Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Rumah baru kami


__ADS_3

Gadis kecilku benar-benar membawa kebahagian dan rezeki buat kami. Mas Wandi ditawarkan naik jabatan di kantornya, walaupun baru setahun disitu pimpinan melihat kinerja mas Wandi yang bagus. Mas Wandi jika tidak ber ulah, memang terkenal dengan keuletan dan kedisiplinan dalam bekerja. Aku sebenarnya lebih senang mas Wandi jadi karyawan biasa dulu sampai dia benar-benar sudah berubah, tapi penawaran tidak akan datang dua kali, mas Wandi ingin tetap menerima jabatan itu.


**********


Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, papa dan ayah balik ke rumah mereka, hanya mama yang tetap disini membantu ku merawat Kiyah kecil, aku belum terbiasa untuk memandikannya, mama banyak membantu ku dalam merawat Kiyah. Mama tinggal sementara di kontrakan kami.


Melihat kontrakan ini semakin kecil, mama mengajak mas Wandi untuk mencari rumah subsidi, setiap sore mama dan mas Wandi ber keliling mencari perumahan baru bangun yang harganya disesuaikan dengan gaji mas Wandi. Walau katanya gaji mas wandi sudah naik sejak punya jabatan, tapi aku tetap tidak tau jumlahnya, jatah harian ku masih 50rb sehari, biarlah yang penting mas Wandi masih setia di rumah.


"Rumahnya udah dapat." Mas wandi berkata sambil mengambil Kiyah dari gendonganku


"Iya, rumahnya bagus, take over dari pembeli yang batal," mama menjelaskan.


"Daerah mana mas?" tanyaku


"Perumahan Menara Raya, kamu gak akan tau juga kalo dibilangin," mas wandi berkata tanpa menoleh lagi ke arahku.


Mereka berdua telah memutuskan membeli rumah itu tanpa pernah mengajakku diskusi, aku juga tidak diberitahu berapa harganya, siapa yang bayar atau apapun hal lainnya. Cat rumah pun sesuai dengan keinginan mas Wandi, Tirai rumah juga dia yang membeli, aku benar-benar tau beres, tinggal pindah dan angkut barang.


Mas Indra dan Mbak Dewi membantu kepindahan kami, dengan berat hati ku tinggalkan rumah kontrakan itu, aku sudah sangat nyaman dengan suasananya, tetangga yang baik hati dan ringan tangan membantu kami. Semoga Rumah baru nanti tidak jauh berbeda dengan rumah kontrakan ku.


"Cie....cie...yang pindah rumah baru," mbak dewi menggoda ku.


"hhaha... Alhamdulillah Mbak."

__ADS_1


"Harganya berapa Mia?" tanya mbak dewi


"Gak tau mbak, semuanya mama dan Mas Wandi yang urus, aku disuruh tinggal beres aja," ada pilu yang ku rasakan, aku sama sekali tak masuk hitungan dalam rumah yang akan aku tempati.


"Oooo....." mbak dewi tidak bertanya lagi mungkin dia melihat raut sedih di wajahku.


******************


Sejak Mas Wandi punya jabatan, dia mulai sibuk rapat dan bertemu relasinya, dika tidak lagi di ajak jalan sore, sehingga dika mulai protes ke mas Wandi.


"Papa kok gak pernah ngajak dika jalan lagi?" protes dika.


"Papa kan sibuk cari uang untuk Dika dan Adek." Jawab mas Wandi


"Tapi Dika mau jalan-jalan lagi!" Dika tetap berusaha membujuk papanya


"Benar ya pa, nanti kita beli mobil, kayak mobil Bang Rehan." Bang Rehan anak mas Indra, dika suka sekali kalo di ajak jalan pakai mobil itu.


"Kita beli yang lebih bagus," sifat sombong mas wandi mulai muncul.


Dika berteriak kegirangan.


*******************

__ADS_1


Mama akan kembali setelah hampir sebulan di rumah kami, mama dan mas Wandi sangat dekat sekali, mas Wandi bisa berjam-jam jika sedang bercerita dengan mama. Mama sepertinya sangat menyayangi mas Wandi, kata mama dulu waktu kecil mas Wandi sering sakit.


"Bang Rehan nanti dika mau beli mobil," dika pamer ke rehan, keluarga mas Indra datang akan mengantarkan mama ke terminal bus.


"Oh ya, bagus don," Rehan menjawab sekenanya


"Iya, kata papa lebih bagus dari mobil Bang Rehan."


Aku yang mendengarnya menjadi tidak enak dengan mbak dewi.


"Iyalah, kan dika sekarang udah kaya." Mbak dewi menjawab sambil tersenyum.


"Iya papa sekarang banyak uang karna udah rajin kerjanya," dika masih melanjutkan ceritanya.


Semoga saja mbak dewi tidak begitu menanggapi.


Mas Wandi yang izin karna mau mengantar mama cuma diam saja sambil merokok.


"Mama pulang dulu ya Mia, kamu harus banyak sabar menghadapi Wandi, banyak-banyak lah mengalah, harus sabar contohlah dewi, dia tidak pernah bertengkar dengan Indra." Mama selalu membandingkan aku dengan mbak dewi.


"Iya ma, Mia akan selalu sabar, hati-hati di jalan ya ma! makasih," ku cium tangan dan pipi mama.


Mas Indra sekeluarga mengantarkan pakai mobil mereka, sedangkan mas Wandi tetap bermotor mengikuti di belakang karna nanti bakalan langsung menuju kantornya. Dika yang ingin ikut dilarang mas Wandi, akhirnya dia menangis keras membangunkan adiknya.

__ADS_1


*****************""


Kalau suka, tolong di rate, like dan verikan vote nya yaa, terimakasih reader 💜💜


__ADS_2