Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.11


__ADS_3

Happy reading semoga suka ❤️💜


°°°°°°°


Pagi hari ini udara sangat sejuk, aku bangun dengan perasaan malas, tidurku belum puas semalam, karena banyaknya hal yang melintas di pikiranku. Tapi, aku harus bangun cepat menunaikan sholat subuh sebelum Ayah pulang dari Masjid, menyiapkan sarapan dan mencuci pakaian, setelah itu aku harus membangunkan Kiyah dan memandikannya. Ibu akan tersenyum menerima Kiyah saat ku titipkan, karena tidak ada lagi berpikiran untuk pekerjaan rumah yang telah ku selesaikan.


Tin...Tin...


Bunyi klakson motor, padahal aku belum pesan ojek.


"Siapa Bu?" tanyaku pada Ibu yang lebih dulu keluar melihat siapa yang datang.


"Cowok, katanya nyari Mia!" jawab Ibu sambil menoleh ke belakang.


Masih menggendong Kiyah ku menuju ke pintu depan. Di depan sudah ada laki-laki yang masih menggunakan helmnya berusaha memarkirkan motornya di halaman rumah Ayah.


"Hai, Assalamualaikum," sahutnya sambil melepaskan helm dari kepalanya.


"Waalaikumsalam, Septian!" kataku kaget, waktu Tian mengantarku malam itu hanya sampai gang, darimana dia tau rumahku, "Kok bisa tau rumahku?"


"Waktu itu aku membuntuti mu dari belakang, hahahah....maaf ya!"


Ujung gang dari rumah ku tidak terlalu jauh, pasti Tian juga bisa melihat rumah yang ku masuki dari dalam mobil. "Hahaha...gak apa," sahut ku.


"Ini Kiyah, ya?" ucap Tian berusaha memegang tangan Kiyah, Kiyah yang mulai bisa berjalan bersembunyi di belakangku, malu... dia tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya.


"Kamu gak kerja?" Ku lihat jam sudah pukul 07.40, seharusnya jam 07.00 Tian sudah berada di kantornya.


"Udah, habis absen pagi, langsung kesini ingin menjemputmu!" ucap Tian sambil tersenyum menampakkan giginya yang berbaris rapi. "Belum pesan Ojek kan? Nanti aku dicuekin lagi kayak kemaren!" ucap Tian pura-pura sedih.


Aku tersenyum melihat mukanya yang cemberut lucu. Sedangkan Kiyah mulai mengintip, menunjukkan rasa sukanya pada Tian yang memainkan mimik muka lucu pada Kiyah.


"Sebentar ya aku titip Kiyah pada Ibu!"


Aku masuk ke dalam, mencari Ibu yang nampak sudah bersiap dengan teh ditangannya untuk disuguhkan pada Tian.


"Ibu, Mia mau berangkat, titip Kiyah ya! kalo ada apa-apa Ibu telpon aja Mia!"


"Ini teh nya! kasih tamunya dulu!" ucap Ibu.

__ADS_1


"Gak usah Bu, kami buru-buru, maaf ya Bu!"


Ku cium tangan Ibu, aku tak ingin mengenalkan Tian padanya, biarlah nanti malam ku ceritakan siapa Tian. Ibu Tiri ku, itu sudah banyak berubah semenjak masing-masing kami berumah tangga, dia tidak pernah lagi, cemburu atau marah-marah tidak jelas pada adik-adikku, kami sudah seperti keluarga kandung sekarang.


"Ayoo!" ajak ku pada Tian.


"Ibu mana? Biar aku pamitan dulu!"


"Sudah aku pamit kan sekalian," sahutku sambil tertawa.


Tian memberikan helm yang sudah disiapkannya, helm yang cocok dipakai seorang cewek.


"Ayo naik!" sahut Tian dari atas motornya.


Aku duduk menyamping dibelakang Tian. Agak susah, karena motor besar Tian membuatku harus termiring menahan badanku.


"Jangan menyamping! lurus aja!" sahut Tian.


Lama aku berpikir, jika duduk lurus seperti itu, otomatis badanku akan menempel ke punggung Tian, ada perasaan tidak enak.


"Buruan Naik! kalau kamu kebanyakan mikir trus terlambat, gaji mu aku potong! ucap Tian serius.


Aku duduk menghadap punggung Septian, berpegangan dengan bagian belakang jaketnya.


"Pegangan yang benar, nanti jatuh!" sahut Tian.


"Ini udah!" ucap ku.


"Pegangan tu disini," ucap Tian mengambil tanganku dan meletakkan di pinggangnya. "Siap-siap ya! aku mau ngebut nih."


"Aku turun aja! gak berani kebut-kebutan."


Sebenarnya itu alasan yang aku buat, ada rasa tidak enak, jika harus berpegangan pada pinggang Tian, pasti tetangga dan orang yang melihat, berpikiran yang tidak baik tentangku, status yang tertulis aku masih istri sah Mas Wandi, walaupun kenyataan telah setahun aku ditelantarkan tanpa nafkah apapun.


"Hehehe...bercanda, aku tidak ngebut kok! kita jalan ya!"


Tian tidak lagi memaksaku memegang pinggangnya, dia mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sehingga, Kami sampai di gudang Tian, terlambat 10 menit dari seharusnya. Wira sudah menunggu di pintu depan, dia tidak punya kunci untuk masuk.


"Pantesan terlambat, ternyata kencan dulu ya!" ucap Wira menggoda kami. Dia tersenyum ke arah Tian, aku merasa tidak enak jadinya.

__ADS_1


"Kencan apaan? ke rumahnya hanya boleh di depan pintu, gak dikasih minum pula!" ucap Tian tertawa.


"Di rumahku gak ada air minum, adanya air sumur, hihihi..." ucapku tertawa kecil dan membuka kunci pintu.


Aku langsung masuk ke dalam, Tian meletakkan motornya di samping gudang, sedangkan Wira mengambil kunci mobil dan mulai memanaskan nya.


Kami akan sibuk hari ini, ada 15 Ball barang yang akan masuk, gudang kecil ini akan terasa sempit, Tian berencana pindah jika kontrakan ini habis mencari tempat yang agak besar biar lebih lapang.


"Kamu darimana? tadi aku ke kantor kamu nya tidak ada, kesini belum buka!" ku dengar suara Wulan dari luar, wajahnya yang putih tampak merah.


Dia datang dengan mobil sedan putih yang elegan, menggunakan baju kaos yang sedikit menggantung di bagian perutnya, celana jeans robek di bagian lutut menambah manis penampilan nya, jika aku laki-laki aku pasti menyukai Wulan. Cantik dan kaya. Tapi, kenyataanya aku wanita yang menyukai Tian, laki-laki yang juga disukai Wulan.


Aduuh ... padahal malam tadi aku sudah berjanji, menghilangkan perasaan ini pada Septian. Tapi, kenapa dia hadir pagi ini? apakah ini jawaban atas pikiran ku malam tadi, bahwa dia adalah jodoh ku.


"MIiAAA" hilangkan pikiranmu, cukup bermimpi nya. Aku menggeleng kan kepala, menolak pikiran aneh yang muncul tiba-tiba di otak kecilku ini.


"Aku dari rumah teman," ucap Tian.


Kulihat matanya memberi kode pada Wira. Tian tidak ingin Wulan tau bahwa tadi dia menjemput ku. Wira tidak mau ikut campur, dia kembali melanjutkan membersihkan bagian dalam mobil. Mobil yang digunakan untuk operasional gudang.


"Mia dirimu tidak dianggap oleh Tian, jadi jangan kege-eran." Pikiranku kembali beraksi, dia kembali menolak pilihan hatiku, 'dia benar!' tidak seharusnya aku terlalu bermimpi menganggap Tian menyukaiku.


Wulan masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Tian.


"Temannya cewek atau cowok? ngapain pagi-pagi udah kesitu?" pertanyaan menyelidik terus diucapkan Wulan.


"Udah ah, yuk masuk kedalam! malu didengar orang."


Tian mengajak Wulan untuk masuk ke ruangannya.


Langkah kaki Wulan terdengar berat, memaksakan diri mengikuti perintah Tian.


Buru-buru aku menghentikan acara mengintip ku dan kembali menyibukkan diri membersihkan setiap sudut yang ada di gudang ini.


Bersambung....


•••••••••


Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.

__ADS_1


Bantu like dan coment juga yaa ❤️💜


__ADS_2