
Happy reading semoga suka ❤️💜
••••••••
"Sampai jam berapa kamu akan berdiri disini? Sebentar lagi hujan. Sana masuk mobil." Suara Tian terdengar berat. Aku melihat ekspresinya. Sepertinya Tian tidak ingin di bantah saat ini.
Aku begitu bingung. Harus menuruti kata-kata Tian atau tidak. Sementara di dalam mobil ekspresi Wulan tampak kesal.
Awan hitam mulai menutupi terangnya sinar matahari. Gelap...sebentar lagi hujan akan turun. Akhirnya tawaran Tian untuk masuk ke mobil aku terima dengan perasaan tak menentu.
Tian membukakan pintu bagian belakangnya, mempersilahkan aku naik. Setelah memastikan aku duduk, dia kemudian menutup pintu mobilnya. Aku memandang ke luar jendela, awan hitam tampak mengikuti perjalanan kami.
Tes....tes...
Satu persatu air hujan jatuh sebelum akhirnya deras. Awan seperti tidak sanggup menampungnya hingga ia membiarkannya jatuh tanpa terbendung.
Tian membelokkan mobilnya ke sebuah warung bakso, "Hujan...hujan gini enaknya makan bakso. Kita makan dulu yuk!"
"Jangan disini donk. Tempat yang lain aja!" tukas Wulan. Warung sederhana ini mungkin bukannya level Wulan untuk makan.
"Aku gak berani lanjutkan perjalanan. Hujannya makin deras. Susah lihat jalan."
Tian tetap memasuki area pekarangan warung bakso, dia memarkirkan mobilnya. Mencari tempat terdekat dari pintu masuk. Setelah di rasanya pas. Ia mematikan mesin mobilnya.
"Ayo turun...Mia ada payung di bagian belakang. Tolong ambilkan ya!" pinta Tian.
Aku menoleh ke belakang, terlihat payung besar berwarna merah. Ku ambil dan serahkan pada Tian.
"Aku disini saja," ucap ku.
"Kamu harus ikut makan. Sebentar... aku antar Wulan, setelah itu jemput kamu."
Tian keluar dari mobilnya, kemudian membuka payung dan berjalan ke arah pintu mobil Wulan. Mereka berpayung menuju pintu masuk. Tian kembali berbalik akan menjemput ku. Dia membuka pintu yang ada di sebelahku.
__ADS_1
"Ayo Mia!"
"Aku udah makan. Aku di mobil aja ya!" sahut ku.
Melihat ketusnya Wulan ke arah ku. Membuat rasa lapar hilang. Lebih baik aku memilih berdiam di mobil saja.
"Aku gak ngizinin kamu di mobil. Kamu harus ikut makan," Paksa Tian, "Kalau kamu gak mau makan. Aku juga nggak." Tian mematung di depan pintu mobil.
Hujan masih sangat deras. Angin meniup kencang payung yang di pegang Tian. Membuat nya harus berpegangan erat agar tidak terlepas.
Wulan tampak mengatakan sesuatu, tapi kami tidak dapat mendengarnya. Aku mulai kasihan melihat Tian yang mulai basah. Akhirnya aku mengiyakan dan berduaan di bawah payung yang di pegangin Tian, menuju warung bakso.
"Kalau gak mau, kenapa di paksa sih!" ketus Wulan
”Kesini nya sama-sama. Makannya juga harus sama-sama,” ucap Tian.
Wulan lalu melengos dan menggandeng tangan Tian menuju meja pilihannya, sedangkan aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Meja yang dipilih Wulan hanya untuk dua kursi. Aku sadar diri memilih meja sendiri di belakang mereka. Ternyata Tian malah mengambil satu lagi kursi dan memindahkannya di mejanya.
”Duduk sini!” ajak nya.
“Aku mau makan Mie Ayam,” ucap Wulan memandangku sinis.
“Kamu mau makan apa?” tanya Tian padaku, “Jangan sate ya! Disini gak ada...” ucap Tian sambil tertawa.
Aku ikut tertawa mendengar lawakan dari Tian. Di warung bakso ini tidak mungkin juga aku akan memesan bakso.
“Aku bakso aja, tanpa mi.”
“Oke, aku juga bakso.”
“Apaan sih? Disamakan gitu, norak banget.”
Wulan memperlihatkan ketidaksukaan nya padaku. Dia memainkan ponselnya dengan kesal. “Tian, nanti malam Papa ngajak makan malam di rumah. Kamu gak lupa kan?” ucap Wulan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Tian.
__ADS_1
Tian nampak tidak enak padaku. Dia mencoba bergeser sedikit. “Bajuku basah, Wulan.” Tian memberikan alasan, saat Wulan memonyongkan bibirnya kesal.
“Iya, tapi nanti malam jangan lupa ya! Habis makan ini antar aku pulang. Aku mau siap-siap ketemu kamu nanti malam.” Wulan memandang Tian yang tampak jengah, lalu dia mengalihkan padangan sinis nya padaku.
Wulan sengaja membuatku tau diri untuk hubungannya dengan Tian. Sepertinya mereka berpacaran, tapi mengapa Tian seperti tidak menyukai keadaan ini. Ada rasa terpaksa di setiap anggukannya meladeni permintaan dan ucapan Wulan.
Pesanan datang memutus adegan mesra yang sengaja di pertontonkan Wulan di hadapanku. Tanpa melihat ke depan, aku menunduk menghabiskan basko yang ada dihadapan ku.
“Jangan buru-buru!” ucap Tian tertawa.
“Lapar,” ucapku acuh, menutupi kegugupan melihat kemesraan mereka.
Dalam sekejap bakso di hadapanku habis. Aku izin ke belakang, untuk sholat zuhur, sambil menunggu Wulan yang makan dengan santainya.
Setelah bertanya pada yang punya warung, aku menuju bagian belakang warung yang dijadikan mushola kecil warung ini. Toilet ada di samping musholla. Tempatnya sangat bersih aku sangat suka melihat suasananya, apalagi hujan yang belum reda menambah syahdu suasana. Hanya ada dua orang disini kami berpapasan dan saling melempar senyum.
Setelah selesai sholat, ku panjatkan doa untuk kebahagian Dika. Mengingatnya di penghujung sholat adalah kebiasaan yang kini selalu ku rasakan. Teringat senyumnya yang selau tulus untukku. Walau kadang Dika ku jadikan tempat pelampiasan marah, saat kecewa dengan Mas Wandi. Tanpa terasa air mata mengalir dari mata. Air mata rindu dan penyesalan.
”Mia, sudah selesai sholatnya?” tanya Tian mendekat ke arahku.
Disampingnya ada Wulan yang terus menggandeng Tian.
Dengan cepat ku hapus air mata sebelum terlihat oleh mereka,
“Udah,” jawabku sambil membuka mukena, melipatnya dan meletakkan di tempat semula.
“Aku tunggu di mobil ya!”
Tian melangkahkan kakinya meninggalkan musholla ini. Aku dengan cepat menyusulnya, tidak enak membuat mereka menunggu.
Bersambung
•••••••••
__ADS_1
Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.
Bantu like, koment ya biar author semangat nulisnya 🤗