Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Hiburan untuk Dika


__ADS_3

Selamat membaca, semoga sukaβ€οΈπŸ’œ


*************


Sekarang hari minggu, tapi ku lihat Mas Wandi, sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.


"Mas, sesekali ajak dong kami jalan-jalan! sudah lama Dika gak pernah mandi bola," rayu ku pada Mas Wandi.


"Iya Pa, udah lama Dika di rumah aja sama mama dan adek," ucap Dika sambil memegang tangan Papanya.


"Papa hari ini di suruh masuk, ada tugas mendadak dari kantor," jawab Mas Wandi.


"Tiap hari kerja, sama sekali gak punya waktu buat kami," keluhku.


"Kalo aku banyak duit, kan kamu juga yang senang."


"Aku harus senang gimana?? sejak kamu naik jabatan, aku gak pernah naik uang belanja, hidupku tetap aja gini-gini terus, malah lebih sengsara dari aku gadis, dulu aku masih punya gaji, bisa ngasih Ayah, bisa beli baju sendiri, bisa nabung, aku tambah sengsara di nikahin kamu." Rutuk ku pada Mas Wandi.


Muka Mas Wandi tampak memerah menahan marah,


"Kamu tu yang gak bisa bersyukur!! udah punya rumah bagus, bisa naik mobil, zaman gadis kamu punya GAK!???"


"Rumah dan mobil semua atas nama kamu, lalu aku harus bersyukur untuk APA??? untuk punya suami pelit dan kasar MACAM KAMU HAAHH???"


Ku tumpahkan kesal ku, dengan teriakan, aku tak ingat ada anak-anak yang harus ku selamatkan bathin nya. Saat Dika dan Kiyah, mendekat memeluk, aku tak bisa lagi menahan air mata, ku peluk mereka, hanya mereka yang membuatku kuat dan bertahan.


"Maafkan Mama, semoga ini tidak terulang lagi."


"Mama kalian memang tidak pantas di contoh," ucap Mas Wandi sambil melangkah pergi.


"KAMU itu sebagai Bapak yang gak pantas DICONTOH!!!"


Aku kembali berteriak, lupa pada janjiku. Ku tumpahkan air mata di pelukan Dika, semoga kelak ia, tak seperti Ayahnya.


......... ...............


Kriiiingg...... Kriiiingg.....


Hape jadul ku berbunyi nyaring, cepat ku hapus air mata yang masih bersisa walaupun tak terlihat, aku ingin suaraku tetap terdengar tegar. Ada panggilan dari Mbak Dewi.

__ADS_1


"Mia, kamu hari ini keluar gak?" tanya mbak Dewi dari seberang telpon.


"Gak mbak, kami gak kemana-mana,"


"Mau temani mbak?"


"Kemana Mbak?" tanya ku.


"Mau ngajak Rehan main, biasanya dengan Mas Indra, tapi kerjaannya belum beres, jadi gak bisa temani kami deh," jawab Mbak Dewi.


"Pas sekali mbak, Dika juga pengen main, cuma Papanya sibuk terus, udah lama Dika gak ku ajak keluar," sahut ku riang.


"Oke sipp itu. Jadi, nanti mbak jemput ya!" ucap mbak Dewi.


Namun, teringat Mas Wandi membuat ku kembali takut untuk pergi,


"Tapi mbak,..."


"Tenang...nanti mbak yang bayarin."


Padahal bukan itu yang ku takutkan, kalau soal bayar aku yakin mbak Dewi akan sigap mengeluarkan uangnya.


"Oohh, kalo itu nanti biar Mas Indra yang telpon dia, pasti di izinkan, kan perginya sama mbak juga," hibur Mbak Dewi.


"Iy-yya mbak, aku ikut aja,"


"Pokoknya kamu sekarang siap-siap, setengah jam lagi mbak sampe."


Mbak Dewi menutup telponnya.


"Dika nanti kita di ajak Bunda Dewi dan bang Rehan main mandi bola, Dika senang gak?" tanyaku pada Dika.


"Senang Ma, Dika mau, Dika mau, Ma!" Dika melompat kegirangan.


Diciumnya Kiyah berkali-kali, terlihat wajah senang juga dari adeknya. Akhirnya Pucuk dicinta Ulam pun tiba, mungkin itu pepatah yang cocok saat ini.


Ku siapkan pakaian Dika dan Kiyah, susu, air minum dan cemilan kecil nya tak ketinggalan.


Kotak donat titipan di warung, nanti saja sore ku jemput. Semoga hari ini habis kembali seperti kemaren.

__ADS_1


.........................


Dika sudah tak sabar menunggu mbak Dewi.


"Ma, Bunda Dewi jadi gak ajak kita?, kok belum datang?"


"Sebentar lagi, Dika sabar dong!" bujuk ku pada Dika.


Tak lama, terdengar klason mobil Mbak Dewi, Dika berteriak kegirangan.


"Ayooo Ma!" ajak nya tak sabar.


"Sebentar mama kunci pintu dulu."


"Maaf ya, tadi mampir isi bensin, ternyata ngantri," ucap Mbak Dewi tanpa ku tanya.


Di dalam mobil Dika ikut bernyanyi dari musik anak-anak yang di putar mbak Dewi, sudah lama tak ku lihat Dika se gembira ini.


"Kita ke Mall Angkasa aja yaa!" ajak mbak Dewi.


"Kami ikut aja Bundaa," sahutku menirukan Dika.


Mall angkasa berada di pusat kota ini, aku pernah ke situ, bersama mas Wandi, karena ingin mengajak Rian dan Rani nonton di bioskop mall itu. Di sebelah bioskop, ada tempat permainan anak-anak, Dika pernah merajuk ingin ke situ, tapi mas Wandi melarangnya, dengan alasan sedang terburu-buru harus pulang.


Sekarang impian Dika main disitu akan diwujudkan Mbak Dewi, aku bisa membayangkan kebahagian dari wajah Dika nanti sesampai disana.


*****************


Di tempat permainan


"Mama, ini tempat dulu kita nonton sama papa kan? waktu ada bang Rian dan kak Rani? disini Dika pengen main, tapi wak itu papa gak boleh," wajah Dika sedikit cemberut.


"Kan sekarang udah bunda ajak, Dika gak boleh sedih lagi, main sana sama bang Rehan," hibur Mbak Dewi.


.......................


**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.


Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ.

__ADS_1


Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπŸ€—πŸ€—***.


__ADS_2