
Berbulan-bulan setelah aku meninggalkan rumah Mas Wandi dan pulang ke rumah Ayah, aku telah mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga toko aksesoris ponsel. Dengan gaji yang lumayan cukup untuk membiayai hidup kami bertiga, untuk makan aku masih menumpang Ayah dan Ibu.
Siang ini tanpa memberitahu sebelumnya, Mas Wandi datang ke rumah Ayah bersama Mama dan keluarga besarnya.
"Kami ingin menjemput Mia," ucap Mama setelah sebelumnya berbasa-basi.
"Kami menyerahkan semua keputusan pada Mia," jawab Ayah.
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, cinta pada Mas Wandi masih sebesar dulu, tapi kali ini ada benci yang juga hadir untuknya. Membayangkan sakitnya perlakuan nya selama ini, bukan pertama kalinya dia minta maaf dan berulang kali melakukan kesalahan yang sama berulang kali.
Keegoisannya karena selalu dimanja orangtuanya membuatku hanya seperti pembantu baginya,
"Gimana Mia?" pertanyaan Mama membuyarkan lamunanku.
"Mia ingin berpikir dulu Mama," ucapku, yaa...kali ini aku harus memikirkan masa depanku, sudah cukup keputusan cepat yang pernah ku berikan ternyata resiko nya menyakitkan
"Mia.... Mas minta maaf, Mas janji akan berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik," Mas Wandi melirik ke arahku.
Tatapannya kembali membuat cinta yang pernah ku perjuangkan hadir lagi, "Beri aku waktu Mas!"
Dika yang sejak Papanya datang tidak pernah beranjak dari pangkuannya, Kiyah juga selalu minta digendong Mas Wandi, mungkin mereka merasakan rindu yang sama.
Mas Wandi dan keluarganya pamit pulang, Dika menangis ingin ikut Papanya. Aku mengizinkan dengan syarat besok harus diantar kembali.
*******
Malamnya aku tidak bisa tidur, belum pernah aku berpisah dengan Dika, walaupun dia aman bersama Papa dan Neneknya, tapi perasaanku tetap saja tidak enak tanpa Dika.
Ku beranikan menelpon Mas Wandi,
"Mas, aku mau ngomong sama Dika, boleh?" ucapku setelah Mas Wandi mengangkat telpon ku.
"Dika udah tidur," ucap Mas Wandi.
"Baik Mas, udah dulu ya!" ucapku dan akan mematikan teleponku.
"Mia....tunggu, jangan matikan dulu," sahut Mas Wandi.
__ADS_1
"Ada Apa Mas?" aku menebak apa yang akan disampaikan nya.
"Aku besok akan ngantar Dika jika kamu mau kembali menerimaku, jika tidak aku nggak akan kembalikan Dika ke kamu."
Deg....
Ternyata Mas Wandi masih belum berubah, dia tetap seorang egois yang selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku benar-benar harus memutuskan hal yang pantas untuk hidupku.
Malam ini, suara indah dari jangkrik dan burung malam, tidak juga mengantarkan ku untuk tidur, tapi aku sudah tau apa keputusan yang telah ku ambil dan besok akan ku sampaikan.
********
Hari telah sore, gerimis sejak pagi membuat udara sangat sejuk dan tenang, tapi tidak dengan hatiku, perasaan cemas dan menunggu kedatangan Dika yang akan diantar Mas Wandi dan keluarganya.
Mereka belum juga datang, padahal janji siang akan mengantarkan Dika.
"Assalamualaikum."
Menjelang magrib mereka baru sampai, Dika memeluk ku, dia terlihat senang, banyak mainan yang di pegang nya.
"Dika main sama adek Kiyah ya, adek udah kangen abangnya tuh!" ucapku sambil menunjuk Kiyah yang terlihat senang melihat abangnya Dika.
Mama dan keluarga yang lain melihat ke arahku, sepertinya tidak sabar menunggu keputusanku.
"Terimakasih Mama dan semuanya yang sudah datang ke rumah ini, Mia sudah memikirkan masak-masak keputusan terberat yang Mia pilih,"
"Lama...." Mas Wandi memotong ucapanku, Mama mencoba menahannya.
Keputusanku semakin mantap, "Mia belum mau kembali sama Mas Wandi."
Semuanya terdiam, Papa Mas Wandi tidak banyak bicara, hanya Mama yang terlihat berbisik dengan Mas Wandi, wajah marah Mas Wandi melihat ke arahku. Tapi, aku tidak lagi takut seperti dulu.
"Aku tidak akan pernah menceraikan mu!" ucap Mas Wandi, "Kamu tidak akan pernah ku biarkan menikah dengan orang lain."
"Aku menolak mu saat ini bukan karna aku akan sudah ada penggantimu, aku hanya ingin kamu benar-benar berubah Mas, kalau ku lihat kau telah berubah, aku akan kembali padamu," sahut ku.
"Kamu kira aku sudi?" ucapnya sambil berdiri, "Aku mau bawa Dika."
__ADS_1
"Tidak boleh, kamu kan kerja siapa yang akan jaga Dika?" aku mulai menangis.
"Mama yang akan jaga," jawab Mas Wandi, tanpa rasa kasihan, padahal dua anak sebelumnya Rian dan Rani sudah diasuh Mama sampai besar sekarang.
Dia masih saja mementingkan egonya, ku lihat Mama hanya diam pasrah. Sikapnya yang terlalu memanjakan anak menjadi bumerang baginya.
"Dika mau ikut Papa kan?!" tanya Mas Wandi lembut sekali pada Dika.
"Mau, tapi Mama ikut kan?" Dika melihat ke arahku. Ku geleng kan kepala, mataku mulai berair. "Dika gak mau, kalau Mama gak ikut." dia melanjutkan main bersama Kiyah, dia belum mengerti kondisi yang terjadi saat ini.
"Dika ikut Papa lagi ya! besok Papa antar," Mas Wandi masih berusaha membujuk Dika.
Ku lihat Dika mengangguk, aku tak bisa melarangnya.
"Janji ya Mas besok diantar! Besok Dika akan daftar SD," sahut ku.
Mas Wandi tidak mengacuhkan ucapan ku, dia berlalu menggendong Dika, tanpa permisi lagi pada Ayah dan Ibu, hanya Mama dan Papa yang pamit bersalaman dengan ku dan Ayah.
**********
Besoknya Mas Wandi tidak mengantarkan Dika, sudah ku coba telpon, tapi tidak diangkat dan langsung di blokirnya. Lusanya aku mendatangi rumah Mas Wandi, mereka sekeluarga tidak mengizinkan ku masuk, ku lihat Dika mengintip di jendela, memanggil namaku.
Aku berteriak, memanggil nama Dika, mengapa mereka tega, aku menangis dan memohon. Akhirnya Mama keluar,
"Pulanglah! Dika sudah kami daftarkan sekolah disini," Mama menemui ku di luar.
"Ma .....kumohon izinkan Dika tinggal dengan ku," aku memohon padanya.
"Kamu tak akan bisa menghidupinya, untuk makan saja masih bergantung dengan Ayahmu," ucapan Mama menghantam dada, sakit sekali
Aku tak lagi menangis tapi sudah meratap dan memohon, agar mereka mau mengembalikan Anakku.
"Pergilah, jangan bikin malu keluarga kami!"
Mama masuk ke dalam dan membanting pintunya.
Prraakkk.....
__ADS_1
Bunyi pintu yang terbuat dari kayu mahal yang harganya mungkin sepertiga harga rumahku saat ini, menambah rasa sakit di dada. Aku coba gedor-gedor, tapi suaranya tak berarti, ku lihat Dika sudah dijauhkan dari jendela, tangannya menggapai seperti ingin menjangkau ku.
"Ku mohoooon....kembalikan anakkuu.... Mamaaa...." tangis ku, apa mereka mendengarnya???