Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.17


__ADS_3

Episode 59


Happy reading, semoga suka ❤️💜


Di dalam mobil Tian dan Wulan sudah menunggu. Wajah Wulan yang tadinya terlihat ceria memainkan ponselnya, kembali cemberut melihat kedatangan ku. Aku masuk mobil dan kembali duduk di belakang.


Tian mulai menjalankan mobilnya dengan pelan, meninggalkan warung bakso yang mulai ramai dikunjungi pembeli. Aku memandang keluar mobil, hujan mulai reda, motor yang tadinya tampak berteduh sudah bersiap beranjak menuju tempat tujuannya masing-masing. Pemandangan setelah hujan selalu membuatku larut dalam lamunan.


Pohon yang kembali hijau karena debu yang menutupinya telah larut terbawa hujan. Anak-anak yang berlarian karena kecewa bermainnya terhenti saat hujan pergi, mengingatkan ku pada Dika, yang selalu berteriak sedih jika hujan berhenti.


Tanpa terasa mobil berhenti pada sebuah rumah mewah di perumahan elit. Rumah bercat putih gading itu memiliki tiang besar yang kokoh didepannya. Seperti ingin mencerminkan kekuatan yang dimiliki si empunya rumah. Wulan bersiap turun dari mobil, “Jangan lupa nanti malam ya Tian! Papa Mama pasti udah menunggu.” Dia mengambil tangan Tian dan menciumnya. Tian hanya tersenyum dan menjawab, “InsyaAllah, semoga nanti tidak ada halangan.”


Wulan mengangguk dan tersenyum, dia sangat yakin Tian akan datang malam ini. Dengan Riang Wulan memasuki rumah, tanpa sekalipun menoleh padaku.


“Mia, Pindah ke depan ya!”


“Hah?’


“Aku tidak mau terlihat seperti sopir.” Tawa Tian.


“Oh iya.” Aku berpindah duduk di sebelah Tian.


“Mau langsung pulang atau ada tujuan lain?’ tanya Tian. Tangannya dengan lihai memutar kemudi berbalik arah keluar dari perumahan elit ini.

__ADS_1


“Langsung pulang aja,” jawab ku.


“Wulan anak Bos di kantorku,” Tian memulai pembicaraan tanpa ku minta, “Dia baru selesai kuliah di Singapura.”


“Oh.”


“Papa nya meminta ku menemaninya, sampai dia menemukan teman yang bisa di ajak jalan. Wulan anak tunggal dia sering merasa kesepian. Teman akrabnya tidak ada lagi disini, semua sudah bekerja dan kuliah ke luar negeri. Sebenarnya dia anak baik, tapi sekarang dia selalu cemburu jika ada yang dekat denganku.”


“Wajar wanita cemburu jika pacarnya dekat dengan orang lain,” ucapku menyahuti ucapan Tian.


“Kami tidak pacaran.” Tian melihat ke arahku, membuatku gugup terdiam.


“Eh- iyakah?” jawabku gugup.


“Huk..huk...” Aku terbatuk-batuk mendengar ucapan Tian barusan. Apakah kata-kata terakhir itu untukku?


Tian tidak lagi melanjutkan perkataanya, dia hanya memandang ke arahku. Aku tak berani memandang ke arahnya, pura-pura fokus ke jalan yang ada di depanku.


“Mia, aku boleh tanya sesuatu?”


“Eh...Iya, tanya apa?”


“Kita sering ketemu di ujung gang itu. Sebenarnya kamu dari mana? Setiap kali ketemu disitu, wajahmu selau terlihat sedih. Selama ini aku tidak berani bertanya, takut kamu belum siap bercerita."

__ADS_1


Tian kembali melirik ke arahku. Lampu merah di depan, membuat mobil harus berhenti. Tian mencoba memegang tanganku, seperti memberi kekuatan untuk bercerita. Dengan cepat aku melepasnya, rasa yang masih ada untuk Tian, tak ingin ku biarkan tumbuh subur. Aku harus sadar diri, untuk sebuah kenyataan.


Ku hembuskan napas berat yang dari tadi ku tahan. Haruskah ku ceritakan semuanya pada Tian? Membuatnya mengasihani akan keadaan bodohku saat ini?


“Ceritakan Lah Mia, mungkin aku tidak bisa membantumu. Tapi, setidaknya bisa meringankan beban yang ada dalam pikiranmu.”


Wajah penasaran Tian tidak berpaling dari wajahku. Dia memberikan senyum termanisnya. Mengalirkan perasaan nyaman, menembus ke dalam hatiku yang terdalam.


“Eh...Itu lampunya hijau,” ucap ku gugup karena pandangan Tian yang tak lepas memandangku.


Tian menarik rem tangan dan mulai menjalankan kembali mobilnya.


“Aku masih menunggu jawaban.” Matanya sudah menatap lurus ke jalanan.


Aku menarik nafas panjang, mungkin aku harus mempunyai teman untuk bercerita. Sudah lama masalah ini ku pendam sendiri. Tak punya kawan bercerita membuatku hanyut sendiri dalam derita. Mungkin dengan bercerita bisa mengurangi beban yang menyesakkan dada. Walaupun takkan ada saran yang bisa diberikan, biarlah beban hilang lewat perkataan.


Bersambung


•••••••••


Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.


Bantu like, koment ya biar author semangat nulisnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2