Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.12


__ADS_3

Happy reading semoga suka ❤️💜


Wulan masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Tian.


"Temannya cewek atau cowok? ngapain pagi-pagi udah kesitu?" pertanyaan menyelidik terus diucapkan Wulan.


"Udah ah, yuk masuk kedalam! malu didengar orang."


Tian mengajak Wulan untuk masuk ke ruangannya.


Langkah kaki Wulan terdengar berat, memaksakan diri mengikuti perintah Tian.


Buru-buru aku menghentikan acara mengintip ku dan kembali menyibukkan diri membersihkan setiap sudut yang ada di gudang ini.


"Buatkan aku minum!"


"Hei, kamu tidak dengar ya?!" Wulan tampak marah dan menendang sapu yang ku pegang.


"Maaf! saya mengira anda bukan bicara dengan saya."


"Siapa lagi yang ada disini? gak ada orang kan?!"


Wulan memutar tubuhnya ke sekeliling, gerakan tubuh Wulan membuat aku ikut mengedarkan pandangan, hanya ada aku dan Wulan disini, sepertinya Tian sedang di kamar mandi.


"Jadi sekarang yang saya suruh itu kamu! Ambilkan saya minum!" suaranya penuh perintah.


"Maaf nona, tugas saya hanya membuatkan minum untuk tamu."


Aku berusaha untuk tetap tersenyum.


"Aku disini juga tamu."


"Kalau begitu silahkan anda duduk di ruang tamu! Jika anda tertarik dengan produk jualan kami, maka saya akan melayani anda."


"Berani sekali kamu memerintah ku! Kamu pikir kau siapa, Hah?!!"


Wulan kembali menendang sapu yang ku pegang. Sapu itu terjatuh ke lantai. Aku tidak ada keinginan untuk memungutnya, ku tinggalkan sapu itu dan berjalan menuju gudang.


"Ambilkan saya minum! Kamu gak dengar?! atau kamu tidak tau siapa saya?!"


"Silahkan ambil sendiri nona! ruangan pantry ada dibelakang, saya kira anda pasti tau tempatnya. Anda bukan baru pertama kali kesini kan?!"


Ku tarik ujung bibir ini dengan paksa, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, menghadapi makhluk cantik didepan ku tapi kecantikan nya tidak sesuai dengan keburukan sifatnya.


"Ada apa Wulan?" tanya Tian yang baru muncul dari arah kamar mandi.

__ADS_1


Ku tinggalkan mereka berdua, Tian melirik dan tersenyum padaku, tapi langsung ku alihkan pandangan, tidak ingin bersitatap dengannya.


'Sabar Mia, ini ujian!' gumam ku.


"Aku mau minum! Tapi, karyawan kamu gak mau ambilkan!"


"Ya udah, biar aku ambil ya!"


Masih ku dengar pekikan Wulan dan jawaban lembut dari Tian, aku kesal mendengarnya. Cepat ku tutup pintu gudang, berharap tidak ada lagi suara mereka masuk ke telingaku.


"Aku lebih suka Desi, dia akan senang hati mengerjakan yang aku suruh! Gak seperti yang sekarang. Tidak bisa diandalkan!"


Suara Wulan masih terdengar, ruangan ini memang tidak kedap suara. Tapi, aku penasaran cacian dan hinaan apa lagi yang akan diucapkannya dan bagaimana tanggapan Tian? Aku sangat ingin mendengarnya. Kali ini aku sengaja pindah ke dekat pintu berpura membereskan barang-barang yang ada disitu.


"Nih minumnya! duduk dulu yuk! Marah-marah mulu dari tadi?!"


Tian memberikan minumnya pada Wulan, mengajaknya bercanda, tapi Wulan tetap melanjutkan omelan nya.


"Kamu ketemu dimana sih?!" tanya Wulan.


Kenapa dia masih saja marah padaku, apa mungkin dia merasa aku adalah saingannya. 'Tenang saja Wulan, aku tau diri kok.'


"Ketemu siapa?" sahut Tian.


Protes Wulan membuat kupingku sakit. Namun aku masih ingin mendengarkan jawaban dari Tian. Ku tajam kan pendengaran.


"Mia temanku, kami sudah lama saling mengenal. Kebetulan sehari setelah Desi berhenti aku bisa bertemunya lagi. Mia seorang pekerja keras. Aku yakin usahaku akan bertambah maju berkat campur tangannya."


Ucapan Tian membuatku tersipu malu. Walaupun ini tidak diucapkan secara langsung. Tapi semua ini ditujukan untukku.


"Ooh pantesan.... Padahal megang komputer aja gak, kok bisa diterima kerja?? Ternyata kenalll...."


Wulan menunjukkan rasa cemburunya. Tian beranjak dari duduknya,


"Udah ah, aku mau ke kantor lagi. Mau sekalian ku antar pulang?" tanya Tian.


"Gak usah! Aku bawa mobil."


"Oo Ya udah... Ayoo!!! Sebentar lagi barang akan masuk, nanti ruangan ini akan sempit dan sumpek. Kamu mau bantu angkatin barang?!" Tian berusaha membujuk Wulan.


"Ogahh!!"


Dengan cemberut Wulan berjalan ke pintu depan. Tian mengikutinya dari belakang.


'Syukurlah, Ratu ngamuk itu udah keluar dari sini!' gumam ku lega.

__ADS_1


Seharusnya kamu tidak usah cemburu padaku Wulan. Jika kamu tau siapa aku.


Setelah kepergian mereka, Wira datang menghampiri.


"Kamu gak papa Mia?" Tanya Wira.


"Aku baik-baik aja. Nih lihat!" ku putar badan di depan Wira.


Wira tertawa, "Aku tidak menyangka kamu berani menolak perintah Wulan. Aku kira kamu akan seperti Desi, yang selalu menuruti perintahnya."


"Aku ini karyawan Tian, bukan anak buah dia, enak aja main perintah," ucapku membela diri.


"Gw suka gaya loe!"


Aku tertawa mendengar perkataan Wira, "Itu jargon lama, hahhaa...."


"Desi di depan Wulan selalu tunduk padahal kalau di belakangnya ngomel, capek selalu dapat perintah dari Tuan Ratu itu. Tapi, dia gak berani mbantah, akhirnya mundur sendiri, gak tahan katanya."


"Bukannya karena mau nikah?!"


"Itu alasannya aja, dia udah dapat kerjaan di tempat lain. Mana ada yang tahan ngadepin si Wulan, ngebos banget gayanya."


Wira menyampaikan uneg-uneg nya, sepertinya dia juga sangat sebal melihat kelakuan Wulan.


"Padahal Tian dan Wulan itu belum ada hubungan resmi loh. Aku ini kan sahabat Tian, lagian kerja disini juga udah lumayan lama. Aku banyak tau tentang mereka."


Aku hanya mendengarkan perkataan Wira. Mendengar semua tentang Tian sudah membuat hatiku senang.


"Wulan itu anaknya Bos Tian di kantor...."


TIIINNNN.....TIIINN......


Bunyi klakson mobil mengantarkan barang memutuskan obrolan kami.


"Aku bantu angkat barang dulu ya!" ucap Wira, dia segera beranjak meninggalkan ku.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Bersambung....


•••••••••


Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.


Bantu like dan coment juga yaa ❤️💜

__ADS_1


__ADS_2