
Pekerjaanku menginput barang yang datang dan menyusunnya di gudang selesai dengan baik, hanya ada 8 buah kaos yang rejeck yang akan di kembalikan ke agennya atau mungkin dijual murah. Walaupun harus bekerja sampai malam, tapi aku puas pikiran sedih tadi bisa terlampiaskan pada hasil kerja yang sudah berbentuk laporan data, walaupun masih tulisan tangan.
Kurapikan susunan kaos terakhir yang terletak di rak atas, dengan bantuan tangga aku bisa menggapainya, "Mia kalau udah selesai aku antar pulang ya!"
Panggilan Septian yang tiba-tiba membuatku kaget, kaos yang tadi sudah ku ikat sesuai dengan warna dan ukuran nya terlepas dan menimpa Tian.
"Aduuhh," ucap Septian yang tak siap menerima kejatuhan barang di atas kepalanya.
"Eh Maaf Tian, aku gak sengaja, kamu sih bikin kaget!" ucapku sambil tertawa geli, melihat ekspresi Tian yang pura-pura kesakitan.
"Bukannya di usap malah dimarahi," Tian menghentikan sakit pura-pura yang dia rasakan.
Sambil tersenyum dia membantuku merapikan kembali kaos yang sudah berserakan terlepas dari ikatannya, "kamu tadi kemana sih? aku gak lihat?"" tanyaku, setelah Tian mengajarkan cara menginput barang aku memang tidak melihatnya, aku dibiarkannya merapikan dan menyusunnya semua sendiri.
"Ada kok! sengaja biar kamu merasa gak dilihatin, ntar grogi lagi! hahhaha."
"Bohong, tapi aku gak lihat,"
"Aku di depan sama Mas Wira, sengaja biar kamu merasa nyaman dan menganggap usaha ini milik sendiri," ucap Septian.
"Kalau udah nyaman, aku nanti ngerasa jadi bos gimana?" ucapku sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Semua sudah selesai tertata di tempatnya masing-masing sesuai dengan kode yang ada di label rak-rak penyimpanan yang disediakan di dalam gudang itu. Aku bisa duduk sebentar mengobrol sambil menikmati makanan kecil yang ada.
"Boleh....nanti biar yang disini manggil kamu 'Bu Bos Septian' sahut Septian menggoda ku. "Jadi kamu mau kan kerja disini? nanti aku kasih uang bulanan dan bonus penjualan, walau gak besar cuma Insyaallah usahaku lancar, jadi gajinya juga lancar," sahut Tian menjelaskan.
"Aku belum izin mengundurkan diri dari tempat kerja ku sebelumnya," ucap ku, sambil mengambil kue yang sisa satu di piring, mengisi perutku yang lapar, tadi Tian sudah menawarkan untuk membeli nasi bungkus tapi aku menolaknya. 'Rasain kamu Mia sekarang Lapar kan?' batinku.
"Besok kamu boleh izin dulu kesana, tapi siangnya langsung kesini ya! soalnya orderan kita harus sudah langsung diantar, biar pelanggan tidak kecewa," sahut Septian.
Aku mengangguk menyetujuinya, "Makasih ya!"
"Oh ya ini kunci gudangnya, Mia pegang satu." Septian melepaskan anak kunci dari ikatannya lalu di berikan gantungan kunci berbentuk hati yang diambil dari dalam laci meja kerjanya.
Aku menerimanya dan memasukkan ke dalam tas kecil yang ku bawa, "yuk pulang!" ajak ku.
Aku menggeleng kan kepala, "udah malam, aku belum bilang Ayah, juga kasihan Kiyah di rumah sama Ibu, pasti Ibu lelah."
"Ooh...Baik." Septian mengambil kunci mobilnya kemudian menuju keluar aku mengikutinya di belakang.
************
Pagi ini aku mendatangi counter hape tempat aku biasa mengais rezeki, sudah 10 bulan ini aku bekerja disitu, tempatnya tidak jauh dari rumah Ayah, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan banyak ongkos untuk sampai.
__ADS_1
"Pagi, Ce!" sapa ku saat melihat Cece mulai membuka counternya, aku mencoba membantu melepaskan gembok yang terpasang di ruko tersebut..
"Pagi Mia, tumben jam segini udah datang,"
Ku lihat jam di tangan, masih 7.30 aku mulai bekerja dari jam 8 sampai jam 4 atau kadang sampai 5 sore jika ramai, "Iya Ce, aku mau minta izin mengundurkan diri," ucapku sambil tertunduk, ada perasaan tidak enak, teringat awal masuk kerja dan selama kerja disini Cece dan suaminya selalu memperlakukan ku dengan baik, termasuk dua karyawan Cece yang lain.
"Kenapa Mia? gajinya kecil ya? kamu udah 10 bulan disini, pas satu tahun nanti Cece udah niat menaikkan gaji kamu," ucap Cece sambil melihat ke arahku.
"Bukan itu Ce....ada kawan Mia punya usaha grosir baju distro, dia minta bantuan, Mia gak enak menolaknya,"
"Tapi kalau Mia udah keluar dari sini, mungkin tidak bisa masuk lagi ya! soalnya Cece pasti harus langsung mencari pengganti Mia, walau mungkin agak susah mencari yang rajin seperti Mia,"
"Iya Ce, Mia tau, Maafkan Mia ya! berhenti kerjanya mendadak," sambil ku satukan dua tangan di depan dada.
Aku berpamitan sambil mencium hormat punggung tangan Cece, "Mia tunggu sebentar ya!"
Cece berjalan ke dalam dan keluar sambil membawa amplop, "ini gaji Mia sampai hari ini dan udah Cece tambahkan bonus ucapan terimakasih atas kerja Mia selama ini."
Cece menyerahkannya dan ku terima dengan rasa syukur, uang ini bisa untuk membeli susu Kiyah dan ongkos menuju gudangnya Tian yang lumayan jauh dari rumah Ayah, mudah-mudahan cukup sampai gajian berikutnya yang akan ku terima dari Septian.
"Terimakasih Ce!" sahutku yang dibalas Cece dengan senyuman.
__ADS_1
Ku langkahkan kaki meninggalkan counter, sambil mengingat perjalanan awal aku bisa kerja disini karena ada tulisan "Butuh karyawan" di depan ruko Cece, lalu aku memberanikan diri melamar dan langsung diterima.
Setelah mengundurkan diri secara baik-baik, ada perasaan lega, sekarang aku bisa lebih fokus kerja membantu usahanya Septian. Siang ini mungkin langkah yang baik untuk hidup ku....