Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.5


__ADS_3

Rumah berlantai dua, bercat hijau itu tampak gagah bersanding dengan rumah tetangga di kiri kanannya.


Tangisan Dika tidak lagi terdengar, hanya sisa isak an dan beberapa kali tarikan nafas dari hidungnya.


"Dika rindu Mama, Nek!" ucap Dika ke arah ku.


"Dika gak rindu Papa?" tanya ku pada Dika.


Anak lelaki putih yang wajahnya lebih banyak mirip Ibunya terlihat tak siap dengan pertanyaan yang kuberikan.


"Dika juga rindu Papa, rindu Mama dan rindu


adek juga," jawabnya sekarang suaranya sudah terdengar akan menangis kembali.


Ku usap kepala Dika, tahun ini usianya telah enam tahun, sebenarnya aku lelah harus kembali mengurus anak kecil, dengan umur yang hampir mencapai 60 tahun, sudah sepantasnya duduk bersantai bermain dengan cucu ku, tidak lagi mengasuh.


"Kalau Dika rindu Papa dan Mama, Dika harus ikut kata-kata Nenek, Dika mau kan Papa dan Mama bersatu seperti dulu?" ucapku sambil terus mengusap kepalanya.


Dia tampak menganggukkan kepalanya, "Dika mau pulang ke rumah Dika seperti dulu Nek," Jawabnya.


"Makanya Dika harus disini aja! sama nenek, kakek, Bang Ryan dan kak Rani, semua yang disini sayang Dika...."


"Mama juga sayang Dika," ucapnya memotong kalimatku.


"Iya.... Nenek tau, Nah kalau Dika disini, Mama pasti kangen, dan terus mau kembali sama Papa, Jadinya Dika bisa bersatu lagi sama Mama dan Papa."

__ADS_1


Semoga penjelasan sederhanaku, bisa membuatnya mengerti, aku tidak tau harus mengatakan apa lagi, yang ku sampaikan sesuai dengan permintaan Wandi agar aku bisa menahan dan menjaga Dika disini.


Dulu Wandi juga menyuruh ku merawat Ryan dan Rani berharap Cica istri pertamanya mau kembali menemui anak-anak dan kembali pada Wandi, ternyata tidak semudah itu, Cica hanya mau dengan anaknya tapi tidak dengan Wandi.


Aku heran dengan Istrinya Wandi baik Cica yang pernah dinikahinya pertama kali, maupun Mia yang sekarang masih berstatus sebagai istri Wandi. Apa kurangnya Wandi, anakku itu terlihat gagah dengan kulit putih dan hidung mancungnya, badannya tidak gemuk dan tidak terlalu kurus, tingginya pun sesuai dengan porsi badannya, pekerjaannya pun sebagai pegawai kantoran yang jadi incaran banyak orang, apalagi sekarang setelah naik jabatan, pasti dengan mudah dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dari istrinya sekarang.


"Nek, Dika lapar," ucap Dika memegang tangan ku.


"Nenek ambilkan ya!" sudah satu minggu ini Bu Nah yang biasa bantu di rumah izin, karena sakit asam uratnya kambuh, pekerjaan ku jadi bertambah banyak, apalagi semenjak Dika juga di ajak kesini, waktu istirahat ku hampir tidak ada lagi. "Mau Nenek suap in?"


Dika mengangguk setuju, biasanya Dika tidak manja, mungkin karena masih rindu Mamanya, biarlah untuk sementara aku harus bisa membuatnya betah disini.


Ku ajak Dika duduk di sebelahku, kemudian ku arahkan kursinya berhadapan, agar lebih mudah menyuapinya.


"Dika sering di suapi Mama?" tanya ku memancing obrolan tentang Mama nya.


"Oo berarti besok-besok Dika suap sendiri juga ya!"


"Iya Nek," jawab Dika sambil membuka mulutnya menerima suapan dari sendok di tanganku.


Aku mencoba memancing pertanyaan lagi untuk Dika, biasanya anak kecil jarang berbohong, "Waktu di rumah Dika, Papa dan Mama sering bertengkar ya?"


"Iya, Papa sering marahin Mama, Papa pulangnya malam terus, Mama marah tapi Papa balik marah." Dengan semangat Dika bercerita, "Kadang Papa gak ngasih uang ke Mama, jadinya Mama ngambil uang di celengan Dika untuk masak."


Berarti ucapan Wandi benar, bahwa Mia memang pencuri, mungkin saja Wandi lupa memberikannya uang, apa salahnya dia menunggu jika ingin belanja? Wandi pun ngasih uang tidak sedikit minimal 100 ribu, Wandi sering bercerita padaku.

__ADS_1


"Mama Dika mencuri?" sahut ku, bertanya pendapat Dika.


"Nggak Nek, Mama gak nyuri, Mama udah izin sama Dika," jawab Dika protes.


Dika belum mengerti, dia masih terlalu kecil, padahal seharusnya dia tau, perbuatan Mamanya itu tidak baik.


"Ya udah, Dika sekarang mandi ya, udah sore? bentar lagi Papa telpon."


Ku ambilkan handuk untuk Dika, ku panggil Rani untuk membantu Dika mandi,


"Rani, bantu Dika mandi ya! Nenek mau sholat Ashar."


Rani keluar dari kamarnya dengan malas, "Kenapa gak di kasih ke Mamanya aja sih Nek? nyusahin aja!" suara Rani terdengar kencang, seperti sengaja biar Dika mendengarnya.


Ucapan Rani ada benarnya, aku sudah terlalu tua untuk kembali di bebankan seperti ini, dulu waktu Ryan dan Rani ditinggalkan Mama nya, masih ada Kakak dan Adik Wandi di rumah ini yang mau membantu. Cuma aku tidak tega menolak Wandi, dia sudah terlalu menderita, karena istrinya.


"Nggak boleh bilang gitu Rani, Dika kan adik Rani juga," ucap ku sambil membantu Dika melepaskan bajunya.


Rani tidak menjawab lagi, dia menarik tangan Dika menuju kamar mandi. Aku pun segera ke kamar untuk menunaikan sholat Ashar.


Setelah sholat, ku doakan Wandi mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya, aku kasihan melihat nasibnya, sudah dua kali menikah dan nasib pernikahan nya hampir sama, kandas karena ditinggalkan istri. Istri Wandi memang tidak ada yang tau berterima kasih. Apalagi Mia hanya tamatan SMP bukan pula orang kaya, masih untung aku mau menjadikannya menantu, sekarang dia bertingkah pula, jual mahal saat Wandi ingin mengajaknya rujuk.


**********


Bantu like dan rate5 yaa

__ADS_1


makasih 💜❤️


__ADS_2