Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.3


__ADS_3

Laki-laki itu terus menatapku, membuat jadi serba salah, ada pancaran kasih sayang yang coba ia tularkan lewat matanya dan aku sudah lama tidak merasakannya, aku butuh itu, tapi tidak darinya untuk saat ini.


Ku hindari tatapannya, aku sudah ingat sekarang, laki-laki ini yang pernah menawarkan cintanya, menjanjikan akan membahagiakanku, tapi aku menolaknya, karena lebih memilih tetap melanjutkan rumah tangga dengan Mas Wandi.


"Kamu Tian kan?" tanya ku, laki-laki itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum, sepertinya ia sangat senang, aku bisa mengenalnya.


"Iya Mia, aku Tian yang dulu sering main ke rumahmu."


"Maaf....aku sempat gak mengenali tadi."


"Gak apa, aku terlihat lebih ganteng kan sekarang? hahhahhaa." Dia tertawa senang


"Hahhaha......PD banget sih!" aku juga mencoba melupakan sedihku.


Kembali ku menoleh ke belakang, masih tidak ada dari keluarga Mas Wandi yang berusaha menyusul ku.


"Mau ku antar pulang?" tanya Tian sekali lagi.


"Aku tidak ingin merepotkan mu."


"Tidak Mia, aku merasa sangat beruntung bisa bertemu kamu lagi."


Bibirnya tersenyum menarik sampai ke ujung matanya, dia tidak bohong, senyumnya tulus.


"Baik lah, tapi jangan minta bayaran ya! uangku gak cukup untuk bayar taksi sebagus ini, hehehe" ucapku sambil tertawa.


"Hahahha....tidak akan, malah kalau boleh aku yang ingin mentraktir mu makan!"


Aku hanya tersenyum, Tian membukakan pintu mobilnya untuk ku, mobil berwarna hitam dengan aksesoris lengkap, aku merasa seperti putri raja di dalamnya. Selama perjalanan Tian sama sekali tidak ingin menanyakan masalah yang ku hadapi, ia selalu menceritakan cerita lucu yang sedikit menghiburku.


"Jadi mau ya?" tanyanya tiba-tiba.


"Mau apa?"


"Ku traktir makan," jawabnya.


Aku sudah melupakan ajakannya tadi, yang ku kira hanya sekedar tawaran basa-basi. Perutku memang sudah lapar, dari kemaren aku belum makan, sejak Dika dibawa Mas Wandi, aku hanya memikirkan Dika. Bagaimana kabarnya Dika? Apa masih menangis karna melihatku tadi?


"Heii.....Melamun lagi?" Tian mengagetkanku, " Mau ya? Anggap saja ini perayaan sahabat yang sudah lama tidak bertemu," ucapnya berusaha membujukku.


Mukanya sengaja dibuat lucu, aku kembali tertawa, Tian memang selalu bisa mengalihkan rasa sedih yang sedang ku rasakan.


"Oke....tapi jangan yang jauh di sekitar sini aja!" sahutku menerima ajakannya.


"Siap Bis!!!!"


"Lho kok Bis?" tanya ku heran.


"Iya dong, kalau Bos untuk cowok, kalau Bis untuk cewek, hahhaha."


Dia kembali membuatku tertawa, rasanya sudah lama aku tidak tertawa seperti ini. Tian membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang telah di desain menjadi sebuah tempat makan, di bagian teras rumah ada kolam-kolam kecil, di atasnya ada saung yang terbuat dari kayu yang beratapkan jerami, sangat kental suasana pedesaan di tengah kota yang panas.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya, Tian hampir saja menarik tanganku, yang langsung cepat ku tarik.


"Maaf....tak sengaja!" ucapnya, tampak penyesalan di wajah Tian.


"Tak apa!" aku menundukkan kepala, memang terlihat Tian tidak sengaja, mungkin terlalu senang bisa membawaku ke sini


"Mau makan di dalam atau di luar?" tanya Tian.


Aku melihat ke arah dalam rumah makan itu, hanya ada meja dan kursi yang telah diisi banyak pengunjung, sepertinya ruangan ini lebih banyak dipakai untuk acara resmi.


"Di luar aja ya!" ajak ku.


Saung itu sedikit tinggi, ada tiga anak tangga yang harus dinaiki untuk sampai ke atas. Pemandangannya sangat asri dan sejuk, membuat perut ku bertambah lapar. Tidak lama Pelayan datang menanyakan pesanan kami.


"Mau pesan apa?"


"Terserah yang traktir aja," aku membiarkan dia memilihkan makanan sesuai yang diinginkannya.


Ku lihat Tian tampak sibuk, beberapa kali dia permisi untuk mengangkat telpon. Setelah menunggu cukup lama pesanan kami datang, semua makanan yang datang sesuai seleraku yang suka pedas.


"Kamu kerja dimana, Mia" tanya Tian sambil makan.


"Penjaga toko," jawabku.


"Kamu mau kerja dengan ku gak? sudah dua hari ini, admin bagian gudang berhenti karna menikah, makanya aku jadi sangat sibuk."


"Bukannya kamu udah bekerja sebagai pegawai di kantor yang sama dengan Ayahmu?" tanyaku heran.


Aku hanya tersenyum dan cepat menyelesaikan makan, sudah sore aku tidak ingin kemalaman sampai rumah. Setelah selesai makan, kami segera pulang, Tian memacu mobilnya sambil terus menelpon, sepertinya ada yang sangat penting di ujung sana.


Aku meminta Tian hanya mengantar sampai simpang gang rumah dan memang gang rumah Ayah tidak bisa dilewati oleh mobil.


"Terimakasih ya!" aku sengaja tidak ingin mengajak Tian untuk turun, tidak enak dengan tetangga dan Ibu tiri ku.


"Boleh pinjam hapenya? tanya Tian.


Ku serahkan ponsel yang ku beli dengan hasil keringat ku sendiri, ada wallpaper Kiyah dan Dika. Dengan cepat Tian mengetikkan beberapa angka pada panggilan telpon dan melakukan panggilan keluar.


"Itu nomorku, jangan lupa simpan ya! aku udah simpan nomor kamu, besok aku telpon."


Tian permisi pulang dan segera memutar mobilnya, laki-laki dua puluh tujuh tahun itu sudah hilang dari pandangan.


••••••••••••••


Pagi ini aku akan kembali ke rumah Mas Wandi, Ayah memaksa untuk menemaniku, tapi aku tak ingin Vertigo Ayah kambuh, melihat perjuangan ku mendapatkan Dika,


"Ayah, nanti antar Mia sampai depan gang aja ya! biar Mia coba selesaikan masalah Mia sendiri, doakan Mia menemukan jalan yang terbaik dari permasalahan ini yah!" ucapku sambil mencium tangan Ayah.


Ayah mengusap kepalaku dengan tatapan sedih.


"Mengapa nasib pernikahan mu harus sama dengan Ibumu." Ayah bergumam sendiri, tapi aku cukup jelas mendengarnya.

__ADS_1


Ayah mengantarkan ku sampai gang depan rumah Mama, dari jauh ku lihat Dika bermain dengan sepupunya, dia langsung berlari dan memelukku. Kami berpelukan dalam haru,


"Adek mana Ma?" tanya Dika


"Adek tunggu Dika di rumah, Dika mau pulang sama Mama kan?"


Dika menganggukan kepalanya dan mengajakku menemui neneknya.


"Nenek.....Dika mau pulang!"


"Dika gak ingat yang Papa dan Nenek bilang?" tanya Mama sambil mengajak Dika masuk ke kamarnya, ntah apa yang di ucapkan Mama pada Dika, dia kembali menemui ku dan mengatakan,


"Dika mau disini aja Ma! sekolah disini."


Mama tampak tersenyum menang, ntah dengan apa mereka meracuni pikiran anakku, aku coba memanggil Dika untuk mendekat ke arahku,


"Dika sini!" panggil ku.


Dika tidak beranjak dari tempatnya berdiri, ku coba menyusulnya, suara Mama menghentikan ku,


"Kamu udah dengar kan? Apa yang menjadi pilihan Dika."


"Mengapa Mama tega menghasut anakku?" tanyaku, air mata ku mulai turun.


"Wandi kan udah bilang jika kamu mau kembali rujuk dengannya, dia akan menyerahkan Dika, mengapa kamu tidak rujuk saja?" ucap Mama, apakah selama ini Mama tidak sadar kelakuan anaknya?


"Mas Wandi bukan suami yang baik, jika dia tidak berubah, Mia tidak akan pernah mau rujuk," jawabku tegas.


"Halaahh....Wandi udah menceritakan semuanya, kamu Istri yang tak pernah bersyukur, suami bekerja siang malam, malah uangnya kamu curi, untuk apa? untuk kirim ke orangtua mu yang miskin itu?? atau untuk menggoda laki-laki lain???"


"Mama jangan menghina keluarga ku....hiks...hiks... kami memang miskin, tapi aku tidak pernah mencuri, hiks....hiks...malah Ayah yang kadang mengirimkan uang, karna Mas Wandi sangat jarang menafkahi kami, hiks...hikss." Sahutku diiringi isak an, tak menyangka Mama begitu tega menyakiti perasaan ku.


Dika mencoba memeluk, tapi Mama langsung menarik tangan Dika dan menyuruhnya masuk kamar.


"Pulanglah! pilihan untuk mu cuma rujuk, atau nasibmu akan terus menggantung? karena buku nikah mu tidak akan pernah kami serahkan sehingga kamu tidak akan bisa mengurus perceraian," ucapan Mama benar-benar menyakitkan, mengapa dia tidak punya perasaan sebagai sesama wanita.


"Aku tidak peduli nasibku, Aku hanya ingin Dika untuk saat ini, Mama....biarkan Dika memilih!'


"Kamu tidak mendengar pilihannya?"


"Pasti Mama dan Mas Wandi telah meracuni pikirannya! aku mengenal anakku, tidak mungkin dia tidak memilih Ibunya...." aku menangis meminta belas kasihan pada keluarga ini.


"Sekali-kali kamu boleh lihat Dika, tapi tidak untuk di bawa, sekarang pulanglah! urus Kiyah, dia itu anak cacat butuh penanganan khusus," ucap Mama terdengar lembut di telinga, tapi menusuk hati.


Mama dan keluarganya meninggalkan ku sendiri, mereka semua masuk kamarnya masing-masing, tak peduli aku yang terus menangis memanggil Dika.


"Mama.... kembalikan Dika Ma....!" pintaku yang terus mengemis.


Kriiiinggg..... kriiiinggg


Ponselku berbunyi, ada nama Septian di panggilan masuk.

__ADS_1


__ADS_2