Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.27


__ADS_3

Happy Reading semoga suka❤️💜


Jangan lupa like dan komentarnya ya, biar author makin giat menulis 🤗😘


***


Berkas yang sudah disiapkan Mia, telah di ambil Wulan untuk diserahkan pada Om Ridwan, "Om Ridwan lagi sibuk, gak apa ya aku yang bawa!"


"Gak apa Lan, aku malah makasih banget udah mau direpotkan."


"Di tangan Om Ridwan kita pasti menang. Hak asuh pasti jadi milikmu."


"Aamiin...Makasih ya Lan."


Mia kembali memeluk Wulan. Dia tidak menyangka Wulan akan menjadi seorang sahabat yang mau ikut berjuang.


***


Sejak punya kafe Mia tidak lagi pulang ke rumah Ayah. Karena jauhnya jarak rumah dari kafe membuatnya harus berpikir jika harus bolak-balik. Ongkos dan lelah di perjalanan menjadi pertimbangan Mia. Dia hanya menyempatkan pulang dua kali seminggu untuk melihat keluarganya, dan melepas rindunya pada Kiyah. Kadang dia meminta ibu mau menginap di kafenya bersama Kiyah, tapi tidak bisa sering karena kasihan Ayah.


Pagi ini Mia datang ke rumah Ayah, dia memeluk Kiyah erat melepas rindunya. Ia pun mencium hormat tangan Ayah dan Ibu. Ayah memintanya duduk di dekat Ibu,


"Mia, kemaren mertua dan kakak ipar mu kesini!"


"Mama Mas Wandi, Yah?


"Iya. Mereka marah-marah, mereka bilang dapat panggilan dari pengadilan agama."


"Syukurlah, berarti kasus perceraian Mia udah dinaikkan ya, Yah?"


"Sepertinya begitu, karena keluarga Wandi udah menerima panggilan sidang."


"Mereka bilang apa aja yah?"

__ADS_1


Ayah hanya diam, terlihat masih ada luka yang ia simpan, tidak ingin Mia mengetahuinya.


"Mereka bilang, 'Dasar gak tau terima kasih, udah syukur Wandi masih mau. Dia kira kalo cerai dengan Wandi masih ada yang sudi jadikannya menantu??, jadikan pembantu iya?!' itulah ucapan mertua dan kakak ipar mu," Ibu mengatakan semua yang ia dengar kemaren.


Tampak Ayah melarang ibu melanjutkan lagi ucapannya. Ayah menutupkan matanya berusaha menghapus semua ingatan, akan kasarnya ucapan mantan besan yang pernah di segani-nya itu. Mia tidak lagi bertanya, dia tau pertanyaan nya akan membuatnya Ayah bertambah sedih.


"Mia akan terus berusaha menjadi orang sukses, biar keluarga kita tidak lagi jadi hinaan. Maafkan Mia ya Yah! sudah membuat Ayah bersedih karena kesalahan Mia memilih pasangan."


Ayah tak menjawab pertanyaan Mia. Dia hanya memeluk anak tertuanya itu. Memberikannya sebuah kekuatan yang dia sendiri tak punya. Air mata yang hampir menitik pun dengan cepat dihapusnya.


***


Di rumah Orangtuanya Wandi. Mamanya sedang mendapat telpon dari seseorang, dia mencari tempat tersembunyi yang tidak bisa di dengar siapapun selain dirinya.


"Kamu tak usah pulang rumah ini. Sampai kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."


"Tapi Ma, Wandi harus kemana?"


"Besok Mama transfer uang untuk hidupmu dua bulan, cari tempat kos. Yang penting jangan pulang. Papa bisa jantungan dengar masalahmu ini. Sudah... Mama takut Papa mu dengar."


Kasus Wandi terbongkar, ternyata uang kantor yang dipakai Wandi lebih banyak dari perkiraannya. Rumah serta isinya, serta motor yang tinggal satu-satunya pun harus ditarik pihak kejaksaan. Beruntung pihak kantor masih memaafkannya, sehingga dia tidak perlu dipenjara seperti Pak Boby. Tapi, ia telah kehilangan pekerjaan yang selama ini ia banggakan meninggalkan juga hutang-hutang kepada banyak orang karena permainan judinya yang selalu kalah.


Kebenciannya semakin menjadi pada Mia, karena Mia lah anaknya jadi seperti ini. Dia menganggap Mia lah satu-satunya orang yang Pantas disalahkan.


***


Sidang perceraian Mia dengan cepat bisa di selesaikan karena tidak ada kehadiran Wandi maupun keluarganya.


Mia tidak bisa menahan tangisnya saat palu hakim diketuk ke atas meja. Menandai resminya dia menjadi janda. Dia menangis, bersujud di lantai pengadilan. Perasaan lega karena sekian lama masalahnya digantung, tanpa dia tau cara menyelesaikan nya. Terlebih hak asuh dua anak jatuh kepadanya, dengan tunjangan hidup mereka tetap diberikan oleh Ayah kandungnya, tapi Mia tidak memperdulikan, dia masih sanggup membiayai hidupnya dan anak-anak. Tidak perlu dia mengemis pada Wandi.


"Selamat ya Mia," ucap Wulan yang selalu hadir menemaninya.


Mia memeluk erat Wulan, "Terimakasih banyak Wulan, aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu." Tangisnya kembali pecah di pelukan Wulan.

__ADS_1


"Ayah dan Ibu tidak tau harus sedih atau senang. Di usia semuda ini, Kamu harus menanggung semuanya Mia."


Ayah dan Ibu hanya menunduk menahan rasa harunya. Kiyah yang berada di gendongan Ibu, terlihat bingung dengan kejadian yang belum dia mengerti.


Mia memegang tangan Ayahnya, menggenggamnya erat, "Ini semua adalah jawaban atas doa Ayah. Ayah ingin Mia bahagia kan? Mungkin ini permulaannya."


Mia mencoba tersenyum di hadapan Ayah dan Ibu. Dia tidak mau lagi melihat Ayahnya bersedih.


"Tapi, Dika masih di tangan mereka?" tanya Ayah tiba-tiba.


"Iya Ayah, besok Mia dan pihak kejaksaan akan menjemputnya. Mereka pasti menyerahkan Dika. Cucu Ayah pasti balik lagi."


Tian yang dari tadi berada di belakang mendatangi keluarga Mia. Setelah sidang beberapa kali dia tidak pernah hadir. Hanya di sidang keputusan ini dia ingin hadir mengajak Ayah dan Ibu Mia. "Yuk pulang!" Ajaknya. "Itu sidang yang lain mau dilanjutkan." Tian menunjuk beberapa orang yang terlihat memasuki ruang pengadilan.


Mereka berjalan beriringan ke luar gedung, menuju mobil Tian.


"Eh Wulan mana?" tanya Ibu.


"Iya, Wulan mana ya? atau masih di dalam? Bentar ya Mia jemput dulu!" Mia berlari ke dalam ruang sidang ingin menjemput Wulan. Matanya tidak melihat keberadaan Wulan di ruangan ini.


"Wulan!" Ternyata di sudut pintu bagian yang lain dia melihat Wulan sedang mengobrol dengan hakim Muda, yang telah beberapa kali memimpin sidang perceraian nya.


"Hai Mia, Sini!"


Mia mendekat ke arah Wulan, "Ini Mas Riko. Kami dikenalkan oleh Om Ridwan." Wulan tampak malu-malu.


"Ooh." Mia mencolek pinggang Wulan, membuat Wulan tergelak malu. "Kami mau pulang? Kamu gimana?"


"Nanti biar Wulan saya yang antar!" Hakim itu dengan cepat menjawab pertanyaan Mia.


"Tolong di antar ya Pak Hakim! Jangan sampai ada yang kurang ya! Ini gadis antik loh"


Mia kembali mencandai Wulan, yang semakin malu-malu. "Saya pulang dulu ya! makasih Pak Hakim dan Wulan yang udah banyak membantu saya!" Mia menyatukan dua telapak tangannya di bawah dada.

__ADS_1


Dengan riang dia meninggalkan Wulan dan Riko yang tampak kasmaran.


Bersambung...


__ADS_2