
Happy Reading semoga sukaβ€οΈπ
Jangan lupa like dan komentarnya ya, biar author makin giat menulis π€π
***
Dika menangis di pelukan Mia. Rasa rindunya sangat besar. Anak sekecil itu harus menahan rindu pada orangtuanya yang tidak bisa di temui. "Papa juga tidak pernah menemui Dika. Percuma Dika bertahan di rumah Nenek! Nenek sering marah-marah." Dika mengeluarkan semua keluh kesahnya setelah dia duduk di mobil anak buahnya Om Ridwan, yang menemaninya menjemput Dika.
"Mama sayang Dika! Maafkan Mama tidak pernah lagi mengunjungi Dika. Mama menunggu saat yang tepat. Mama tidak ingin sekedar mengunjungi, karena Mama ingin sekaligus menjemput Dika. Sekarang kita tidak akan bisa dipisahkan lagi!" Mia terisak kembali. Mengingat perjuangan nya, menahan rindu.
***
Setelah sepuluh bulan surat cerai Mia dikeluarkan pengadilan. Mia menikmati kesibukan barunya mengantar Dika sekolah. Dika pindah sekolah dekat kafe, sehingga Mia bisa mengantar dan menjemputnya setiap hari.
"Mia bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
Tian yang dari tadi duduk di sebelah Mia, memberanikan diri untuk bertanya.
"Hhm-mm," jawab Mia. Dia melihat sebentar ke arah Tian, setelah itu dia kembali asyik, mengelap piring-piring kecil yang ada di depannya.
"Aku ingin serius denganmu. Maukah kamu ku kenalkan pada orangtuaku?"
"Tian!"
"Jangan menolak lagi Mia! Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Wajah Tian tampak sedih.
"Aku masih trauma Tian," sahut Mia. Dia melihat ke arah Tian. Tian mengambil tangan Mia dan menggenggamnya di atas meja.
"Aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Menjadi Ayah sambung yang baik. Apa sikapku selama ini belum mencerminkan itu?"
Pertanyaan Tian membuat Mia gugup. Tian sudah sangat sempurna baginya. Tapi, ada satu lagi yang sangat ditakutkannya. Apakah nanti keluarga Tian menerima kehadirannya? Menerima semua kekurangannya?
Tian melihat ketakutan di wajah Mia. Dia mencoba menyelami apa yang ada di pikiran wanita yang ada di hadapannya ini.
"Besok aku akan ajak kamu ke rumahku. Gak boleh nolak lagi." Tian menguatkan genggamannya di tangan Mia. Dia yakin Mia tidak akan menolaknya kali ini.
***
Siang ini Mia dengan gugupnya duduk di ruang tamu rumah Tian. Paduan cat dinding biru dan kuning yang lembut tidak menutupi kecanggungan Mia menunggu Tian memanggilkan orangtuanya. Dulu dalam situasi yang berbeda Mia sudah pernah kesini, menawarkan dagangannya. Orangtua Tian akan selalu membeli, dan memberikan kembaliannya untuk Dika.
__ADS_1
"Ayah Ibu, ini Mia!" Tian muncul bersama orangtuanya.
Mia yang masih dengan gugupnya berdiri dengan sedikit membungkuk. Dia tidak ingin orang tua Tian masih mengenalinya.
"Silahkan duduk!" ucap Ayah dan Ibu Tian berbarengan.
Tian memilih duduk di dekat Mia. Kehadiran Tian disampingnya sedikit membuatnya berani untuk menegakkan kepala.
"Tian sudah menceritakan semuanya. Kami menyetujui hubungan kalian," ucap Ayah Tian. Suaranya yang tegas sangat jelas di dengar siapapun yang ada di ruangan ini.
Mia tampak kaget melihat ke arah orang tua Tian, sekarang pandangannya beralih kepada Tian meminta jawaban. Begitu mudahnya mereka merestui, tidak ada beberapa pertanyaan yang harus dijawabnya. Tidak seperti dia pertama kali kenal orangtua Wandi. Mantan mertuanya menanya, Dia tamatan mana? Siapa ayahnya? Apa pekerjaannya? Banyak lagi pertanyaan yang harus di jawab. Sedangkan Wandi sudah menghilang membiarkan orangtuanya menyeleksi. Tapi keadaan disini sungguh berbeda.
"Ayah saya hanya tukang foto keliling Pak. Kami bukan keluarga berpendidikan. Saya hanya tamatan SMP." Mia mencoba menjelaskan, dia tidak ingin Orang tua Tian tau belakangan.
Ibu Tian mendekatinya, "Kami tidak akan mempermasalahkan apa pekerjaan orang tuamu. Karena yang akan bertanggung jawab denganmu setelahnya adalah Tian. Jangan mengingat masa lalu Mia, hiduplah untuk masa depan!" Ibu Tian memberikan nasehat panjangnya.
Ketakutan yang selama ini ia takutkan menguap. Tidak sepantasnya dia mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Perasaanya sangat lega, dia menemukan keluarga baru yang bisa menerima dirinya apa adanya.
"Minggu depan, bolehkah kami datang melamar mu untuk Tian anak semata wayang kami?"
Mia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah. "Mia tanya Ayah dulu ya Pak!" Jawab Mia sambil tertunduk malu.
"Tian, kamu ini sama saja dengan Ayahmu."
Ibu mencubit pinggang Tian. Mereka semua tergelak, "Tapi, Mia nggak boleh panggil Bapak lagi! Panggil Ayah aja!"
"Iya Bu!" ucap Mia sambil mengangguk kan kepalanya.
"Ayo Mia! Kita ke belakang bantu Ibu masak." Ibu menarik tangan Mia ke dapur.
Rasa canggung yang tadi dibawanya telah lebur dengan sikap yang diperlihatkan orang tua Tian. Kemudian mereka makan siang bagaikan sebuah keluarga.
***
Hari pernikahan yang telah ditetapkan pada waktu lamaran berjalan dengan lancar. Mia tidak ingin ada perayaan besar. Dia merasa malu karena ini bukanlah pernikahan pertamanya. Tapi, orang tua Tian tetap ingin merayakannya. Mengundang semua kenalannya untuk hadir mendoakan mereka.
Di dalam kamar pengantin.
"Kamu tidak ingin meminta kado pernikahan?" Tanya Tian.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Kesetiaan dan kebaikanmu sudah lebih dari kado apapun."
Tian membelai lembut kepala Mia, yang tertutup Jilbab putih. Penantian panjangnya, untuk mendapatkan Mia, telah memberikan rasa bahagia yang tidak dapat dilukiskannya.
Dia mengecup lembut bibir Mia, yang masih penuh dengan lipstik, sisa riasan pun masih menempel rapi di wajah Mia. Tapi Tian tak sabar lagi, ia ingin melepaskan kerinduan yang telah lama ia pendam. Malam ini adalah malam terindah yang pernah dirasakannya. Saat penyatuan dua jiwa bersatu. Melepaskan semua rasa diiringi desahan lembut dari keduanya.
***
Saat Matahari mulai menampakkan sinarnya, Tian telah selesai mandi. Dia keluar menggunakan pakaian santai yang telah disiapkan Mia.
"Aku punya hadiah untukmu," sahutnya mendekati Mia, yang masih asyik menyiapkan sarapan.
"Hadiah apa?" tanya Mia kegelian, saat bibir Tian mulai meraba leher putihnya.
"Ini!" Tian menyerahkan sebuah map merah ke tangan Mia. "Karena setiap kali ditanya, kamu nya gak mau apa-apa? Akhirnya aku punya ide ini dan aku yakin ini hadiah yang akan selalu menjadi saksi pernikahan kita."
Tian mulai menyambut bibir Mia yang mengaga karena rasa terkejutnya, "Tian ini serius?!!" tanyanya setelah lepas dari tangkapan Tian.
Sebuah sertifikat, alamatnya sesuai dengan tempat kafe nya sekarang. Disitu tertulis nama lengkapnya. Dia sekarang yang menjadi pemilik kafe itu. Mia berteriak kencang, mendaratkan ciuman berkali-kali ke wajah Tian. "Terimakasih....Terimakasih," ucapnya tanpa henti.
"Usaha ku yang kemaren sudah di beli Wira. Diam-diam ternyata dia menabungkan semua gaji dan bonusnya. Dengan cara mencicil, sekarang usaha itu milik Wira. aku akan fokus di kantor saja, sedangkan kafe itu akan kita sulap lebih indah sekaligus bisa jadi rumah, sampai kita punya rumah yang kamu impikan. Aku akan giat bekerja untuk mewujudkannya."
Tian kembali memeluk tubuh Mia, "Aku juga tidak ingin kamu mengerjakannya semuanya. Kita akan menerima karyawan yang bisa membantu mu di kafe, untuk urusan ini biar kamu yang menyeleksinya."
Tian melanjutkan ucapannya. Tanpa melepas kan pelukannya, mereka sudah kembali ke kamar, yang menjadi saksi mereka kembali menyatukan rasa dan asa.
Tamat
***
Meminjam istilah dari Mbak reader "Akan ada pelangi setelah hujan badai berlalu." Semoga kita tidak mudah menyerah, jika masalah datang.
Terimakasih untuk semua Author yang selalu menyempatkan hadir memberikan semangatnya dan juga teruntuk reader yang juga bersedia membaca setiap tulisan yang sangat jauh dari kata sempurna ini, Terimakasih yang tak terhingga saya ucapkan. Lop u pull β€οΈβ€οΈ
Leganya akhirnya bisa menamatkan kembali karya yang sebelumnya pernah tamat juga.π€π€ππ. Tapi, karena masih ada yang merasa digantung ceritanya, akhirnya saya coba lanjutkan lagi. Semoga Akhir cerita ini bisa memuaskan pertanyaan yang ada.
Terimakasih sekali lagi dan mohon maaf jika ada kesamaan cerita dan nama tokoh. Ini real karya saya dengan mencoba melihat kenyataan yang ada di sekeliling. ππΌππΌ
Mampir juga kesini ya, karya yang juga sangat sederhana.
__ADS_1