
Happy Reading, Semoga Suka 💜❤️
Mama hanya Diam, sepertinya dia menyesal telah menahan Dika selama ini. Menjadikan Dika sebagai umpan. Tapi, aku enggan memakan umpanku. Kecewa terlihat di wajahnya yang tak bisa di sembunyikan.
"Maafkan aku! Mungkin Keluarga ini akan lebih lama mengurus Dika. Pasti kalian kecewa tidak berhasil menjadikan Dika sebagai umpan, untuk membuat aku kembali pada Mas Wandi."
Semua tampak terkejut mendengar kalimat yang ku ucapkan. Mereka saling berpandangan, terlihat saling menyalahkan dan mencoba mencari jawaban adakah yang membocorkan strategi yang telah mereka siapkan.
"Tidak perlu terkejut seperti itu. Ini sudah kejadian yang kedua kalinya dalam keluarga ini bukan?" Entah darimana kekuatan yang bisa membuat ku berbicara dengan lancar dan berani ini. Satu lawan banyak orang. Aku seperti berada di atas angin, ketika semua masih terdiam tanpa berani memotong bicaraku, "Sebelumnya kalian pernah melakukan hal yang sama pada istri Mas Wandi 'Cica'. Kalian menahan Rian dan Rani berharap Cica kembali. Tapi, ternyata dia tetap tidak mau kembali kan? Sekarang aku juga akan melakukan hal yang sama. Ku relakan Dika disini, aku yakin kalian tidak akan menyiksanya karena jika itu terjadi, kalian akan ku laporkan!" Mataku tajam melihat mereka satu persatu.
Jangan mereka pikir hanya mereka yang bisa membuat strategi mengatur setiap langkah hidupku dan Dika. Sekarang aku akan memerankan strategi yang ku rancang sendiri. Semoga mereka bisa mengikutinya dengan baik. Aku akan mengalah untuk menang.
"Berani sekali sekarang kau bicara!" Kak Yuni tampak marah. "Kami menyesal pernah membiarkan kau menikah dengan Wandi!"
"Seharusnya aku yang menyesal pernah membiarkan diri ini jatuh cita pada orang yang salah. Memilih hati yang tak pantas untuk berlabuh. Kakak tak pernah tau apa yang ku rasakan."
Pertahanan ku jebol, teringat kenangan buruk bersama Mas Wandi. "Kalian yang disini hanya mau mendengarkan dari sisi Mas Wandi saudara kalian. Pernahkah kalian sedikit ber empati karena kita sesama wanita?"
"Berulang kali ku mencoba mengajak kalian untuk berdiskusi, bagaimana mengatasi masalah ini. Tapi, hanya solusi sabar yang kalian tawarkan."
__ADS_1
"Maafkan aku, Mia!" Mbak Dewi mencoba memegang tanganku.
"Seharusnya Mbak bisa sedikit membelaku. Tapi, Mbak hanya diam saat semua orang menghujat ku."
Air mata mulai jatuh satu persatu di mataku. Mbak Dewi orang yang baik. Tapi, dia tidak bisa dijadikan tempat berlindung. Saat hinaan, kebohongan dan penyelewengan yang dilakukan Mas Wandi.
"Pergilah, jika kau memang tidak ada keinginan mengambil anakmu," tukas Mama mengusir ku.
"Aku ingin, tapi tidak sekarang. Karena aku akan membuat kalian mengembalikan Dika ku dan meminta maaf atas tuduhan yang pernah kalian ucapkan."
"Stop Mia! berani sekali kau mengancam orang tua ku," teriak Mas Indra.
Melihat ku yang mulai berdiri, Dika kembali mengejar dan memeluk. Sepertinya dia sudah mengintip dari tadi. Ku bawa Dika dalam pelukan kemudian aku berlutut sehingga kepala kami sekarang sejajar, "Dika disini dulu ya, Nak! Baik-baik jaga diri! Suatu saat nanti, kita pasti berkumpul lagi! Maafkan Mama yang tidak bisa mempertahankan Dika!" Air mata sudah memenuhi setiap rongga yang ada di mataku, hanya dalam satu kedipan dia jatuh bersamaan dengan isakan dari Dika.
"Dika ingin sekali kumpul sama Mama." isak nya.
"Mama juga, tapi sepertinya Allah belum mengizinkan kita berkumpul. Mama ikhlas Dika disini, bukan karena Mama gak sayang. Mama gak mau Dika dijadikan barang rebutan."
Dika menyapu air mataku yang terus turun.
__ADS_1
"Dika akan selalu berdoa, buat mama buat adek!"
"Iya sayang, Mama juga."
Ku cium pipi Dika berulang, adakah yang lebih pedih dari sakitnya hati seorang Ibu yang dipisahkan dari anak kandungnya. "Nanti mama akan sering kesini, karena mama sayang Dika." ucap ku pelan
Aku berdiri dengan air mata yang masih menetes. Melihat satu persatu ke wajah keluarga Mas Wandi.
"Mia minta maaf untuk kesalahan selama ini dan terimakasih untuk kebaikan yang sudah Mama berikan."
Aku pamit tanpa menoleh lagi ke belakang, membiarkan mereka melanjutkan hinaan dan cacian yang tadi belum sempat terlontarkan.
Bersambung....
•••••••••
Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.
Bantu like dan coment juga yaa ❤️💜
__ADS_1