Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.4


__ADS_3

Kriiinnggg.....kriiingg...


Ponselku berbunyi, ada panggilan masuk dari Septian. Ku atur nafas yang masih memburu karena menangis, aku tak ingin terdengar cengeng dari seberang sana. Aku keluar dari rumah Mama dan menuju teras untuk menerima telpon.


"Hallo...," ku jawab telpon dari Septian.


"Hallo Mia, kamu lagi dimana? bisa bantu aku gak?" terdengar suara Septian dari ujung telpon.


Apakah harus ku temui Septian dalam kondisi seperti ini, tujuan ku untuk menjemput Dika belum tercapai. Tapi, tawaran Septian untuk mengajak ku bekerja di usahanya juga menggiurkan, selama ini aku hanya bekerja sebagai pelayan toko yang gajinya tidak seberapa tapi memakan waktu dari pagi sampai malam.


Baiklah, Aku pilih untuk menemui Septian kali ini, percuma aku bertahan disini mereka sama sekali tidak perduli tangisan ku.


"Mia.... kamu masih disitu?" panggilan Septian menyadarkan ku.


"Eh....iya," jawabku tergagap.


"Pasti melamun lagi kan? udah melamun nya nanti cepat tua," ejek Septian.


"Memang udah tua, tuh anak udah dua, weekk.... " jawabku, membalas ejekan Tian.


"Tapi....masih tetap cantik kok."


Lagi-lagi ucapan Septian membuatku merasa malu.


Mengapa Mas Wandi tidak pernah merayu seperti yang dilakukan Tian, walaupun aku bukanlah tipe wanita yang suka di rayu, tapi aku juga wanita biasa yang suka sekali-kali di puji.


"Nah.... melamun lagi?"


"Eh... maaf," jawabku tergagap.


"Ayo....kasih tau lagi dimana? biar aku jemput sekarang!"


"Aku tunggu di tempat kemaren kita ketemu ya?" sahut ku, sekilas mataku melihat gorden kamar Mama tersibak, mungkin Mama mengintip dari dalam kamarnya.


Sebelum pergi aku mencoba memanggil Dika sekali lagi, berharap mereka mau keluar menemui ku, "Dika....keluar nak! Mama mau pulang! Dika mau ikut mama gak?" panggil ku.

__ADS_1


Ku dengar bisik-bisik, sebelum akhirnya Dika menjawab panggilan ku, "Mama pulang aja dulu, nanti Dika susul kalau Papa udah kesini ya!!" suara Dika terdengar serak menahan tangisnya.


Aku benci keadaan ini, mengapa mereka menahan anakku, apa yang mereka inginkan?


"Baik Dika, Mama sekarang pulang dulu ya, besok Mama kesini lagi, jemput Dika!"


"Gak usah Ma, Dika mau sekolah disini dengan Nenek," jawab Dika masih dari dalam kamar.


Deg....dadaku berdesir, ini pasti bisikan mereka. Air mata ku kembali jatuh, percuma aku tetap bertahan disini, jika mereka masih bertahan dengan Ego dan ketakutan akan kemarahan Mas Wandi. Sebelum pergi pasti Mas Wandi sudah memberikan ultimatum keluarganya untuk melarang ku membawa Dika pulang.


Aku langkahkan kaki menjauh dari rumah Mas Wandi, teringat janji untuk menemui Septian, ku luruskan pandangan ke depan, dan menghapus airmata yang terlanjur menggenang. Aku kembali pulang tanpa ada genggaman.


***********


Di depan gang tempat kami pernah bertemu, ternyata sudah ada Septian menunggu,


"Haii...." panggilnya.


"Hai," jawabku lemas, perasaan ku masih terbawa suasana di rumah Mas Wandi tadi.


Ku perhatikan wajah Septian, dia terlihat gagah dengan baju kaus dan celana pendek selutut nya, wajahnya yang selalu tersenyum seperti ingin membahagiakan ku. ahh....seandainya dia adalah mas Wandi mungkin akan ku peluk dan mencurahkan rindu kasih sayangnya.


"Kamu mau minta tolong apa?" tanyaku balik.


Teringat tadi di ujung telepon, Septian bilang butuh bantuan.


"Malah nanya balik, kamu lucu," ucap Tian sambil tertawa renyah, padahal dia lah yang jadi tampak lucu bagi ku.


"Sambil jalan yuk! aku gak enak dilihatin abang ojek, nanti dikira godain cewek cantik," Tian tertawa dan membukakan pintu mobilnya untuk ku.


Aku hanya tersenyum dia selalu bisa menghiburku.


"Jadi kamu mau dibantu apa?" mengulang tanya setelah mobil berjalan maju ke arah jalan besar.


"Aku kan pernah bilang, admin gudang ku berhenti, jadi posisinya sekarang kosong belum ada yang gantikan, aku gak sempat cari pegawai baru, apalagi di kantor sekarang lagi sibuk-sibuknya buat laporan akhir tahun, kamu mau kan tolongin aku?" tanya Tian sambil sesekali menolehkan pandangan ke arah ku.

__ADS_1


"Kamu kan tau, aku ini hanya tamatan SMP, pekerjaan tertinggi ku hanya pelayan toko, mana bisa kerja pakai komputer, nanti kamu bisa rugi mempekerjakan orang yang bukan ahlinya,"


"Mungkin sekarang kamu belum ahli, tapi aku tau kegigihan mu, nanti kamu pasti bisa, aku gak akan bosan ngajarin kamu." Septian masih berusaha membujuk ku.


Jujur aku juga menginginkan pekerjaan ini, hitung-hitung bisa menambah pengalaman kerja, tapi ada ketakutan jika salah perhitungan aku bisa membuat usaha Tian merugi.


"Baiklah Tian, aku coba dulu, kalau ternyata gak bisa nanti aku akan mengundurkan diri!"


"Yess....akhirnya kamu mau menerimaku," jawab Tian girang.


"Apa???" mataku melotot ke arahnya, dia tertawa terbahak,


"Maksud ku menerima tawaran pekerjaan ku, hahhaha...."


Aku ikut tertawa melihat ulahnya, pria 27 tahun itu sekarang fokus kembali menghadap ke depan, seterusnya kami tidak lagi berbicara.


Kami sudah sampai di sebuah rumah yang telah didesain seperti kantor dan sekaligus dijadikan gudang oleh Septian. Tampak beberapa pekerja menurunkan barang dari sebuah mobil boks.


"Ini letakkan dimana, Pak?" tanya seorang salah satu dari mereka.


Septian menunjuk ke depan pintu sebuah kamar, "Disitu aja dulu!, biar nanti di catat jumlahnya dan baru masukkan ke gudang."


Tian memanggilku untuk mendekat, "Nah ini gudangnya," dia membuka pintu kamar tadi dengan sebuah kunci yang ia keluarkan dari tas kecilnya yg selalu di bawanya.


"Lihat kan sibuknya?" kata Septian, "Barang masuk ini harus dicatat dan diperiksa kembali, sebelum dikirim ke konsumen, aku beruntung bisa menemukanmu yang bisa membantu," sahut Tian.


Aku hanya tersenyum tipis, "Kalau catatnya manual aku bisa Tian, tapi jangan suruh pakai komputer dulu ya! aku harus belajar lagi."


"Sipp, yang penting kamu mau bantu aku."


Ada 10 bal yang tertumpuk di muka pintu itu, aku harus mulai bekerja, biar cepat selesai dan disimpan ke gudang. Sedikit aku bisa melupakan masalah yang baru saja terjadi, Dika semoga kamu baik-baik disana Nak!


"Tuhan, tolong jaga Dika ku!" doaku lirih dan mulai mencatat sesuai arahan Tian.


********

__ADS_1


Bantu Like dan rate5 nya yaa❤️💜 terimakasih...


__ADS_2