Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Kembali Memberi Luka


__ADS_3

Dika sudah selesai ku mandikan dan ku pasangkan seragam sekolahnya, sebenarnya Dika bisa mandi sendiri, tapi ada rasa haru yang mengikuti jika aku sendirian. Ku bangunkan Kiyah, jangan sampai dia menangis, karna akan susah membujuknya untuk diam.


Sarapan yang ku siapkan untuk empat orang, masih satu yang tak berpenghuni. Ya, untuk mas Wandi, yang aku tak tau apakah akan datang pagi ini, ini jadwalnya mengantar Dika. Sudah setengah delapan, Dika sudah merengek ingin di antar sekolah. Ku ambil gendongan Kiyah, kupakai kan jilbab pink nya, dia tambah imut terlihat.


Ku kunci semua pintu, jika pun mas Wandi pulang dia sudah bawa kunci cadangan. Tepat akan melangkah ke teras depan, mas Wandi datang, Dika berteriak senang.


"Papaaa, antar Dika sekolah!!!" Dika melompat girang.


"Sama Mama aja ya!!" sahut mas Wandi.


"Mau sama Papa, naik mobil," Dika berteriak


"Dikaaa...pergi sama Mama, Papa mau istirahat dulu!!" Mas Wandi berteriak marah.


Ku ajak Dika keluar dari mobil, karna dia sempat masuk mobil ingin tetap di antar papanya. Wajahnya yang putih terlihat merah menahan marah. Mas Wandi tak peduli, dia berjalan melenggang masuk rumah. Aku tak berani melihatnya.


"Ayoo... Dika mama antar," ku bujuk Dika.


"Papa gak sayang Dika lagi Ma," Dika menangis ke pelukanku.


"Papa cuma capek, biar Papa istirahat dulu yaa!" Ku gandeng Dika dengan tangan kananku dan Kiyah di gendongan sebelah kiri.


Perjalanan ke sekolah Dika hanya 10 menit jika ditempuh dengan jalan kaki, sekolahnya berada di depan gerbang perumahan, banyak tetangga yang menyapa saat melihat kami, ada yang benar-benar kenal atau sekedar basa basi. Dika sudah mulai lupa dengan kesalnya, dia kembali ceria berjalan sambil bernyanyi.


Sampai di sekolah Dika terlambat 5 menit, aku minta maaf ke guru Dika, ku tinggalkan Dika di sekolah nya biarlah nanti ku jemput lagi, sebagian orangtua ada yang menunggui anaknya, aku tersenyum pada semuanya, tidak ada yang benar-benar ku kenal.

__ADS_1


Sesampai di rumah mas Wandi masih tertidur....


"Mas...Mas bangun mas!! Mas gak kerja?" ku goyangkan badan mas Wandi membangunkannya.


"Kamu apaan sih?? Suami tidur diganggu dasar istri durhaka." Tajam sekali mulut Mas Wandi pada ku.


"Aku cuma mau bangunkan Mas, takutnya kamu kesiangan, nanti bos mu marah," ku pelan kan suara ku.


"Aku udah izin gak masuk, sudah pergi sana!!" mas Wandi mengusir ku keluar dari kamar.


Ku seka air mata yang tak sengaja ke luar. Ku lupakan semua kekasarannya, ini lebih baik dari pada dulu dia sering meninggalkan ku di rumah mama. Aku harus terus bersabar, mama selalu mengingatkan ku, orang seperti mas Wandi hanya bisa dilawan dengan kesabaran.


Ku lanjutkan menjemur pakaian yang tertunda karna mengantar Dika, Kiyah kuletakkan tak jauh dari ku, aku harus lebih cepat menyelesaikan jemuran sebentar lagi Dika akan pulang. Ku siapkan kopi untuk mas Wandi dan nasi goreng yang sudah ku siapkan sebelumnya.


Lima belas menit lagi Dika akan pulang, mas Wandi belum juga bangun, berarti aku yang harus menjemput lagi, dengan menggendong kiyah yang beratnya hampir 14 kg, karna belum banyak bergerak tubuh kiyah tampak lebih subur dibanding anak seusianya. Sangat lelah ku rasa, mengapa mas Wandi tak mau melihat kepayahan ku. Apa dia tak punya rasa sayang lagi untukku....


Dika siswa terakhir yang belum dijemput orangtuanya, ku ucapkan terimakasih pada buk gurunya yang udah mau menunggu sampai aku jemput.


"Makasih ya buk, udah mau tunggu in Dika."


"Gak apa-apa Mama, ini udah kewajiban saya," jawab guru Dika ramah.


"Permisi ya buk, kami pamit pulang," ku ulurkan tangan mengajak bersalaman.


Di gerbang perumahan kami bertemu, Mas Ben suami mbak Dela, dia yang melihat kerepotan ku, menawarkan diri naik ke motornya.

__ADS_1


"Ayoo mama Dika, naik motor saya aja," ajak mas Ben.


"Gak usah om, nanti merepotkan," ku tolak halus tawarannya, walau sungguh sangat menggiurkan, panas terik dan beratnya Kiyah yang harus ku gendong.


"Ma, Dika mau naik motor." Dika menarik ujung celanaku. Dia mungkin juga lelah.


"Gak apa-apa, kita kan se arah gak repot kok." Mas Ben kembali menawarkan bantuannya.


Karena desakan dika juga akhirnya kami naik ke motor, tidak ada yang kami bicarakan hanya, dia yang sekali-kali bertanya pada Dika yang duduk di bagian depan.


Mas Wandi sudah bangun saat aku sampai di rumah di antar mas Ben. Terlihat raut wajah tidak senang, aku ketakutan, entah apa yang akan di ucapkan nya nanti.


"Makasih Om Ben," Dika berlari senang ke arah rumah.


"Sama-sama, besok kalo ketemu naik motor om lagi ya, Mas Ben tidak memperdulikan mas Wandi yang tampak melototiku, "Permisi Papa Dika!" Mas Ben berlalu dari hadapan kami.


Aku yang ketakutan tak berani menatap mata mas Wandi. Cepat ku langkahkan kaki, masuk kedalam. Apa yang ku takutkan akan segera terjadi.


############


**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.


Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ.


Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπŸ€—πŸ€—***.

__ADS_1


__ADS_2