
happy reading semoga suka ❤️💜
•••••••
Hari minggu ini aku berencana akan kembali mendatangi rumah Mama. Berharap mereka sudah mau berbaik hati mempertemukan Aku dengan Dika. Dua minggu bukanlah waktu yang sebentar untuk tidak bertemu anak. Ku belikan makanan kesukaan Dika. Martabak keju manis, walaupun agak susah mencarinya di waktu pagi.
Kepada Ayah dan Ibu ku katakan ada lembur di gudang Tian. Karena Ayah pasti akan melarang, jika tau aku akan kembali kesana. Mendengar cerita perlakuan mereka membuat Ayah selalu sedih. Dika adalah cucu pertama bagi Ayah, sedangkan Dika bagi mereka adalah cucu yang kesekian, pasti akan berbeda rasa sayangnya. Itu yang selalu jadi pikiran Ayah, jika Dika ditelantarkan di sana.
Aku pilih menaiki angkutan umum saja, terasa lebih hemat daripada naik ojek online. Uang ku sudah menipis sedangkan gajian masih satu minggu lagi. Jarak rumah Mama dari rumahku cukup jauh, perlu dua kali berganti angkutan umum.
Akhirnya Aku sampai di rumah ber cat hijau itu. Banyak kendaraan terparkir di halaman. Sepertinya mereka sedang berkumpul. Inilah rutinitas di keluarga Mas Wandi yang tak bisa ku lupakan. Mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul, karena masing-masing sudah punya rumah sendiri, kehadiran mereka sangat dinantikan Papa dan Mama.
Ada ketakutan sebenarnya, ingin berbalik....
Tapi, cuma ini kesempatan ku, hari lain aku harus bekerja tidak enak harus izin dengan Tian, jika menggunakan waktu bekerja untuk masalah keluarga. Aku harus berani. Harus....
Bismillah....ku bulatkan tekad untuk melangkahkan kaki ke depan pintu.
"Assalamualaikum."
Suaraku mantap memberi salam. Semua mata beralih melihatku, yang berdiri mematung di depan pintu.
"Waalaikumsalam," hanya ku dengar suara Mbak Dewi menjawab salam, yang lain hanya saling bertatapan. Malah adik Mas Wandi yang paling kecil memilih masuk kamar.
Mbak Dewi menyambut ku dengan wajah yang tersenyum seperti biasa. Walaupun terasa kaku ku rasa, "Apa kabar, Mia? Kiyah mana?" tanya mbak Dewi seraya mengajakku masuk.
Ragu-ragu aku berjalan, mataku melihat setiap mata yang seolah menelanjangi. "Alhamdulillah baik, Mbak. Kiyah dengan Ibu di rumah." Aku berjalan digandeng Mbak Dewi, "Mbak, kapan sampai?"
__ADS_1
"Tadi malam, kamu kapan ke sana lagi? Mainlah ke rumah Mbak."
Aku hanya tersenyum. Kota yang penuh kenangan. Luka yang ditorehkan nya terlalu sakit, hingga mengenangnya saja bisa membuatku lara. Biarlah ini tetap jadi kenangan takkan ku biarkan kembali terulang.
Ku dekatkan Mama yang dari tadi memandang ke arahku. Dia mencoba bersikap manis, berbalik seratus delapan puluh derajat dari sikapnya dua minggu lalu. Mungkin dia tidak enak dengan Mbak Dewi, menantu kesayangannya. Ku ambil tangannya yang mulai keriput, sudah lama tangan itu tak ku sentuh, tangan yang dulu selalu ku cari meminta doa restu setiap hendak pergi. Ku cium dengan hormat punggung tangannya, semoga dengan ini dosa kami saling berguguran.
Aku tak ingin bertanya kabarnya, ku lihat sepertinya dia baik-baik saja. Pasti dia lebih bahagia bertambah cucu yang ada di rumahnya. Tapi kerut di wajahnya aeilah memberi tanda, bahwa dia tidak baik-baik saja. Bisa saja dia menderita bertambah lelahnya harus kembali mengurus Dika. Aku tak perduli, dia yang ingin menahan Dika demi ego anak laki-laki kesayangan nya.
Ku lihat Dika berlari dari lantai rumah mama. Badannya terlihat kurus dari biasanya, "Mama...." Teriaknya sambil memelukku.
Tubuh mungilnya, bersembunyi di dalam pelukan, erat seperti takkan bisa dilepaskan lagi. "Dika rindu Mama. Mama kenapa gak pernah ke sini lagi?"
Apa yang harus ku jawab. Tidak ingatkah dia, dua Minggu yang lalu aku harus menjerit, meronta ingin menemuinya, tapi tak ada seorang pun yang perduli. Ketika Dika memilih untuk tinggal di sini daripada ikut pulang, tak ingatkah dia? jawaban yang diberikan nya saat itu berbekas selalu di pikiran. Tapi, anakku tidak salah pasti ada hasutan sehingga tanpa sadar dia melukai hati ini.
"Maaf ya mama baru sekarang kesini. Mama juga kangen Dika, makanya sekarang Mama cari kerja di tempat yang lebih bagus. Biar Mama punya duit untuk ajak Dika pulang."
"Mama sekarang kerja dimana?"
"Mau Ma...."
Terlihat wajah riang Dika yang berseri.
Neneknya yang ada di depan kami pun ikut menyela, "Dika kan sekolah! Belum bisa ikut Mama. Nanti ibu gurunya marah."
Ucapan Mama membuat ciut nyali Dika.
"Iya Ma, nanti aja tunggu Dika libur ya!"
__ADS_1
"Iya, gak apa, nanti kalau Dika libur aja." balasku, membelai rambut Dika yang mulai panjang.
Mataku menatap Mama yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Tapi, ini bukan soal menang kalah. Aku mengalah demi kebahagiaan Dika. Menjaga perasaan nya yang bagai buah Simalakama. 'Dimakan Ayah mati, tidak dimakan Ibu yang mati.'
"Dika main lagi sama bang Rehan ya! Mama mau bicara sama nenek sebentar. Nanti kalau udah, Mama panggil Dika lagi!"
Ku lepaskan Dika dari pelukan. Karena ada hal penting yang ingin ku bicarakan. Umur Dika masih terlalu kecil untuk memahaminya. Dika berlari setelah mencium dua pipiku.
Mataku kembali menatap Mama dan menatap setiap mata yang pura-pura tidak melihatku lagi. Saudara kandung Mas Wandi hampir semuanya berkumpul disini, Sayang sekali Mas Wandi tidak pulang kali ini. Sehingga dia tidak bisa mendengar secara langsung apa yang akan ku sampaikan.
"Mama, Kak Yuni, Mas Indra, Mbak Dewi dan semuanya yang tidak bisa Mia sebutkan satu-persatu. Tujuan Mia datang kesini hari ini, tidak akan lagi menangis meminta Dika untuk pulang."
Tampak keterkejutan dari semuanya. Menurut tebakanku mereka merasa menang tanpa pertandingan, pasti sangat tidak enak sekali. Tidak ada tontonan, adegan menangis yang akan ku perankan kali ini. Jeritan ku sepertinya sudah mereka harapkan. Tapi, mereka akan kecewa karena takkan ku biarkan mereka menjadikanku sebuah hiburan.
"Maksud Mia?" tanya Mbak Dewi.
"Dari awal aku udah yakin, selama ini dia hanya pura-pura sedih dipisahkan dari anaknya. Padahal dia pasti senang anaknya ada yang ngurus," cibir Kak Yuni.
Mama hanya Diam, sepertinya dia menyesal telah menahan Dika selama ini. Menjadikan Dika sebagai umpan. Tapi, aku enggan memakan umpanku. Kecewa terlihat di wajahnya yang tak bisa disembuyikan.
"Maafkan aku! Mungkin Keluarga ini akan lebih lama mengurus Dika. Pasti kalian kecewa tidak berhasil menjadikan Dika sebagai umpan, untuk membuat aku kembali pada Mas Wandi."
Semua tampak terkejut mendengar kalimat yang ku ucapkan.
Bersambung....
•••••••••
__ADS_1
Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.
Bantu like dan coment juga yaa ❤️💜