Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.2


__ADS_3

"Ku mohoooon....kembalikan anakkuu.... Mamaaa...." tangis ku.


Beruntung aku datang tanpa membawa Kiyah, sehingga dia tak perlu melihat tangisanku.


Aku terus memanggil, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau menemui ku, aku benar-benar lelah berteriak. Sampai akhirnya ada satu tetangga Mama yang ku panggil "Nenek" mengajakku ke rumahnya, "Mia, sini!" ajaknya.


Rumah warga disini hanya diperbolehkan berpagar pendek, sehingga hampir semua tetangga Mama aku juga mengenalnya. Aku berjalan menuju rumah Nenek, mungkin bisa sedikit melepaskan keluhku.


"Iya Nek," ku usap sisa air mata dengan ujung jilbab berwarna merah muda, jilbab ini dulu pemberian Mama saat dia berangkat ke tanah suci.


Nenek mengajakku duduk di sampingnya, sudah ada air segelas dan cemilan kecil, yang sepertinya sudah disediakan Nenek, sebelum memanggilku.


"Mia, kalau boleh nenek saran, sebaiknya Mia besok saja kembali lagi! Kalau tidak salah dengar, besok pagi Wandi akan kembali untuk bekerja," ucap Nenek sambil menatapku. "Ini pasti suruhan Wandi untuk melarang keluarganya untuk menemui mu," Nenek melanjutkannya ucapannya, "Jika kamu terus disini akan percuma."


Ku resapi setiap ucapan Nenek, ada benarnya, percuma aku disini si Keras Kepala itu tidak akan peduli, walaupun suaraku akan habis untuk berteriak.


"Nenek benar, Mia akan kesini lagi besok Nek, semoga besok Mia bisa bertemu Dika."

__ADS_1


Nenek mengangguk, jauh dihatinya ada rasa kasihan, Mia bukanlah wanita pertama yang disia-siakan Wandi, wanita yang juga harus terpisah dari anaknya karena keegoisan Wandi.


"Mia permisi Nek, Terimakasih banyak ya Nek!" Aku pamit pulang dan mencium hormat tangan Nenek, "Assalamualaikum."


••••••••••


Aku tak bersemangat untuk pulang, berapa kali ojek ataupun taksi yang berusaha berhenti menawarkan jasanya padaku, tapi aku belum ingin beranjak dari jalan ini, berharap Dika keluar, ataupun ada salah satu keluarga Mas Wandi yang bersedia menemui ku.


"Miaaa....??" seseorang menyapaku ragu dari dalam mobilnya.


Dia tersenyum dan langsung menghampiriku, pakaiannya rapi dan wangi ada jenggot tipis yang menambah ketampanan nya, dia lalu membuka kacamata yang digunakannya sebagai penghalau panas, tapi aku masih belum mengenalnya.


"Kamu gak kenal aku?" tanyanya balik.


Aku mengangguk, sejak menikah dengan Mas Wandi aku selalu membatasi pergaulan dengan teman laki-laki, Mas Wandi sangat pencemburu dan aku menghormatinya, walau akhirnya dia sendiri yang mengkhianati.


"Sebenarnya tadi aku udah lewat, trus karna lihat kamu....aku putar balik," dia menjelaskan, aku masih menatapnya, sambil mengingat-ingat. "Aku udah lama nyari kamu, kamu pindah gak bilang-bilang???"

__ADS_1


Sepertinya aku sudah mulai ingat, siapa laki-laki ini, tapi aku belum yakin, penampilannya sangat jauh berbeda dari yang ku kenal dulu.


"Dika mana? kamu sendirian?" pertanyaan itu, membuatku sedih lagi.


Aku merasa tak berguna sebagai seorang Ibu, yang tidak bisa membawa anakku pulang, apa kata Ayah nanti, jika aku pulang tanpa Dika, tanpa diminta air mata ku kembali jatuh.


"Heii.....kamu lagi ada masalah? Maaf...."


"Gak ada apa-apa," cepat ku hapus air mata yang terlanjur turun "Maaf ...aku permisi," sahutku meninggalkannya, mencari ojek yang bisa mengantarku pulang. Sial....ntah kemana perginya ojek yang dari tadi menawarkan diri, terpaksa aku kembali duduk.


"Mia....mau ku antar?" tanyanya.


"Tak usah, aku bisa sendiri."


"Kamu terlihat sangat menyedihkan, dari seberang sana aku sudah memperhatikanmu, berharap bukan kamu....karena aku benci melihatmu menangis," dia menatapku.


Aku menghindari tatapannya, aku sudah ingat sekarang, laki-laki ini yang pernah menawarkan cintanya, menjanjikan akan membahagiakanku, tapi aku menolaknya, karena lebih memilih tetap melanjutkan rumah tangga dengan Mas Wandi.

__ADS_1


__ADS_2