
Setelah makan siang, kami duduk bersama sambil menonton televisi, ku lihat semua anak dan keponakan Mas Wandi selalu asyik memainkan benda pipih di tangan mereka.
"Wah! hape baru nih!" ku tanya pada Rani, dari kemaren ingin ku tanyakan, tapi tak pernah ada kesempatan.
"Iya dong Ma, bagus kan!" jawab Rani memperlihatkan hapenya.
Ku lihat benda pipih itu, entah keluaran berapa? seri berapa? aku tak mengerti, tapi kalo di lihat barang itu terlihat mewah, apalagi di tangan seorang anak SMA.
"Seingat Mama, waktu itu rasanya bukan yang ini kan hape Kakak?" aku bertanya pada Rani, sengaja aku panggil kakak untuk membiasakan panggilan pada Dika.
"Iya Ma, ini kan baru di belikan Papa, aku minta uangnya" jawab Rani polos.
"Hape lama Kakak mana?"
"Itu sama Indah, Rani menunjuk Indah "Hapenya itu sering kepenuhan memori, lambat pula gak enak kalo main game dan simpan foto," ujar Rani.
"Ooo, ya udah, Mama masuk kamar dulu ya, mau menidurkan Kiyah,".
Aku memilih menidurkan Kiyah, mereka masih sibuk dengan hapenya.
"Ma, Papa pulang jam berapa sih?" tanya Rian.
"Coba di telpon aja, kalo biasanya, kadang makan siang ini udah pulang sebentar untuk makan," jawabku dari dalam kamar.
"Udah di telpon Bang Rian, tapi belum di angkat Ma" kali ini Indah yang ikut bicara.
"Oh ya, tunggu aja, mungkin masih di jalan," sahut ku.
"Oke Mama," jawab mereka.
"Mama menidurkan Adek Kiyah dulu ya, jangan berisik," kataku dari dalam kamar.
"Siap Ma," Dika yang menjawab lucu.
__ADS_1
Di dalam kamar
Kiyah sudah mulai tertidur, aku meluruskan pinggang yang benar-benar sakit, sejak di rumah ini ramai, Kiyah memang lebih banyak di gendong, aku tak bisa membujuknya, dia memang seperti ketakutan melihat keramaian, mungkin karena tidak terbiasa ku ajak keluar, hanya sesekali ke warung.
Aku termenung, Mas Wandi baru saja membelikan hape baru untuk Rani, sedangkan aku masih pakai hape jadul pemberiannya sebelum menikah. Sudah lama aku ingin punya hape pipih itu, untuk melepas rindu pada keluargaku, kalau menumpang di hape Mas Wandi, dia sering kesal karna menganggu keasyikannya bermain game.
Ayah sering video call menanyakan kabar ku dan melihat keceriaan Dika, keinginan ku untuk punya hape seperti Rani semakin kuat.
*******************"
"Hei bangun,"
Aku terkejut, ternyata Mas Wandi sudah pulang.
"Iy-ya Mas," jawab ku gugup, mungkin tadi aku tertidur.
"Kalo udah tidur, susah banget dibangunin, kayak kebo aja," dia berlalu, meninggalkan sakit hatiku atas ucapannya.
****************
"Jadi dong, ayoo siap-siap," ajak Mas Wandi pada mereka.
"Aku ikut kan Mas?" tanyaku, aku ingin sekali pergi jalan-jalan, sudah lama Mas Wandi tak pernah mengajak kami lagi.
"Terserah," hanya itu jawabannya. Aku tak peduli apa artinya, aku ikut menyiapkan semua keperluan.
Kiyah dan Dika sudah ku pakaikan baju terbaik mereka, makan dan minum untuk bekal di jalan juga telah beres di dalam kotaknya.
******************
Kami berangkat menuju tempat rekreasi di kota ini, di sini lebih banyak tempat rekreasi buatan, tidak seperti kota kelahiran ku, yang semuanya alami. Walaupun buatan, tidak mengurangi keindahannya, aku tetap suka, anak-anak juga, terlihat mereka asyik berfoto, sesekali mereka mengajak ku.
Berfoto menggunakan hape, semakin menambah keinginanku untuk memilikinya, pasti seru jika ku gunakan untuk menyimpan foto-foto anak-anak. Mengabadikan setiap tingkah lucu mereka.
__ADS_1
Mereka masih asyik berfoto, Mas Wandi juga masih sibuk memainkan hapenya. Aku mencari tempat yang bisa ku duduki, melepas Kiyah dari gendongan. Ku keluarkan bekal yang telah ku bawa, ada nasi lauk ayam goreng untuk Kiyah yang tadi siang belum sempat ku suapi.
"Hei baru jalan sebentar, udah kelaparan, kayak kebo aja," Mas Wandi menghampiri kami, ntah mungkin ingin bergurau, tapi aku sudah terlanjur sakit hati atas ucapannya.
"Ini untuk Kiyah Mas, dia tadi belum makan," ku jawab walaupun mungkin dia tidak butuh jawaban.
Mumpung Mas Wandi ada disini, aku ingin memintanya membelikan hape seperti yang dimiliki Rani.
"Mas, hmmm," panggilku takut.
"Ada apa?" dia melihat tajam ke arahku, mata Mas Wandi memang tajam, dulu aku menyukai mata itu, tapi sekarang mata itu membuatku ketakutan melihatnya.
"Aku ingin di belikan hape seperti punya Rani," kuberanikan diri, kami jarang bisa mengobrol ini kesempatanku.
"Untuk apa?" Mas Wandi bertanya.
"Aku ingin video dan fotoin anak-anak, pasti seru," sahut ku.
"Kan bisa pake hape aku!" Mas Wandi menjawab hal yang sudah ku duga.
"Kamu kan sering gak di rumah kalo siang Mas, sedangkan mereka sedang lucu-lucunya di siang hari itu," aku masih membujuknya.
Ku biarkan Kiyah naik ke pangkuannya, Mas Wandi memeluk Kiyah, semoga saja ia luluh dan mau mengabulkan keinginan ku yang sederhana ini.
...................................................
Aku terus mencintaimu, saat kau hanya memberikan luka, aku sudah mempersembahkan raga berbalut rasa penuh cinta!!!!...
****************
**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.
Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali ππΎππΎππΎ.
__ADS_1
Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπ€π€***.