Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.8


__ADS_3

happy reading semoga suka ❤️💜


********


Aku merasakan ketakutan sangat, saat Kiyah masih saja tidak mau turun dari gendongan, ku tatap jam dinding yang terus bergerak ke tengah pusaran angka. Ku sapu pandangan ke sekeliling rumah, banyak mainan berserakan, di ujung pintu ada tumpukan pakaian siap jemur yang belum terpasang pada tempatnya, di sudut kamar baju dan celana masih tergelatak belum bisa dibelai dengan gosokan.


Sebentar lagi Mas Wandi akan pulang, tak ada satupun makanan yang berhasil aku siapkan, piring kotor sisa semalam masih asyik bercengkerama dengan piring selesai sarapan pagi ini. Rasa dingin menjalar ke tubuh ku, perkataan apa yang akan disampaikan nya kali, bentakan dan cacian penghias bibirnya akan menusuk ke telinga dan menusuk tajam jantung, sakit yang tidak berdarah.


Bunyi rem mobil yang dipijak paksa pemiliknya, berdenyit menambah rasa ngilu di dada.


"Papa!" sambut Dika saat melihatnya pulang.


Senyumnya di ujung pintu berubah dengan sorot mata tajam ke seluruh penjuru ruangan di rumah ini,


"Kamu tau kan? aku tidak suka keadaan rumah seperti ini?" Dia menatap tajam, membuatku tertunduk takut.


"Ma-af Mas! Kiyah tidak sehat dari tadi tidak mau lepas, minta gendong terus!" terbata untuk alasan yang seharusnya bisa diketahuinya.


"Jangan buat alasan untuk sebuah kemalasan."


Tegas, keras dan menyakitkan. Tidak setiap hari di melihat rumah dalam keadaan seperti ini, hanya keadaan yang memaksa. Sebenarnya aku pun tak lagi kuat menopang beban berat badan Kiyah yang menumpu pada pundak. Belum ada sarapan yang masuk ke perut yang ku olah menjadi tenaga. Lelah beban tak sebanding dengan perasaan yang tersakiti.


"Bantu sebentar pegang Kiyah, Mas! Biar ku siapkan semuanya!" pintaku pada lelaki yang ku harapkan menjadi super hero setelah Ayah.


"Tidak bisa! aku belum makan, aku mau beli makan keluar!"


Diambilnya kunci motor yang menggantung tidak lagi pada tempatnya, beruntung dia masih membawa Dika. Ku bereskan mainan Dika yang berserakan dengan Kiyah masih di gendongan. Jika mainan ini terpijak akan ada sumpah yang dia lontarkan.


"Percuma punya istri, jika harus membeli makanan orang lain."

__ADS_1


Masih sempat ku dengar umpatannya di kejauhan, ku pekak kan telinga semoga dia tak sampai menuju ke hati yang membuat sakit.


Kucoba dudukkan Kiyah, berharap dia mau mengerti ancaman yang akan diterima Mamanya jika belum juga bergerak melaksanakan tugas di rumah ini.


"Aaaaaaa.....aaaa...." Raung Kiyah, menggema ke seluruh rumah mungkin juga sampai ke tetangga, jika ada Dika dia akan marah adiknya di biarkan menangis.


Tapi aku harus buru-buru, pakaian ini harus segera di jemur, cucian piring ini harus di bereskan, sebelum Mas Wandi kembali datang.


"MIiAAA!!!! kamu memang tak becus jadi Ibu! jadi Istri **** jadi Ibu bodoh."


Kurasakan dingin sekujur tubuh, padahal aku hanya menggunakan tangan untuk mencuci piring. Mas Wandi pulang, aku tak mendengarnya. Kemarahannya pasti karena mendengar jeritan Kiyah. Cepat ku gendong Kiyah kembali. Badan ini belum sempat beristirahat.


Mas Wandi makan nasi yang di belinya dari luar dengan lahap, ku cium aroma yang menggelitik perut, aku butuh satu suapan saja, tapi tak ku lihat ada bungkusan yang lain untukku.


Ku langkahkan kaki, keteguk air pengganjal perut, sisa biskuit Kiyah ku korek dari wadahnya bagi dua dengan yang punya, Kiyah tersenyum lucu saat biskuit itu ku terbangkan sebelum masuk ke mulutnya. Perutku sudah kenyang cukup dengan senyuman.


Dia sudah pergi, meninggalkan butiran nasi yang berserakan tak ada kata pamit apalagi pelukan, apa yang harus ku pertahankan, dia bukan cahaya di kegelapan.


"Mia, subuh dulu yuk!"


Itu bukan suaranya dia tak pernah mengajak bercengkrama dengan sang pencipta.


"Mia!" suara disertai ketukan.


Ku lepaskan selimut penutup tubuh yang memberi kehangatan, "Iya ayah! Mia udah bangun."


Bayangan masa laluku terputus oleh pelindungku. Mimpi buruk yang benar-benar nyata ku alami saat tinggal bersamanya.


••••••

__ADS_1


Perjalanan ke gudang Tian, bisa ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum. Kiyah telah mandi dan dititipkan ke Ibu, beruntung Ibu sehat selalu dan menjaga Kiyah dengan perasaan senang sehingga aku bisa bekerja dengan tenang.


Tian tidak datang pagi ini, karena dia harus absen pagi di kantor nya, Ku buka kunci kantor dan mulai menyapu, kantor ini sudah ku anggap rumah sendiri, sehingga tidak ada perasaan terpaksa di setiap yang ku lakukan.


Pagi ini aku harus membuat pesanan barang ke grosir Bandung, sudah banyak barang yang telah berkurang karena banyaknya orderan yang masuk kemaren.


Cling....


[Mia! udah nyampe?] tanya Tian lewat pesan.


[Udah, ini lagi belajar buat pesanan]


[Oh jangan sampai salah ya! nanti sebelum dikirim aku lihat dulu ya, Mia!]


[Siap Bos! Mia bekerja sesuai arahan Bos] ku tulis pesan balasan dengan senyuman.


Ada perasaan bahagia setiap Septian menghubungi ku.


[Jangan lupa sarapan! suruh Wira beli keluar ya!]


[Gak usah! aku udah sarapan di rumah!]


[Baiklah! Aku lanjut kerja dulu, nanti jangan pulang duluan, Tunggu Abang Tian!] pesan itu disertai emoticon senyum mengembang.


[Ya] aku ikut mengangguk saat menulis ya, padahal tak mungkin Septian melihatnya dari ujung sana.


Ku letakkan ponsel di sebelah komputer yang akan ku gunakan.


Salahkah perasaan ini? Apa ini Cinta, jika ada perasaan bahagia di dekatnya?

__ADS_1


•••••••••••


__ADS_2