Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.26


__ADS_3

Happy Reading semoga suka❤️💜


Jangan lupa like dan komentarnya ya, biar author makin giat menulis 🤗😘


***


Setiap sore akan ada seorang pelanggan setia yang selalu berkunjung. Hanya memesan secangkir kopi setelahnya dia seolah tak peduli dengan kesibukan si pemilik kafe. Mia bukannya tak tau, jika ada sepasang mata yang selalu melihat langkahnya. Tapi, ia tak merasa ini suatu gangguan.


"Ini kopi tambahan untuk pelanggan setia!"


"Dapatkah aku minta bonus yang lain?"


"Kira-kira bonus apakah yang tuan minta?"


"Maukah si pemilik kafe ini berkenan sekedar mengajakku bicara."


Jangan tanya debaran, dia sudah pernah coba hilangkan.


Mia duduk di depan pelanggannya. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak perlu bicara resmi begitu, Mia. Apakah kau sekarang bahagia?"


"Ya, seperti yang kau lihat!" Mia melebarkan senyumnya.


"Aku tak melihat suamimu, dimana dia?"


"Eh-Apa?"


"Aku tak pernah melihat suamimu. Kau tak pernah kembali padanya kan? Kenapa kau bohongi hati?"


"Eh-itu. Bagaimana kabar Wulan?"


Mia mencoba mengalihkan pertanyaan Tian. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Kami baik-baik saja. Sebentar lagi Wulan kesini. Langsung tanya saja kabarnya."


"Oo-oh. Aku ke dalam saja ya! Jika Wulan sampai, sampaikan saja salam ku."


"Kenapa tidak sampaikan sendiri?" Suara riang dari seorang wanita terdengar jelas olehnya.


"Wulan?!"


Kemunculan Wulan yang tiba-tiba cukup membuat Mia kaget. Padahal dia ingin pergi sebelum kedatangan Wulan. Wulan yang masih kelihatan sama, memeluknya mencium pipi kanan kiri Mia, bagai seorang yang telah lama kehilangan sahabatnya.


"Jangan menjauh dariku, kau bilang kita sahabat. Apakah patut seorang sahabat menjauhi sahabatnya."


Wulan kemudian mengajak Mia duduk di sebelah Tian. "Kamu tau apa yang terjadi setelah kamu pergi?"


Mia hanya menggeleng kan kepala nya, karena dia sama sekali tidak ingin mencari tau. Nomor hapenya pun telah digantinya, agar ia bisa lebih fokus melangkah.

__ADS_1


"Sampai sekarang Tian tidak memperdulikan usahanya. Beruntung ada Wira yang masih setia membantunya. Tian hanya fokus mencari keberadaan mu."


Wulan meminum kopi yang tadi diberikan Mia sebagai bonus pelanggan. "Aku sebenarnya bisa saja tidak peduli. Tian sudah kembali untukku. Tapi, untuk apa? Jika hanya raga nya saja milikku, sedangkan hatinya tetap untukmu."


"Aku tidak ingin sebodoh mu dulu Mia, pura-pura bahagia. Merasa dicintai padahal orang itu tidak peduli. Aku minta Tian jujur saat itu, dia tidak pernah mau mengatakan siapa cintanya, akhirnya Wira yang membuka rahasia."


"Sekarang kembalilah pada Tian. Karena aku juga sudah sadar, Selama ini aku butuh teman bukan butuh kekasih."


Mia tidak menyangka banyak hal terjadi karena ulahnya. "Aku tidak pantas untuk Tian. Kalian tau siapa aku? Hubungan ini juga akan berakhir tidak jelas. Aku tidak mau memulai nya."


"Hei... jangan pesimis gitu dong. Kamu sekarang tak sendiri, kami siap bantu." Wulan masih dengan sifat ceria memberikan semangat nya buat Mia.


"Pertama kita akan urus perceraian mu, sekaligus hak asuk anak. Aku punya Om seorang pengacara, soal biaya biar aku yang atur. Kamu tinggal siapkan semua berkasnya."


"Aku cuma punya fotokopi surat nikah, yang asli ditahan mertua, eh mantan mertua."


"Tenang saja, semua bisa diatur."


Wulan tampak bersemangat menjelaskan semuanya. Sedangkan Tian lebih banyak diam, hanya sesekali tampak mengangguk.


"Makasih Wulan. Kamu memang seorang sahabat."


Mia memeluk Wulan erat. Dia tidak menyangka semua terasa tampak mudah dari sini.


***


Satu minggu kemudian Wulan sudah datang dengan Om Ridwan seorang pengacara.


"Maaf ya aku baru sempat kesini!" sahut Wulan.


"Gak apa Lan, kamu bisa datang aja aku udah senang." Mia menyambut pelukan dari Wulan. "Duduk di dalam yuk! Sebentar aku siapkan minum."


Tidak lama kemudian Mia telah datang membawa secangkir kopi untuk Om Ridwan dan jus Mangga kesukaan Wulan.


"Mia, ini Om Ridwan yang bisa bantu kamu ngurus perceraian dan hak asuh anakmu."


Mia tersenyum ke arah Om Ridwan, "Makasih ya Om, Maaf nanti akan merepotkan Om. Mohon bantuannya." Mia menyatukan dua tangannya ke bawah dagu.


Om Ridwan membalas tersenyum, "Gak apa Mia, ini udah tugas Om sebagai pengacara. Biar gak memperpanjang lagi, om akan menjelaskan apa saja yang harus Mia siapkan. Pertama harus ada KTP dan KK, Surat Nikah, Akte kelahiran anak dan surat menyerahkan kuasa kepada pengacara, tapi untuk ini biar om yang urus."


"Tapi Om, Wulan lupa kasih tau, surat nikahnya Mia ditahan Mantan mertuanya. Itu gimana Om?" tanya Wulan.


Om Ridwan tampak memikirkan sesuatu, "Mia masih punya fotokopiannya?"


"Masih Om," jawab Mia.


"Nah dengan itu Mia bisa mendatangi KUA tempat kalian pernah mencatatkan pernikahan, minta duplikatnya. Katakan yang sebenarnya, nanti mereka akan buatkan duplikatnya."


"Makasih Om, Mia akan segera mengurusnya."

__ADS_1


"Aku akan temani kamu," sahut Wulan menawarkan diri.


"Makasih ya Lan. Satu lagi Om, Gini... Akte kelahiran anak yang aslinya juga ditahan mertua. Mia hanya sempat pegang yang fotokopian, itupun hanya Akte-nya Dika, waktu ngurus masuk TK."


Mia mulai menampakkan wajah pesimisnya. Sepertinya akan banyak yang urusan yang harus diselesaikan, sebelum masalah ini masuk ke pengadilan agama.


Om Ridwan melihat wajah sedih Mia, ada perasaan tidak tega ia rasakan. "Untuk itu biar Om bantu, akan Om tanyakan dengan pihak pengadilan."


"Besok tugas Mia urus duplikat buku nikahnya ya! Mungkin Wulan bisa menemani."


"Sekitar tiga hari lagi Om kesini, siapkan semua berkasnya dan akan langsung Om daftarkan ke pengadilan agama."


Wulan dan Mia mengangguk bersamaan. Wulan memegang tangan Mia memberikannya kekuatan.


"Mana nomor hape nya!" pinta Wulan tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Mia curiga.


"Ya... untuk menghubungi kamu lah. Emangnya aku harus ngirim surat kalo ada perlu apa-apa!" pekik Wulan.


"Oh iya-ya.... hihihi!" tawa Mia. "Nih!" katanya memperlihatkan hapenya yang tertulis nama dan nomornya disitu, dengan cepat Wulan mencatatkan ke hapenya.


Setelah itu dia dan Om Ridwan permisi pulang.


***


[Assalamualaikum, Mia.]


Terlihat pesan masuk di hapenya, sebuah nomor dengan profil wajah seseorang yang sekarang tidak pernah lagi datang ke kafenya.


[Aku dapat nomor hape mu dari Wulan]


[Gimana urusannya?]


[Maaf aku belum bisa berkunjung]


[Aku tidak ingin terlalu ikut campur, biar tidak terjadi kesalahpahaman di keluarga mantan suamimu]


Mia membaca satu-persatu pesan yang masuk ke nomornya masih dari orang yang sama. Kemaren dia sempat bertanya kenapa Tian tak hadir lagi disini? ternyata inilah jawabannya.


[Waalaikumsalam, Tian]


[Alhamdulillah, tadi siang kami baru saja dari KUA mengurus duplikat surat nikah]


[Doakan semuanya lancar ya!


Agar statusku jelas dan hak asuh anak jatuh ke tanganku]


Mia membalas semua pesan dari Tian. Setelah mengaminkan harapan dari Mia, mereka tidak lagi saling berbalas pesan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2