
Dia hadir di saat yang sangat tepat, saat aku tak tau siapa yang bisa di ajak bicara, sekedar untuk berbagi masalah yang ku hadapi saat ini. Dia yang bersedia jadi pendengar tanpa banyak bertanya dan tidak ingin memberikan jawaban jika tak ku minta.
Masalah mas Wandi di dalam penjara dan masalah selama pernikahan, sudah ku ceritakan pada keluarga ku, Ayah hanya diam, tapi tatapan nya seperti penuh penyesalan pernah menikahkan dengan lelaki pilihan ku sendiri. Ibu lebih banyak menyuruh ku sabar, karna memang dia tidak tau harus memberikan solusi apa. Tia adik ku, dengan sedikit emosi lebih menyuruh ku meninggalkan mas Wandi, jangan tanya adik laki-laki ku, dia sepanjang cerita ku selalu mengepalkan tangannya.
Septian lah yang lebih mengerti ku saat ini, mungkin karna seumuran, aku seperti dapat teman curhat. Kadang dia membantu mengantarkan pesanan, karna pakai motor, pesanan lebih cepat bisa di antar.
"Tian pacar mu gak marah, kamu kesini terus?" aku bertanya pada Septian.
"Aku lagi gak punya pacar, barusan putus." Septian menjawab singkat.
"Tetangga suka bisik-bisik gak kalo aku kesini?" Septian bertanya.
"Iya pernah nanyain ke aku, 'ngapain kamu ke sini terus', ku bilang aja kamu di suruh mas Wandi, untuk bantu aku."
Kalau septian ke rumah pintu depan selalu ku buka, biar tidak ada datang rasa curiga dari tetangga. Suatu hari mama datang bersama Yani kakak mas Wandi, saat itu ada septian si rumah ku. Lama mama memandangi Septian, akhirnya dia pamit dengan perasaan tidak enak.
__ADS_1
"Itu siapa Mia?" Mama bertanya
"Septian ma, dulu dia pelanggan kue ku sekarang dia menjadi teman." Aku menjawabnya.
"Kalian nampak akrab, mama gak suka mia, apalagi di dengar Wandi, dia pasti marah sekali."
"Mia kalo memang kamu ingin berkawan kenapa tidak mencari yang wanita, kenapa sih harus sama yang cowok" kata Yani.
"Aku gak bisa milih kawan kak, cuma ntah kenapa aku cocok berteman dengannya, aku kadang minta tolong dia ngantar pesanan kalo jauh, atau kadang menolongku menjaga Dika jika aku yang mengantarkan pesanan," jawabku.
"Kalau itu alasan mu sebaiknya kamu gak usah jualan lagi, mama gak mau kamu berdua dengan laki-laki lain saat wandi lagi ada masalah seperti ini, apa yang akan dikatakan orang."
"Kalau kamu masih ingin tetap jualan, jangan lagi izinkan laki-laki itu datang kesini, kamu harus mengantar kan sendiri jualan mu." Mama memberi ultimatum
"Baik ma, besok akan mia sampaikan dengan Tian agar tidak lagi datang," jawabku.
__ADS_1
Yani sudah asyik bermain dengan Dika, mama mengelilingi rumah kami, eh tapi ini kan rumah mama yang di pinjamkan ke pada kami.
"Coba bagian belakang itu kamu temani kembang, kan bisa lebih segar," mama memberi saran.
"Iya ma, nanti kalo mia lagi gak buat pesanan," ku jawab mama sambil terus mengaduk adonan donat ku.
"Ma, pulang yuk, nanti anak-anak nyariin bentar lagi mereka pulang sekolah," kak Yani mengajak mama pulang. Syukurlah ku jawab dalam hatiku, akhirnya bisa bernafas lega.
"Dika nenek pulang dulu ya, minggu depan dika tidur ke rumah nenek ya, kakek udah kangen." Mia juga berpamitan dengan ku.
"Salam sama papa ya ma, juga sampaikan rindu mia untuk rani," kucium tangan mama.
*************
************
__ADS_1
Maafkan jika ada kesalahan dalam penulisan, tanda baca dan alur cerita, di mohon kesediannya untuk memberikan saran yang bisa membantu penulis dalam memperbaiki nya.
Salam hormat dari penulis pemula yang masih harus banyak belajar 💜💜