Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
MENYERAH


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka💜❤️


***


Dika seperti mendapat suntikan energi, dia mencoba semua permainan tanpa rasa lelah. Aku yang membantu Kiyah untuk bermain, tak sanggup lagi mengikuti Dika. Rehan lebih suka permainan menyusun balok, Mbak Dewi bisa menemani Rehan sambil bermain hape, jadi tidak terlalu capek. Akhirnya ku biarkan Dika bermain sendiri dan dengan kawan barunya, aku memilih istirahat, sambil terus mengawasinya.


Dari jauh aku melihat, seseorang yang memakai baju persis sama dengan yang dipakai Mas Wandi tadi pagi. Mata ku yang agak sedikit rabun untuk melihat jauh, terus memperhatikan sampai orang itu melewati arena permainan ini.


"Mas Wandi."


Aku berharap Dika tidak melihat papanya,


"Mama, itu papa, lihat Ma! panggil Papa, Ma!, PAPAAAA!!" Dika berteriak kencang memanggil papanya.


Duagaanku salah, Dika ternyata juga sudah melihatnya.


Beruntung arena permainan ini di kelilingi kaca tebal, sehingga Mas Wandi tidak perlu mendengar teriakan anaknya. Semua orang kaget mendengar lengkingan suara Dika, tapi aku lebih kaget dengan apa yang ku lihat tadi.


Mas Wandi berjalan dengan seorang wanita, tangan wanita itu begitu mesranya menggandeng lengan suamiku, mereka berjalan menuju bioskop yang hanya bisa ku masuki, jika anak-anak suamiku datang.


Wanita yang pernah kulihat beberapa kali menelpon video, tapi selalu dibilang teman kerja oleh Mas Wandi. Bodohnya aku, yang selalu bisa dibodohi nya. Jantung ku seolah berhenti berdetak, tak terdengar lagi teriakan Dika yang masih terus memanggil papa nya.


"Mia...Mia....,Miiaa," Mbak Dewi berteriak sambil menggoncang tubuhku.


Tubuh ini terasa kaku, entah panggilan ke berapa aku baru bisa menyadarinya. Semua mata melihat ke arah kami, aku tak peduli apa yang ada di pikiran mereka.


"Mbaakk,..." Ku peluk Mbak Dewi minta kekuatan.


Mbak Dewi mengajakku ke sudut arena permainan ini.


"Cerita lah, mbak akan dengar!"


Aku tak mampu berkata saat ini, ku biarkan air mata yang terus jatuh. Lelaki yang sering menyakiti raga dan jiwa ku, ternyata juga menyakiti pernikahan ini. Dia suamiku, yang pernah ku pertahankan, walau kebohongan besar pernah ia sembunyikan.


"Kita pulang aja mbak," ajak ku pada Mbak Dewi.


"Baik lah! Rehan, Dika ayoo kita siap-siap pulang!" Mbak Dewi memanggil Rehan dan Dika yang memang sudah berhenti bermain.


Dika tidak melepaskan pegangannya.


***


"Kita mampir disini dulu yuk!" ajak mbak Dewi saat kami melewati sebuah restoran cepat saji.


"Gak usah mbak! aku ingin pulang aja," tolakku halus.


"Kita minum aja, gak makan kok," ucap Mbak Dewi.


"Bunda, Rehan lapar!" seru Rehan.


"Dika juga!"


Aku mengalah dengan ego, kami masuk ke ruangan ini, ku pilih pojokan yang bisa menopang badan letih ku.


"Aku ingin menyerah!"

__ADS_1


"Bunda, kenapa papa Rehan pegangan dengan tante itu?" ucapan Rehan mengejutkan Mbak Dewi.


Mbak Dewi tidak melihat persis saat Mas Wandi melewati kami. Mungkin dia hanya melihat sedikit saat Mas Wandi hampir memasuki ruangan bioskop. Jadi tidak terlalu jelas bagi Mbak Dewi.


"Mungkin itu bukan Papa Dika," jawab Mbak Dewi mengalihkan pertanyaan.


"Iyyaa bunda, Dika jelas melihat itu papa. Iya kan ma!!"


Air mata yang telah ku tahan, kembali turun.


"Apa kurang ku mas? ku terima semua perlakuan dan kata-Kata kasar mu, ternyata ini balasannya!"


"Miaa, ayoo minum dulu,"


"Apa salah ku mbak???? Dia melarang ku bekerja aku ikutin, dia melarang ku menemui keluarga ku, aku iya in, aku ikuti dia ke kota kecil ini, biar kami bisa jadi keluarga bahagia, kenapa kebahagiaan itu bukan milikku Mbakk???"


Mbak Dewi hanya bisa diam, lalu memeluk ku. Tumpah kembali air mata ini, hati ku sakit, jiwaku sakit, raga ku sakit, semua menjadi satu di pikiran.


****


"Aku ingin nginap di rumah mbak, boleh?" pintaku pada mbak Dewi.


"Kalau dalam suasana biasa mbak dengan senang hati, Mia. Tapi sekarang, dalam suasana seperti ini, sebaiknya jangan!" Mbak Dewi menolak ku halus.


"Baik, Mbak."


Ku bantu Dika turun dari mobil Mbak Dewi.


"Maafkan Mbak, sebaiknya kamu selesaikan dulu masalah mu dengan Wandi, jangan lari dari masalah," ucap Mbak Dewi.


"Makasih mbak."


Mbak Dewi belum bisa jadi pelindung ku.


***


Jam 1.30 malam, bunyi suara mobil Mas Wandi


Dengan segera, ku seduh kopi sachet kesukaan Mas Wandi, ku masak mie rebus yang menjadi favorit nya saat malam, ku hidangkan di meja tempat biasa ia main hape dan nonton. Aku akan bicara baik-baik dengannya.


"Tadi Mas pergi kemana?" tanyaku.


Setelah ku biarkan dia duduk 10 menit. Aku tak sabar lagi, mendengar kebohongan apalagi yang akan di ucapkannya untuk membodohiku.


"Cuma di kantor," jawabnya singkat.


"Aku tadi lihat kamu Mas, bergandengan dengan wanita, yang sering kamu bilang teman, kamu tadi nonton kan?"


Mas Wandi tampak kaget, tapi dia kembali menjawab santai.


"Kamu salah lihat kali!"


"Jujur saja Mas, mungkin aku bisa koreksi diri, dimana salahku sebagai istri?"


"Dia teman kantorku, anaknya pintar dan seksi gak kayak kamu, kamu gak akan bisa menyamai nya!" jawaban Mas Wandi, bagai palu yang menghantam dada.

__ADS_1


****


Mas Wandi semakin tidak memperdulikan kami, pulang hanya sebentar. Ada saja kesalahanku yang membuatnya marah, dia bilang makanan ku keasinan, baju yang tak pantas ku pakai, anak-anak yang selalu rewel minta perhatian, semua menjadi masalah besar baginya.


Setiap kemarahannya datang, tak segan kata talak pun ia lontarkan. Tetangga pun sudah berulang kali menjadi saksi amukannya. Begitu tak berharganya diriku baginya. Untuk apa rumah tangga ini dipertahankan jika hanya memberi luka dan aku tidak dianggap siapa-siapa.


Aku juga tidak ada semangat lagi untuk jualan, berapa kali Mbak Dela datang memberi semangat untuk bangkit, tapi aku tak lagi peduli.


Mas Wandi dengan mudahnya menyebut kata cerai, aku tak lagi diam atau lari, aku menantangnya, membalas setiap pukulan yang ia berikan, kami tidak lagi seperti suami istri, aku tak lagi menjadi Mia yang penurut, aku selalu ingin berteriak jika melihatnya.


Keluarga Mas Wandi selalu membelanya jika aku mengadukan kelakuannya. Aku lelah selalu diceramahi Mas Indra dan Mbak Dewi untuk selalu mengalah pada suami, Mama semakin membandingkan aku dengan Mbak Dewi.


Mereka tidak melihat dari posisiku.


Mas Wandi selalu menjelekkan ku pada keluarga dan teman-temannya, aku selalu dibilang boros, dibilang aku pencuri uangnya, tidak bisa mengurus rumah tangga. Kejelekan yang di karangnya supaya aku kehilangan orang yang bisa membela.


****


"Mia, kamu gak bisa terus-terusan begini, bangkitlah Mia."


Mbak Dela kembali datang, setelah Mas Wandi pergi meninggalkan perang rumah tangga kami.


Rumah ini tak lagi rapi, barang-barang di dalam rumah ini menjadi sasaran lemparan Mas Wandi, karena tidak bisa mengenai ku.


"Aku gak sanggup lagi Mbak."


Ku curahkan tangis ku di pelukan mbak Dela, tangis yang ku tahan di hadapan mas Wandi.


Hanya mbak Dela yang masih setia menghiburku, di saat banyak tetangga melihat sinis ke arahku.


"Sekarang lalukan apa yang terbaik menurutmu, Mia."


Ku tatap kosong mata Mbak Dela, aku sudah tau jawabannya, jawaban yang akan membuatku bahagia lagi.


"Aku akan pergi mbak," tangis ku kembali membuatku terisak.


"Kamu serius, Mia"


"Iya Mbak, aku menyerah!"


Ku bereskan pakaian dan barang yang ku beli dari hasil jerih payahku, tak satupun pemberian Mas Wandi yang ku ambil, hanya satu koper, termasuk baju Kiyah dan Dika di dalamnya.


Dibantu Mbak Dela, aku telpon travel yang bisa menjemput pulang ke rumah orangtua ku, tempat Mas Wandi pernah memohon ingin menjadikan aku istrinya.


Air mata ku biarkan saja terus jatuh, aku tak berniat lagi menghapusnya, biarlah dia menjadi saksi aku pernah berada disini, di siksa lahir bathin oleh suami sendiri.


Ku peluk erat Mbak Dela hanya dia satu-satunya yang melepas ku pergi.


"Semoga kita bisa bertemu di suasana yang berbeda mbak,"


"Mbak Mia harus bangkit, kembalilah jadi Mia yang semangat dan murah senyum," ucap mbak Dela, sudah lama aku tak bisa lagi tersenyum menutupi sakit ku.


"Bantu doa ya Mbak! semoga ini jalan terbaik buat kami."


Ku kunci semua pintu rumah ini dan ku lempar se jauh ku bisa, aku tak memerlukannya lagi.

__ADS_1


"Aku telah salah memilih hati. Aku menyerah, aku kalah, ku biarkan engkau jadi pemenangnya."


TAMAT


__ADS_2