Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.15


__ADS_3

Happy reading semoga suka ❤️💜


Ku tinggalkan rumah dua lantai bercat hijau ini. Banyak kenangan yang akan selalu tersimpan dalam pikiran ku. Baik buruknya akan selalu jadi pelajaran. Mencoba menata hati walau luka perih itu selalu menghantui.


Mas Wandi ku pilih diantara banyak lelaki yang bisa di pilih. Wajahnya yang tampan, pekerjaan tetap dan keluarga yang lengkap menjadikan alasan utama ku saat itu. Siapa sangka aku yang salah memilih, ketika Mas Wandi hanya menganggapku barang yang hanya pantas didapatkan tapi bukan untuk dipertahankan.


Ada kepuasan baginya, bisa memainkan perasaan wanita, mendapatkan lalu mencampakkan. Sekarang dia merasa kembali tertantang untuk bisa mengembalikan aku pada hidupnya. Begitu mudahnya meminta maaf untuk kesalahan yang terus berulang. Kadang ada perasaan ingin memaafkannya lagi, biar bisa Dika ku kembali. Tapi, rasa sakit ku selalu berkata, 'Biar lah impian itu hanya sebatas mimpi, jangan lagi lukai hati.'


Tiinn....tiinn....


"Jalannya kurang ke tengah, Mbak!"


"Eh-eh....Maaf Mas, Maaf!!" ucap ku.


Seorang pengendara motor berulangkali mengklason dan meneriakkan ku. Bunyi nyaring dari klaksonnya mengembalikan ku ke dunia nyata. Tanpa sadar dari tadi aku berjalan di tengah jalanan. Lamunan panjang tentangnya telah menghantarkan ku sampai ke ujung gang ini.


Ku tunggu angkutan umum berwarna merah yang akan mengantarkan ke pemberhentian oplet menuju rumah Ayah. Dua kali naik oplet menuju kesini tanpa sempat minum dan banyak mengeluarkan air mata membuat mataku sedikit berkunang-kunang.


Ku hampiri warung yang ada di pinggir jalan, membeli air kemasan dingin mengganti cairan tubuh yang hilang, karena hilang lewat tangisan dan peluh selama perjalanan. Ku pandangi oplet merah yang berhenti, menawarkan jasanya, hanya tersisa bangku di ujung pintu, dengan keadaan saat ini aku takut oleng dan jatuh, sehingga lebih baik ku tunggu oplet selanjutnya.

__ADS_1


"Tidak tahu terima kasih, bersyukur kami masih mau menerima mu, menjadikanmu menantu di keluarga kami. Kau akan menyesal Mia?!!"


Tergiang teriakan Kak Yuni dan Mama saling bersahutan, saat langkahku tadi menuju pintu keluar. Apakah mereka akan membuatku menyesal, membiarkan Dika tetap tinggal disitu? Apakah aku menyesal tetap tidak mau memaafkan Mas Wandi dan tetap tak ingin kembali padanya?


Tiin... Tiinn ... Tiinn


Bunyi klakson apalagi ini? kenapa lamunanku harus selalu terputus karena klakson.


"Hei, kalau mau melamun itu di rumah, Mbak?"


Ku dengar suara tertawa dari dalam mobil yang telah parkir tepat di hadapanku. Kaca mobil yang telah turun memperlihatkan wajah penuh senyum dari Tian dan muka masam Wulan. 'Kenapa harus bertemu lagi sih?' umpat ku.


"Kok ketemu terus sih disini?" tanyaku pada Tian. Aku masih berdiri menghadap me arah mereka.


Aku baru ingat sekarang, rumah Tian hanya berjarak lima kilometer dari rumah Mama. Setiap Tian harus ke pusat kota dia akan melewati jalan ini. Jadi wajar kami beberapa kaki bertemu di ujung gang ini. Bukan artinya Tian itu jodohku. Aku tersenyum memikirkan pikiran konyol ku.


"Sekarang malah senyum-senyum. Ayo naik, biar ku antar pulang!"


Tiba-tiba Tian sudah berdiri di sampingku.

__ADS_1


"Eh...Ng_nggak usah...Aku bisa pulang sendiri...ini lagi nunggu oplet merah..."


"Aku sekalian mau kesana. Ini mobilku masih muat kok! Ayo naik."


"Bener deh....Nggak usah Tian. Aku pulang sendiri aja."


"Sudahlah Tian...Ngapain sih dipaksa. Kalau dia mau pulang sendiri, ya biarin aja. Ayolah Tian, aku udah lapar nih." Wajah Wulan tampak tidak suka dan dia merasa terganggu olehku.


"Iya bener kata Wulan. Kamu duluan aja. Aku pulang dulu ya....itu oplet nya udah lewat."


Ku gerakkan tanganku ke depan oplet yang melintas, mencoba menghentikannya. Tapi oplet itu tidak berhenti. Setiap kursinya sudah terisi penumpang. Aku menghela napas berat. Zaman sekarang sudah jarang oplet beroperasi. Hanya ada satu dua, itupun sudah banyak kursinya yang terisi karena gang rumah Mama berada di tengah jalan pusat kota. Oplet itu sudah mulai mengisi penumpangnya di ujung jalan besar.


"Sampai jam berapa kamu akan berdiri disini? Sebentar lagi hujan. Sana masuk mobil. Suara Tian terdengar berat. Aku melihat ekspresinya. Sepertinya Tian tidak ingin di bantah saat ini.


Aku begitu bingung. Harus menuruti kata-kata Tian atau tidak. Sementara di dalam mobil ekspresi Wulan tampak kesal.


Bersambung....


•••••••••

__ADS_1


Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.


Bantu like, koment ya biar author semangat nulisnya ❤️💜


__ADS_2