungkur kelantai akibat dorongan mas Vandu, ku tatapan nanar dan penuh kesakitan mungkin menjadi kebencian dengan apa yang mas Vandu buat.
Tanganku mengepal erat ketika mataku menatap sosok bayangan di belakang mas Vandu yang tersenyum mengejekku.
"Kau benar-benar membuatku muak, dasar istri mandul, cacat. Aku selama ini berbelas kasih menampungmu tapi kau tak bisa memberiku kepuasan dan anak"
"Astagfirullah ..., istigfar, mas. "
Plak ...
__ADS_1
"Jangan ajariku sialan!!! "
"Dengar baik-baik mulai malam ini, ku talak kau Laila Asma Ar-rohman. Ku haramkan diriku kau sentuh wanita cacat!"
Duarrrr ...
Bagai di sambar petir di siang bolong, hatiku seakan di hempit batu besar sangat sesak dan sakit.
Ya Robbi, ya Rohman ya Rohim apa ini nyata atau hanya sekedar mimpi buruk. Inikah kisahku. Kisah yang berhenti di sini! inikah Jawaban-Mu ya Robbi menyuruhku berhenti bertahan.
Inikah jawabanmu ya Robb!
Kenapa sakit?
"Pergi kau dari rumahku. Jangan injakan kakimu ke sini karena ku mengharamkannya. Dasar wanita sialan tak tahu di untung. Ku yakin tak ada satupun laki-laki yang akan memungutmu dasar wanita mandul"
Hancur sudah harga diriku di hina, di caci, di sakiti dan di buang.
Air mataku terus memberontak meminta keluar menodai pipiku yang sudah koyak akibat tamparan.
Inikah sosok laki-laki yang ku banggakan, dan cintai dia tega berkali-kali menyakiti, menyiksa fisik dan batinku.
Aku terbuang, sebatangkara kemana aku harus pergi.
Harga diriku di hina dan di telantarkan.
Cukup Laila cukup! jangan kau terus menangis menangisi laki-laki brengsek itu.
Tetapi, aku tak sekuat itu. Air mataku terus mendesak dan memberontak ingin keluar dan aku tak kuasa mencegahnya lagi.
Dengan berat ku langkahkan kedua kakiku, entah jam berapa sekarang. Mungkin sudah sangat malam terbukti dari suasana yang nampak sepi tetapi aku terus menyeret kedua kakiku dengan berat.
Sesekali aku terjatuh dan bangun karena tak kuat menahan kesakitan dan sesak.
Entah sudah berapa kali aku terjatuh membuat telapak tanganku sakit tetapi aku tak peduli. Aku ingin pergi, pergi kemana di tempat ini aku tak punya keluarga.
Semua keluargaku ada di Jakarta, bagaimana aku bisa kesana bahkan aku tak memegang uang sepeserpun.
"Kuatkan Laila ya Rohman ..."
Lilirku sakit, sesak, kecewa, marah bercampur jadi satu menghempit jantungku membuat ku sulit bernafas.
Lima tahun aku berjuang menemaninya dan mengabdikan diriku untuk laki-laki brengsek itu. Lima bulan pula pengabdianku terbalas dengan kesakitan dan penghianatan.
Hingga ku di buang dengan cara menyakitkan.
Duar ...
Ctas ...
__ADS_1
Bruk ...
Tubuhku terjatuh dengan suara guntur dan petir berbarengan. Seakan alam juga mengutukku. Mereka seakan menertawakanku, mengejekku yang lemah. Hingga tetesan hujan turun seakan membelai jiwaku membuatku faham akan satu hal.
Alam tak menertawakanku bukan pula mengejekku. Tetapi, mereka seakan memeluku lewat jatuhnya hujan. Seakan hujan memberi pesan, jangan takut, jangan sedih. Keluarkanlah semua kesedihan dan kesakitanmu, bersamaku kamu aman. Tak ada orang yang melihat, menertawakan kerapuhan dan ketidak berdayaanmu karena kesedihan dan kesakitanmu ku tenggelamkan bersama hujan yang semakin deras.
"Ah ... sakit ya Robb. Sakit ...,"
Teriakku memekik tenggelam dengan derasnya hujan. Rasa panas di tubuhku perlahan berubah dingin memeluk tubuhku hingga menusuk ke tulang.
Inikah takdirku, inikah kisahku. Berhenti dalam waktu lima tahun pengabdian dan dalam waktu lima bulan pula terhempas dan tersisihkan.
Kemana aku harus pergi! di kota ini aku tak punya siapa-siapa lagi. Bahkan ponsel pun aku tak membawanya. Karena laki-laki brengsek itu langsung mengusirku tak membiarkan aku membawa sepeser pun uang dan selembar pakain.
Aku tersimpuh sambil memeluk kedua lututku erat. Rasa dingin membuat tubuhku mengigil dengan bibir gemetar entah karena dingin atau karena terlalu sakit terus menangis.
Aku sendirian dan ketakutan, kemana aku harus berteduh hanya sekedar mengeringkan pakaianku supaya tidak terlalu basah.
Aku berusaha bangun dan berjalan di sisa tenagaku. Menembus derasnya hujan dan gelap. Hanya ada cahaya petir yang menerangi langkah kaki lemahku. Seakan Allah mengutus petir untuk menerangi kegelapan malam ini.
Bukankah aku tak sendiri. Buktinya Allah membantuku dengan caranya sendiri tanpa aku pinta. Dia ada bersamaku, jika tidak! bagaimana mungkin aku masih bisa berjalan dan bertahan di tengah derasnya hujan jika bukan dari kekuatan dan pertolongan Allah.
La haula wala kuata Illahi billah, bukankah tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali pertolongan-Nya. Lalu buat apa aku takut, Allah ada bersamaku. Allah sedang mengujiku sampai mana aku bisa bersabar.
"Ya Allah jangan sekarang ...,"
Lilirku bergetar memegang kepalaku yang terasa berdenyut dan berputar. Sesekali ku seka air hujan yang menghalangi penglihatanku. Entah kemana tujuanku sekarang yang terpenting aku hanya ingin tempat berteduh.
"Ya Allah jangan dulu, setidaknya biarkan Laila pingsan di saat sudah berteduh, "
Jerit batinku sakit sambil menggigit bibir bawahku yang semakin gemetar. Kepalaku semakin berdenyut bahkan penglihatanku mulai kabur.
"Inikah nafas terakhirku, jika iya. Ampuni dosa Laila ya Allah, bahkan Laila masih punya hutang dua waktu shalat, "
Lilirku pelan dengan kesadaran yang mulai membuatku tak bisa berjalan lagi.
Setitik cahaya di depan sana terlihat di penglihatan mata sanyuku. Lama kelamaan cahanya itu semakin membesar seakan menenggelamkan diriku yang lemah.
Bahkan mataku terlalu silau untuk memandangnya membuat aku tersenyum merasakan jika memang ini benar-benar akhir hidupku.
"Laila ikhlas ya Robb, "
Aku tersenyum di sisa kesadaranku dimana aku mendengar namaku di panggil. Mungkinkah itu malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa dimana dia akan mencabut nyawaku.
"Laila, "
"Allahuakbar, Lailaaaa ... "
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote nya Cinta 😘